Baudelaire, Toko Buku Alternatif di Salatiga

Browse By

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.” – Milan Kundera

Dalam dunia literasi Indonesia saat ini, masyarakat telah dibanjir oleh ribuan buku, mulai dari berbagai novel, sastra, buku teori dan sebagainya yang dirasa telah cukup menghiasi dunia perbukuan di Indonesia. Berbicara soal konten dalam suatu buku, terutama di dalam literasi Indonesia, dapat dikatakan hanya segelintir dari buku-buku yang beredar di Indonesia yang memiliki konten “menggigit”, mengkritisi, dan memberikan sebuah prespektif lain dalam cara pandang pikir pada umumnya. Disinilah peran dari buku-buku alternatif dalam memberikan warna baru diantara lautan perbukuan di Indonesia. Buku alternatif yang memang lawas, bekas, dan langka bukan termasuk dalam barisan buku-buku yang popular seperti berlabelkan “best seller”  di toko-toko buku umumnya. Namun mereka mampu memberikan nilai yang berbeda dari cara pandang mainstream masa kini. Lebih tepatnya, buku-buku alternatif memiliki unsur yang sangat mengkritisi dari suatu pandang tertentu, yang benar-benar berbeda dari buku-buku populer.

Gerry menceritakan sejarah berdirinya Baudelaire. | Dok.scientiarum.com/David Adhyaprawira

Gerry menceritakan sejarah berdirinya Baudelaire. | Dok.scientiarum.com/David Adhyaprawira

Namanya Baudelaire, sebuah toko buku yang berdiri di Jalan Kauman (depan Burjo), Salatiga kurang lebih sebulan ini,  memberikan jawaban atas pertanyaan tentang buku alternatif. Didirikan oleh Gery Sulaksono pada tanggal 15 Oktober 2016, sebelumnya sudah aktif menjual buku-buku alternatif di lapak online.

Berawal dari kesukaannya pada literature ideologis, dia menjadi “keranjingan” membeli buku di masa bangku kuliahnya. Gery telah mengoleksi banyak buku-buku alternatif. Kegiatan mengoleksi buku ia lakoni sejak tahun 2004. Pada tahun 2004 hingga 2015, lapak buku menjadi booming terutama di dunia maya. Beberapa lapak buku mulai bermunculan dengan menggunakan media seperti Facebook, blog, atau website. Gery sendiri kemudian tertarik untuk membeli buku secara online di tahun 2013 dan buku berjudul Doktor Zhivago menjadi pilihannya.

Dalam perkembangannya, Gery yang awalnya hanya sekedar membeli, mulai merasa tertarik untuk mencoba menjual koleksi-koleksinya yang rata-rata buku-buku yang sudah cukup rare dan old di masa kini. Buku-bukunya sendiri didominasi oleh genre sastra, filsafat, dan sosial politik, mendapatkan respon positif. Untuk melengkapi koleksinya, Gery pun bekerja sama dengan beberapa orang yang memiliki passion yang sama untuk membuka dan menyandang status sebagai “Arkeolog Buku”. Para pemburu buku-buku yang ditelan oleh debu dan waktu dihadirkan kembali dimasa kini melalui lapak online-nya. Facebook menjadi pilihan Gery sebagai media lapak online-nya dikarenakan caranya yang praktis, dan mampu menghemat waktu.

Tepat sebulan ini, Gery memberanikan diri untuk membuka toko offlinenya, dan baru menurukan seribu buku. Tentu buku-buku alternatif yang didapat tidak semua adalah koleksinya, tetapi juga beberapa titipan dari rekan-rekannya untuk dijual (kongsinyasi), juga buku-buku alternatif yang Gery dapatkan kebanyakan berasal dari Jogja.

Gery sempat membuat sebuah karya tulis yang berjudul “Lapak Online sebagai Budaya Tanding”, isinya mengenai kesenjangan yang terjadi antara buku-buku alternatif dengan buku-buku popular, sebab buku-buku alternatif yang notabene lawas tidak mendapat ruang dalam toko buku besar yang punya nama, yang pada akhirnya sulit untuk ditemukan. Keadaan tersebut diperparah dengan rendahnya budaya literasi di Indonesia. Buku-buku tersebut seakan akan terlahap oleh waktu. Dikutip dari “Lapak Online sebagai Budaya Tanding”, buku-buku alternatif yang lawas pun beberapa diantaranya mengalami represi dan vandalisme seperti ditolak peredarannya, dan dibakar karena mengandung unsur paham ‘kiri’ dan akhirnya tersisih. Namun dengan adanya peran lapak buku alternatif itu, buku-buku tersebut dikembalikan lagi eksistensinya.

Tujuan Gery sendiri untuk menghadirkan buku-buku alternative di Salatiga adalah memudahkan bagi mereka-mereka (pencari literature) untuk memperoleh buku-buku yang bermutu dan bernilai dengan harapan, Baudelaire mampu menciptakan ruang baru dalam literasi di Salatiga. Di sisi lain, Baudelaire berfungsi sebagai penyatu rindu bagi pencari literature atau sastra dengan karya-karya yang telah dilahap waktu seperti karya Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, DN Aidit, Tan Malaka, Semaoen, H Misbach, sampai Soekarno.

Kehadiran lapak buku alternatif menjadi eksistensi nyata untuk melawan lupa. Melawan lupa yang dimaksudkan adalah tetap memberi kehadiran buku-buku lawas dan hampir terlupakan kembali ke jajaran buku yang perlu dilestarikan. Gery mengatakan bahwa ada kewajiban untuk mengingat karya-karya yang terlahir dan menghidupkan ingatan sosial akan sastra yang mulai terkikis akibat dari kontraproduktif dari hakikat buku itu sendiri.

Evan Pratama, mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Staf Bisnis Scientiarum.

Redaktur: Axel Priya Mahardika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *