Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Pecel Madya, Tetap Eksis dan Legendaris

Rubrik Ragam/Wisata oleh

Bukan sekedar kota agrowisata, Salatiga juga memiliki deretan wisata kuliner yang sangat menarik untuk dikunjungi. Selain enting-entingnya yang tersohor serta berhasil menembus pasaran manca negara, masih ada kandidat kuliner tradisional lain khas Salatiga. Sebut saja tumpang koyor, gempol pleret, keripik paru, abon, ronde, dan juga masakan berkomposisi sayur-mayur seperti pecel yang tak kalah memanjakan lidah para penikmatnya.

Sekitar jam 12 siang, saya mungunjungi warung pecel milik Mulyani, akrabnya disapa Mbah Mul. Plesir kuliner di warung pecel yang kini memiliki nama pecel Madya ini rutin saya kunjungi di penghujung pekan yang notabene-nya kerap dimanfaatkan masyarakat untuk memanjakan diri mereka.

Saya menyusuri jalanan kota Salatiga yang teduh menuju lokasi dengan mengendarai sepeda motor. Menempuh jarak dengan menggunakan kendaraan roda dua adalah opsi yang tepat mengingat lokasi pecel Madya berada sidikit masuk ke dalam gang kecil di jalan Sukowati No. 397, persisnya di belakang Gereja Mawar Sharon.

Sesampainya di sana, saya langsung disambut hangat oleh sang empu-nya warung yang juga turut serta dalam menjajakan masakanya. Keramahan yang ditawarkan memang sudah menjadi ciri khas dari warung Pecel Madya Mbah Mul. Karena perut memang sudah sangat lapar, saya segera memasuki warung untuk memesan santapan siang.

Setelah memilah dan memilih, saya putuskan untuk memesan menu andalan yaitu seporsi pecel beserta onclang (telur dadar dengan irisan daun bawang), dan tak lupa ditambah dengan irisan parabola (bakwan mangkuk) sebagai pemeriah hidangan. Selain pecelnya yang memikat, menu di warung tersebut tergolong komplit dengan berbagai varian kuliner seperti soto, opor, krecek dan juga lauk-pauk tambahan seperti perkedel, sate usus, babat iso, ati ampela dan juga teman-temanya.

WP_20170114_12_01_48_Pro_LI

Tidak sendirian, di warung pecel Madya ini mbah Mul berjualan dibantu oleh beberapa ibu-ibu yang nampak sederhana mengenakan busana sehari-hari layaknya seorang ibu pada umumnya. Kursi-kursi jadul dan hiasan dinding berupa beberapa potret lama semakin memperkental nuansa lawas warung legendaris ini.

Sejak 1973, Mbah Mul sudah menjajakan masakannya. Mula-mula ia berjualan di pinggir jalan dekat rumahnya, hingga pada 1984 beliau terpaksa pindah karena lapaknya terkena pelebaran wilayah gedung bioskop Madya yang kini telah beralih fungsi sebagai gereja. Dari tempat pertama berjualan, beliau hanya berpindah sekitar 20 meter ke belakang, tepat di selasar dan ruang depan rumahnya.

Tak hanya warga lokal, pendatang seperti mahasiswa dari luar kota pun turut ngabsen sebagai pelanggan setia warung Pecel Madya. Praktis, nikmatnya hidangan ini tersebar dari mulut ke mulut ketika mereka pulang ke kampung halaman. “Pelanggan saya menyeluruh mas, dari Sabang sampai Merauke ada semua,” tutur mbah Mul semi bercanda.

Mbah Mul juga membeberkan rahasia mengapa warung tradisionalnya dapat terus eksis di era modern ini. Menurutnya, kunci sukses dari usaha kuliner adalah konsistensi. Ia tetap mempertahankan konsep dan tidak pernah merubah racikan resepnya dari pertama berjualan sampai sekarang.

Sejauh ini, Pecel Madya hanya membuka satu cabang saja, tepatnya di jalan Monginsidi, Salatiga. Cabang tersebut dikelola oleh cucu dari Mbah Mul sendiri. Dengan kata lain, bisnisnya telah bertahan sampai tiga generasi.

 

Dwiki Haris, mahasisawa Fakultas Bahasa dan Seni, angkatan 2013. Jurnalis Magang di Scientiarum. Bertemanlah dengannya di Facebook.

Redaktur: Pandita Novella

3 Comments

  1. FYI, kata ‘onclang’ di paragraf ke-5 itu adalah bahasa jawa dari daun bawang.
    Jadi saya kira nama masakan yg dimaksud bukan ‘onclang’ yaa….
    Namanya tetap telur dadar – kali ini dengan ditambahkan onclang 🙂

    • Menanggapi Ika.

      Betul sekali. Namun di warung Pecel Madya, penjual dan pelanggan memang menyebutnya onclang, karena porsi onclang lebih banyak ketimbang telur. Begitu pula dengan lauk-pauk lainnya. Jangan tanya martabak, di sana martabak disebut bantal, bakwan disebut parabola, dll.

    • Sejak kuliah di uksw tahun 1994, kita selalu sebut “onclang”… Bener2 legend ini pecel madya, dulu gedung di depannya adalah bioskop madya, jadi kita sebutnya pecel madya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas