Gudeg Miroso, Cita Rasa dari Sudut Salatiga

Browse By

Apakah Salatiga hanya terkenal dengan enting-enting gepuk dan ronde? Lantas, bagaimana kalau kita ingin menikmati Gudeg? Apakah kita harus ke Yogya terlebih dahulu?

Tak perlu jauh-jauh ke kota asalnya, Salatiga pun punya Gudeg khasnya sendiri.

Di siang yang terik itu kami menyusuri sudut-sudut kota. Di tengah hiruk-pikuk kegiatan rekonstruksi Pasar Sapi lama, kami menemukan warung  semi-modern di pojok jalan Hasanuddin, Gudeg Koyor Miroso namanya. Dengan perut kosong, kami menghampiri warung tersebut.

Dengan tidak sabar, kami segera memesan gudeg dengan selera masing-masing. Saya dengan nasi gudeg telur dan teman saya memesan nasi gudeg ampela ati. Memang benar, gudeg ini memiliki cita rasa unik dari gudeg lainnya.

Dapat dikatakan Gudeg Miroso merupakan gudeg khas Salatiga. Perbedaan rasa gudeg miroso terletak pada keseimbangan rasa pedas, manis, dan asin dibandingkan dengan gudeg-gudeg lain yang memiliki rasa manis yang mendominasi. Dengan campuran bawang merah, bawang putih, ketumbar, lada, kemiri dan bumbu-bumbu lain yang dirahasiakan sang empunya, maka terjagalah keaslian rasa masakan yang diturunkan kepadanya.

Pasalnya, pemilik masih belum mempercayai pegawainya dalam hal meracik masakan. Baginya beda tangan, beda pula rasa masakannya. “Yang masak sekarang pegawai saya, tapi finishing-nya tetap saya,” tutur Yanto sebagai penerus rumah makan Miroso saat ini.

Warung gudeg ini ternyata sudah buka sejak tahun 60’an. Terletak di atas kali pasar Berdikari yang sekarang berganti nama menjadi Pasar Raya. Mulanya, warung ini bernama sesuai dengan pemiliknya “Warung Gudeg Mbok Iman”, kemudian sekitar tahun 70’an warung dibeli oleh Ibu Sukini yang notabene keponakan dari pemilik lama. Lalu berganti nama menjadi “Warung Gudeg Miroso”.

 

Sudah dua kali usaha kulinernya terkena imbas pembongkaran pasar, sampai pada akhirnya pemilik memutuskan membeli bangunan permanen  di sekitar lokasi lama, di jalan Hasanuddin belakang Pasar Sapi lama.

Walau buka dari pukul 5 pagi, warung mulai ramai sekitar jam 6 pagi. Kebanyakan pelanggan berasal dari pelancong Solo, Semarang dan sekitarnya. Mereka rela meluangkan waktu demi menikmati sepiring gudeg koyor yang memanjakan lidah.

Tak hanya gudeg koyor, pembeli juga dapat menyantap menu andalan lainnya seperti opor ayam empuk nan gurih atau semur telurnya yang serasi menemani hidangan gudeg, ditambah dengan siraman sambal goreng krecek pedas yang menggoda. Untuk menikmati sepiring gudeg khas Salatiga ini cukup merogoh kocek sekitar dua puluh lima ribu hingga tiga puluh ribu rupiah.

Setiap hari, tak kurang dari 150 porsi gudeg laku terjual di warung yang menjajakan hidangannya hingga pukul 5 sore ini. Kendati sudah dikenal, pemilik masih enggan membuka cabang untuk rumah makannya, khawatir akan terlalu sibuk sampai-sampai melupakan urusan lainnya. “Lebih baik buka 1 warung berpenghasilan 5 warung, daripada buka 10 warung penghasilannya seperti 1 warung,” tukas Yanto menjelaskan.

Kiptya Nur Astari, Mahasiswa FEB angkatan 2014

Penyunting: Tatag Maulana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *