Pelayan Itu Bernama Guru

Browse By

“Tolong, apa pun yang berserakan di bawah meja anda, termasuk sampah, dipungut, lalu dibuang ke keranjang sampah!”, pinta seorang guru Bahasa Indonesia sebelum memasuki kelas tempatnya mengajar. Upaya menjaga dan memelihara kebersihan merupakan nilai yang harus senantiasa dihidupi siapa pun.

Pengalaman di atas, hanyalah sebagian kecil dari pengalaman-pengalaman lain yang pernah dirasakan oleh penulis bersama St. Kartono sewaktu duduk di Sekolah Menengah Atas dulu. Pak Kartono, sapaan kami para murid, merupakan  guru yang energik. Ia dikenal ramah dan murah senyum terhadap siapa pun. Disiplin waktu, rapi, bersih, tegas, gemar “menunjuk-nunjuk”, hingga cara berjalan yang sigap jadi karakter guru bahasa indonesia yang satu ini.

Menjadi Guru Untuk Muridku merupakan bunga rampai St. Kartono yang berisi refleksi sederhana seorang guru. Buku ini berisikan 70 tulisan yang pernah dimuat pada Harian Jogja antara Juni 2008 sampai Maret 2011.

Seorang guru merupakan aktor pendidikan yang melayani kehausan ilmu dan membimbing karakter tiap-tiap murid. Guru tak boleh hanya sekadar aparat pemerintah, untuk dinas pendidikan,  kepentingan dagang di sekolah, atau untuk berjualan paham belaka. Guru merupakan teladan. Guru harus menjadi insipirasi sekaligus fasilitator ilmu bagi murid yang ingin memperkaya intelektualitasnya. Menyadari bahwa peran, tugas, dan tanggung jawab seorang guru teramat penting membuat St. Kartono bertekad menjadi “bukan guru biasa”.

Dalam buku ini, pembaca diajak memahami bahwa guru merupakan agen perubahan yang sentral di dunia pendidikan serta dituntut untuk terus mengubah diri. St. Kartono pun selalu berkaca dari pengalaman-pengalamannya. Perjalanan keguruan dan kepengajarannya di berbagai tempat seperti Yogyakarta, Medan, Kalimantan, Nabire-Papua dan Adelaide-Australia menjadikan dia seorang pembelajar.

Ia belajar bagaimana membangkitkan antusiasme murid-muridnya, meningkatkan optimisme dalam berkarya, mendisiplinkan yang tidak patuh, dan mengkiritisi murid yang keliru serta tak lupa membahagiakan mereka. Ia juga sadar akan keprihatinan dunia pendidikan, khususnya di negeri ini; dari gaji rendah, tunjangan hidup yang bernilai kecil, kurikulum yang bergonta-ganti, administrasi yang semerawut, hingga bangunan dan fasilitas yang tak memadai.

Namun hal itu bukanlah penghalang bagi dirinya untuk senantiasa mengajar dan mendidik para murid. St. Kartono pun tak tanggung-tanggung mengkritisi pemerintah yang sibuk dengan hal-hal tak berguna sampai tak meratanya pendidikan di seluruh negeri, khususnya Indonesia bagian timur.

Buku ini sangat cocok dibaca bagi kalian para guru, dosen, mahasiswa calon guru bahkan orang-orang yang memiliki minat pada dunia keguruan dan pendidikan. Buku ini dapat dijadikan sangkar inspirasi dan rumah refleksi bagi pahlawan-pahlawan sekolah. WS Rendra berkata, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Gagasan, ide, dan nilai-nilai yang terdapat dalam buku ini bukanlah sekadar kumpulan akar kata-kata yang melahirkan buah tulisan, tetapi merupakan hasil pelaksanaan kata-kata yang senantiasa diperjuangkan oleh penulis sendiri.

Anak-anak (siswa dan mahasiswa) merupakan hadiah dan titipan dari Tuhan bagi para orangtua. Mereka perlu belajar soal kehidupan dari orangtua di rumah. Apabila hal itu tidak mereka dapatkan di rumah, sekolah merupakan rumah kedua mereka dan guru merupakan orangtua kedua mereka. Non scholae sed vitae discimus, kita belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup. Melayani mereka merupakan tugas yang mulia. Mereka dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik. Mereka berperan bagi perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Maka relasi guru dan murid tak sekadar tukar-menukar ilmu, namun relasi tersebut harus membangun sifat manusiawi di antara kedua subjek tersebut.

“Seorang murid tidak akan mengingat apa yang diajarkan guru kepadanya. Seorang murid hanya mengingat apa yang dilakukan guru kepadanya!” Kalimat tersebut sering terlontar dari mulutnya di setiap sesi pembelajaran di kelas. Sudahkah kita menjadi seorang guru untuk murid kita?

Rezki Benedikto, mahasiswa Fakuktas Teknik Elektro dan Komputer angkatan 2016. ikuti cuitannya di Facebook: Rezki Benedikto Renwarin

Penyunting: Rut Christine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *