Jelajah Nusantara, Lidah Kendaraannya

Browse By

Salatiga adalah kota kecil dengan beraneka ragam suku dan budaya Nusantara. UKSW yang sering disebut sebagai “Indonesia Mini” turut berkontribusi akan keberagaman etnis di kota ini. Per tahun 2011 setidaknya terdapat 34 suku bangsa baik dari dalam maupun luar Indonesia yang diwakili 13 ribu-an mahasiswa UKSW. Keberagaman suku dan budaya tersebut tidak luput dari keberagaman kuliner pula.

Sudah beberapa tahun terakhir ini, UKSW memamerkan kuliner tradisional etnis. Acara kuliner tersebut adalah bagian dari acara tahunan Indonesian International Culture Festival (IICF).

Tahun ini, tepatnya 25 April lalu, acara icip-icip di IICF menyuguhkan kuliner khas tradisional dari 18 daerah seantero Nusantara seperti: Lampung, Batak Karo, Batak Toba, Minahasa, Maluku, Talaud, Papua, Jawa, Toraja, Poso  dan masih banyak lagi. Selain keanekaragaman kuliner lokal Nusantara, IICF 2017 juga mendatangkan 4 tamu mancanegara yaitu Guatemala, Nikaragua, Meksiko dan Filipina yang turut menawarkan kuliner khasnya.

‘Wedang Sampah’ dari stan etnis Jawa. | Dok.scientiarum.com/Aleksander Herdiyan

Dari Lampung, ada beberapa deretan kuliner seperti Kripik Pisang Coklat, Sekubal, Sambal Seruit dan Kopi Lampung yang tersohor di Indonesia. Dari etnis Batak Karo menghadirkan beberapa sajian seperti Tasak Telu, Cipera dan juga Kue Cimpa.

Selanjutnya, dari etnis Batak Toba turut menyajikan masakan handalan daerahnya, yaitu Saksang komplit dengan sayur daun singkong dan juga pohul-pohul sebagai kudapanya. Dari NTT menghidangkan Jagung Bose yang hadir ditemani pasangannya, Sayur Pepaya Muda serta Sambal Luat super pedas yang siap untuk menggoyang lidah para pencicip.

Selain itu, dari Talaud di Sulawesi Utara juga menghadirkan beberapa kuliner seperti Kue Panada Ubi, Mie Ojo dan Ikan Bakar Cakalang khas Bumi Porodisa tersebut. Yang terakhir datang dari mahasiswa Poso, mereka menjamu pengunjung dengan Beko, Putu Poso dan sambal yang terbuat dari ikan Roa yang tak kalah nikmat.

Icip-icip tersebut tidak berlangsung lama sebab persediaan hidangan memang terbatas. Para pengunjung juga nampak berbondong-bondong mendatangi tiap-tiap lapak etnis. Stok langsung ludes.

 

Warung makan etnis di Salatiga

Walaupun icip-icip kuliner IICF 2017 berakhir pekan lalu, bukan berarti harus menunggu tahun depan untuk bisa menikmati cita rasa kuliner khas etnis Nusantara. Scientiarum menghimpun beberapa warung makan etnis di seputaran kota Salatiga yang menjajakan kuliner tradisional khas daerahnya.

Tebak, ini makanan dari mana?

Beberapa warung tersebut adalah Warung Toba Nauli milik Nur Cahya Siahaan yang menyediakan berbagai makanan khas Batak Toba. Berlokasi di Jalan Kemiri Raya, atau tepatnya di dekat gerbang belakang kampus UKSW. Pengunjung dapat menikmati beberapa pilihan hidangan kuliner yang mayoritas berkomposisikan dari daging babi seperti Saksang dan Panggang.

Selain itu, olahan RW dan ikan juga bisa ditemukan di Warung Toba Nauli yang telah dibuka sejak 2008. Salah satunya Arsik, hidangan menyerupai pepes berbumbu khas kecombrang ini dapat disantap bersama sambal hijau yang rasanya agak getir. Rasa getir itu berasal dari andaliman atau merica khas Toba yang hanya terdapat di daerah asalnya. “Kami mendatangkan andaliman langsung dari Toba, biasanya kami titip mahasiswa yang kebetulan baru pulang ke kampung halaman di Toba,” tutur si pemilik warung, pada 28 April 2017.

Dari Sumatera, kita beranjak ke Sulawesi. Terdapat Warung Makan Makassar yang berlokasi di Jalan Kridanggo. Warung milik Dwi Ningsih ini setiap harinya menjajakan kuliner khas Kota Daeng seperti Coto Makassar, Sop Konro, Es Pisang Hijau, Es Palu Butung dan Gogos sebagai camilan.

Es Palu Butung sendiri hampir serupa dengan Es Pisang Hijau yaitu berkomposisikan pisang. Yang menjadi pembeda adalah es tersebut tidak dibungkus oleh adonan berwarna hijau layaknya Es Pisang Hijau. Selain Itu pisang yang digunakan adalah pisang raja, sedangkan untuk Es Pisang Hijau menggunakan pisang jenis kepok. Sedangkan Gogos adalah camilan yang wujudnya mirip dengan lemper, akan tetapi berisikan cacahan ikan laut. Teknik pembuatanya juga sedikit berbeda, yaitu dibakar bersama dengan pembungkusnya sehingga menghasilkan bau gurih yang khas.

Ini makanan dari Kalimantan. Katanya, proses pembuatannya perlu fermentasi salah satu bahan dulu.

Yang terakhir adalah Warung Bali milik Komang Widiasri yang sudah buka semenjak 1983. Lokasi warung ini berada di Jalan Diponegoro, tepatnya di samping UKSW. Warung ini sudah tidak “sepenuhnya Bali”. Komang menjelaskan, jika dia tetap mempertahankan cita rasa khas Bali yang terkenal dengan asin dan pedasnya, maka dagangannya akan sulit laku. “Sajian di warung ini sudah disesuaikan dengan lidah orang jawa,” imbuh Komang.

Warung milik Komang ini juga menerima pesanan apabila ada pelanggan yang menginginkan kuliner dengan rasa ke-bali-balian. Biasanya pesanan datang dari para mahasiswa Bali yang ingin melakukan usda atau acara lainya. Pesanan akan dimasak menggunakan bumbu genep, yaitu bumbu khas Bali dari perpaduan banyak bumbu dapur. Biasanya makanan yang dipesan di warung ini adalah Ayam Betutu, Sosis Bali, Lawar (Urap Bali), Sate Babi dan Sate Lilit.

Selain ketiga warung makan di atas, berikut juga merupakan rekomendasi warung makan khas daerah Nusantara di Salatiga: WM Manado Nyiur Malambai di deretan Ruko Pujasera, WM Padang Andalas di Jalan Margosari (depan SD Marsudirini), WM Ambon di Jalan Kemiri I, WM Poso di Jalan Cemara, WM Ino Toraja dan WM Babi Bang Petrus di Jalan Kemiri Barat. Sisanya, bisa dijelajahi sendiri.

Ngomong-ngomong, kalau mau makan Papeda di Salatiga, cari ke mana?

Dwiki Haris, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2015. Berkawan di Instagram @dwikiharis.

Penyunting: Arya Adikristya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *