Mana Hasil Kerja Satgas Revisi Kurikulum Fakultas Teologi?

Browse By

Ceritanya agak mundur ke belakang. Di tengah kebahagiaan karena mahasiswa Fakultas Teologi UKSW sedang melakukan Praktek Pendidikan Lapangan (PPL) pada gereja tempat mahasiswa berasal, fakultas malah digemparkan oleh adanya petisi penolakan terhadap kurikulum progdi Strata 1 berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) kepada pimpinan fakultas. Petisi yang dibuat oleh Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Fakultas Teologi (LKF F.Teol), secara garis besar memuat tentang penolakan serta tuntutan agar segera dilakukan revisi kurikulum KKNI yang dinilai menurunkan kompetensi akademik mahasiswa.

Petisi yang berjumlah 11 halaman dan ditandatangani oleh 215 orang mahasiswa Progdi S1 Teologi, berisi 3 poin tuntutan terhadap kurikulum berbasis KKNI yang berbunyi sebagai berikut.

Masalah pertama, berkaitan dengan konten mata kuliah kurikulum 2016, khususnya yang berkaitan dengan pemadatan dan penghapusan beberapa mata kuliah yang sangat vital bagi kurikulum fakultas dan kompetensi akademik mahasiswa. Sebagai data, mata-mata kuliah yang telah dipadatkan diantaranya;

  1. Misiologi, kristologi, dogmatika, dan eklesiologi dipadatkan dalam satu mata kuliah Teologi Sistematika.
  2. Sejarah Agama Kristen, Sejarah Gereja dan Sejarah Gereja Indonesia dipadatkan menjadi Sejarah Perkembangan Kekristenan.
  3. Hermeneutik Perjanjian Baru I dan Hermeneutik Perjanjian Baru II dipadatkan menjadi Hermeneutik Perjanjian Baru.
  4. Hermeneutik Perjanjian Lama I dan Hermeneutik Perjanjian Lama II dipadatkan menjadi Hermeneutik Perjanjian Lama.
  5. Pemadatan mata kuliah Praktika yang mendasar dalam ilmu Teologi seperti Pengantar Pendidikan Agama Kristen (PAK), Media dan Kurikulum PAK, dan PAK Kategorial dipadatkan menjadi PAK I dan PAK II.
  6. Homiletika I dan II dipadatkan menjadi Homiletika, serta beberapa mata kuliah lain yang dihapus seperti Seminar Dasar dan Konseling Pernikahan.

Menurut saya, pemadatan mata kuliah tersebut merupakan keputusan yang tidak tepat, karena memangkas secara kasar kuantitas serta kualitas ilmu-ilmu dasar S1 Teologi (Filsafat Keilahian) yang seharusnya diperoleh mahasiswa secara mendalam.

Masalah kedua, sehubungan dengan penambahan mata kuliah PPL yang awalnya berjumlah 6 mata kuliah, dengan total SKS sebanyak 13 dinaikkan menjadi 11 mata kuliah dengan beban SKS sebanyak 33 SKS. Penambahan mata kuliah yang signifikan tersebut tentu menyita waktu mahasiswa selama kuliah, sehingga mahasiswa tidak memiliki cukup waktu untuk mengembangkan kompetensi akademik serta kemampuan berorganisasi pada Lembaga Kemahasiswaan (LK).

Sampai di sini,  LK berusaha melihat kerugian dari segi waktu yang akan dihabiskan untuk PPL. Jika jumlah mata kuliah PPL dinaikkan menjadi 11 mata kuliah, maka mahasiswa Teologi setiap semester selama 4 tahun masa aktif berkuliah akan terus berpraktek. Dari segi waktu, tentu akan merugikan perkuliahan mahasiswa. Ditambah lagi, melihat situasi LK yang menjadi lembaga pengembangan mahasiswa juga akan kesulitan untuk mencari kader-kader untuk meneruskan roda LK Teologi.

Pemasalahan ketiga, dalam penelitian yang LK lakukan, mereka mendapati bahwa jumlah mata kuliah dasar pada kurikulum 2016 berbasis KKNI, Progdi S1 Fakultas Teologi UKSW amat sedikit bila dibandingkan dengan konten makul pada kurikulum Fakulas Teologi lain seperti Universitas Kristen Duta Wacana dan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta. Hal ini, menurut saya akan berdampak buruk kepada kompetensi akademi mahasiswa S1 Progdi Filsafat Keilahian Fakultas Teologi UKSW.

Menyikapi masalah tersebut maka LK Fakultas, dengan berlandaskan aspirasi mahasiswa S1 Progdi Filsafat Keilahian, menuntut agar segera dilaksanakannya peninjauan kembali serta revisi terhadap kurikulum 2016 berbasis KKNI yang saat ini telah diberlakukan.

 

Pra-Petisi: Awal Mula Permasalahan serta Perjuangan Mahasiswa

Kurikulum KKNI 2016 disusun oleh Satugan Tugas (Satgas) penyusun kurikulum yang terdiri dari beberapa dosen serta pimpinan LK. Ketua Satgas  pada waktu itu ialah Pdt. Dr Ebenhaizer Nuban Timo. Mahasiswa yang ikut serta pada waktu penyusunan adalah Ribka mahasiswi yang menjabat ketua BPMF Teologi dan Hendra Malore yang menjabat sebagai Ketua SMF F.Teol (LKF Teologi Periode 2014-2015).

Memasuki pergantian tahun serta pembentukan kabinet baru Lembaga Kemahasiswan  Teologi, Alti Howan, Ketua BPMF F.Teol  bersama saya sendiri yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua SMF F.Teol, pada rapat Fakultas juga pernah melakukan usaha yang sama, yaitu menyampaikan aspirasi perihal kurikulum Progdi S-1. Kami menyampaikan beberapa pertimbangan dari mahasiswa yang mengatakan terkait mata kuliah PPL 6 (praktek akhir yang dilakukan  selama 4 bulan) diganti menjadi PPL 10 dan 11 yang memakan waktu 8 bulan. Kebijakan tersebut tentu saja memberatkan mahasiswa dari segi biaya karena harus membayar tempat tinggal selama 8 bulan, tetapi tidak menempatinya. Ini jelas pemborosan biaya. Namun usul waktu itu tidak diindahkan.

Selasa, 19 Juli 2016, Fakultas mewajibkan seluruh mahasiswa untuk berkumpul di Auditorium FTI dengan membawa transkrip nilai serta mengikuti sosialisasi Keputusan Rektor No. 272/KEP/REK/7/2016 tentang “Pemberlakuan Kurikulum UKSW 2016 dan Migrasi Kurikulum lama ke kurikulum UKSW 2016 bagi mahasiswa angkatan 2015 dan sebelumnya”. Terdapat beberapa informasi yang mendapat tepuk tangan dari mahasiswa, seperti nilai E yang dihapuskan semua dan nilai D yang dihapus dan hanya boleh ada satu di transkip nilai. Kemudian, PPL 10 dan 11 hanya diambil oleh  mahasiswa yang baru memiliki minimal 75 SKS pada transkrip nilai. Khusus pada fakultas saya, mata kuliah PPL 10 dan 11 hanya mungkin  dikenakan kepada angkatan 2016 serta angkatan 2015 karena belum setahun persis berkuliah.

Tetapi, ‘kebahagiaan’ mahasiswa Teologi hilang setelah sosialisasi dilakukan. Pelaksanaan kurikulum baru menciptakan banyak masalah. Sebagai contoh, terdapat beberapa mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah Kristologi harus mengambil mata kuliah Teologi Sistematika. Padahal sudah lulus mata kuliah Eklesiologi dan Dogmatika. Itu disebabkan karena mata kuliah Kristologi yang belum diambil telah digabungkan menjadi satu mata kuliah, yakni Teologi Sistematika. Menurut tanggapan beberapa mahasiswa yang sudah tidak perlu mengambil mata Teologi Sistematika, pemadatan 3 mata kuliah tadi menjadi sangat tidak efektif karena mustahil memahami ketiganya sekaligus dalam satu semester.

Pada titik ini, dengan yakin saya ingin berpendapat bahwa “lebih mudah memasukan unta ke dalam lubang jarum” daripada membuat mahasiswa mampu memahami  Teologi Sistematika dalam waktu singkat.

Di saat mahasiswa serta dosen sedang ribut-ribut soal pemadatan mata kuliah, muncul suatu kejanggalan. Sebanyak 15 orang mahasiswa yang sudah memiliki beban SKS lebih dari 75 dikirim untuk berpraktek selama 8 bulan pada lokasi yang telah ditentukan. Padahal dari informasi yang didapat, PPL 8 bulan hanya dikenakan kepada mahasiswa yang maksimal memiliki 75 SKS.

Dampaknya untuk masa praktek ke jemaat mulai tahun Agustus 2016-April 2017 dibuat dua model  yang berbeda, model 8 bulan untuk teman-teman Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB) dan 4 bulan untuk mahasiswa UKSW yang bukan berasal dari GPIB. Namun anehnya, tidak semua mahasiswa GPIB ikut model 8 bulan. Karena model PPL 8 bulan sendiri hanya dikenakan kuota 15 orang, sedangkan untuk mahasiswa asli GPIB yang memilih tidak mengikuti model 8 bulan, boleh mengikuti model kedua yaitu praktek selama 4 bulan. Namun praktek selama 4 bulan pun juga ada dua gelombang. Gelombang pertama dimulai dari bulan Agustus-Desember 2016 dan Januari-April 2017.

Berangkat dari ragam masalah di atas dan sikap tegar tengkuk dari pihak pimpinan (baca: penguasa) fakultas yang tidak mengindahkan aspirasi dari mahasiswa, akhirnya pimpinan LK melayangkan “surat cinta” untuk menolak dan merivisi kurikulum berbasis KKNI yang sangat merugikan mahasiswa. Dampak dari petisi tersebut akhirnya memecah teologi menjadi dua kubu; kubu yang setuju dengan kurikulum dan kubu yang menolaknya.

 

Dialektika Hegel di Fakultas Teologi

Secara sempit dalam pandangan segelintir orang, banyak yang mengira bahwa permasalahan  ini terjadi antara pihak dosen dan mahasiswa. Tetapi dalam pengamatan penulis, dari pihak dosen pun juga ada yang tidak menyetujui kurikulum ini. Begitu pula sebaliknya dalam pihak mahasiswa juga terdapat segelintir orang yang menyetujui kurikulum progdi S1 Teologi. Mereka (dosen maupun mahasiswa)  yang nampaknya tidak menyetujui kurikulum ini lebih memilih diam. Ibarat orang yang sedang jatuh cinta dan tidak berani mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Cinta tersebut lebih dipilih untuk dipendam dan disembunyikan.

Fenomena yang terjadi saat ini di keluarga Fakultas Teologi, mendekati konsep dialektika yang digagas oleh seorang pemikir berkebangsaan Jerman bernama Georg Wilhlem Friedrich Hegel. Analogi Hegel kira-kira seperti ini. Manusia pada umumnya berhadapan dengan realitas yang ada (asbtsrak) dan tidak ada (kongkrit). Apa yang kita sebut realitas kasat mata sebenarnya belum kongkrit/benar. Ada yang disebut tidak ada sebenarnya berdiam di dalam “ada”. Perlu dilakukan pendekatan rasional yang tajam untuk menemukan kebenaran di balik apa yang kita lihat. Dengan kata lain, Hegel ingin mengajak kita untuk menyelidiki dulu apa yang kita lihat, baru menyimpulkan.

Manusia yang tidak rasional adalah mereka yang menyimpulkan dari apa yang kelihatan saja, akhirnya kesimpulan tersebut jatuh kepada kesalahan. Hegel juga melihat kenyataan selalu terdapat kontradiksi. Misalnya antara positif-negatif, abstrak dan kongkrit. Sepaham dan tidak sepaham. Di dalam suatu sikap, selalu terdapat negasi atau mungkin bisa dikatakan lawan (antitesis) dari sikap yang ada. Tidak ada komponen yang berdiri tunggal, tetapi jamak.

Manusia dalam menjalani hidupnya, akan selalu menghadapi kontradiksi tersebut. Bahkan kontradiksi sendiri adalah bagian dari sejarah hidup manusia, yang akan selalu bergulir. Sebagai upaya menangani ketegangan atau kontradiksi yang ada, Hegel meyakini bisa diselesaikan melalui proses dialektika. Dialektika adalah cara berpikir yang ditujukan untuk memperoleh penyatuan (sintesis) dari dua hal yang saling bertentangan (tesis dan antitesis). Kedua konsep yang bertentangan tadi, ber-dialektika hingga menjadi sintesis, menemukan jalan keluar yang dan diperdamaikan. Syarat tercapainya sintesis ialah pengambilan jarak pandang yang lebih luas dengan menggunakan pertimbangan intelektual. Akal budi saja apalagi common sense semata tidak cukup untuk mencapai sintesis.

Seperti yang telah digambarkan tadi, Fakultas Teologi kini sedang terbelah menjadi dua kubu. Kubu yang pro kurikulum berbasis KKNI (tesis) dan kelompok yang tidak menyetujui (anti-tesis). Kedua kubu sedang ber-dialektika menuju sintesis. Untuk rampungnnya semua masalah ini, maka diperlukan pengambilan jarak pandang yang lebih luas antara kedua belah pihak. Masalah tidak akan selesai jika hanya melihat melihat ked alam diri – tetapi ke luar diri. Melihat sekeliling, siapa yang paling dirugikan dalam masalah ini, serta apa yang harus saya lakukan untuk membantu mereka. Kepentingan pribadi ditanggalkan dan mulai membentuk diri untuk mencapai kepentingan serta kebaikan bersama. Mungkin dengan demikian kedua-duanya mampu mencapai sintesis (perdamaian).

 

Tuntutan Disetujui, Memasuki Masa Penantian Cinta  

Seusai rapat fakultas, para dosen dan kedua perwakilan mahasiswa satu persatu melangkahkan kaki keluar dari ruangan rapat. Ama dan Priska yang menjabat sebagai pimpinan LK  membawa kabar gembira. Dalam rapat memutuskan untuk membentuk tim Satgas revisi kurikulum.

Menjelang 3 hari sesudah rapat, Kamis, 8 Juni 2017 pimpinan LK Teologi menerima Surat Keputusan Satgas revisi kurikulum. Ketua Program Studi S1 Pdt. Izak Lattu Ph.D ditunjuk sebagai ketua Satgas revisi kurikulum, ikut serta Rektor UKSW John Titaley, dekan Fakultas Teologi Pdt. Dr. Retnowati, Pdt. Dr. Tony Tampake, Pdt. Dr. Jopie Daan Angel, Pdt. Dr. Rama Tulus, Pdt. Yusak Setyawan MATS., Ph.D dan Pdt.Dr.  Ebenahaizer Nuban Timo. Kedua pimpinan LK  juga ikut dilibatkan sebagai timm revisi kurikulum. Terlihat secercah harapan bagi kemajuan Fakultas Teologi dari anggota Satgas yang tercantum dalam SK tersebut.

Sesuai kesepatakan rapat, Satgas akan segera menyusun kurikulum menjawab suara hati dari setiap orang, baik dosen maupun mahasiswa yang telah menanti perubahan yang terjadi di fakultas. 4 Juli, hari ini adalah batas terakhir dari SK yang telah ditetapkan.

Kami semua menantikan hasil kerja satgas.

Jear Nenohai, mahasiswa Fakultas Teologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *