Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Menerawang Dinamika Ekonomi Tahun 2018 Bersama M. Fadhil Hasan

Rubrik Nasional oleh

Fadhil Hasan, Ph.D selaku Kepala Supervisi Bank Indonesia dan juga Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional menjadi narasumber dalam seminar Economic Update “Kebijakan Moneter Terhadap Dunia Usaha” di Gedung Intiland, Surabaya pada 28 Juli 2017. Tugas pokok dan fungsi (Tupoksi –red) dari jabatan tersebut adalah memberikan saran terkait kondisi perekonomian di Indonesia kepada presiden republik Indonesia.

Salah satu dari fungsi-fungsi dari kebijakan moneter menurutnya adalah mengontrol kondisi dari Inflasi Inti dan Inflasi Harga – Harga yang Diatur oleh Pemerintah (Inflation Administered Price) di masyarakat.

Fadhil Hasan yang mengaku sering bolak – balik Surabaya pada akhir pekan ini menerangkan bahwa ketika berbicara kondisi ekonomi makro pada publik seakan – akan ada anomali di masyarakat yang terasa sangat nyata. “Kenapa seakan – akan kondisi perekonomian Indonesia yang diberitakan bagus – bagus saja, padahal sektor riil (mikro) mengalami penurunan?”, tanya pria santun ini.

Hadirin yang datang dalam acara malam itu berlatar belakang dari lintas pengusaha, praktisi, mahasiswa serta wartawan di lantai dasar gedung Intiland Surabaya. Mereka mengikuti jalannya acara sambil mengecap hangatnya minuman dari jamu Iboe Herbal Bar dan disiarkan melalui udara oleh SMART FM Surabaya.

Selanjutnya, M. Fadhil Hasan menambahkan bahwa sebenarnya untuk memahami dinamika (trend) perekonomian makro, masyarakat awam cenderung berpegang pada kondisi harga – harga yang bisa dijangkau, seperti pembelian rumah dan aspek kenyamanan lainnya. Ketika ini terjangkau secara psikologis, masyarakat merasa aman. Singkatnya masyarakat itu bersifat mikro.

Seperti apa kondisi moneter terhadap dunia usaha di Indonesia tahun 2017 dan pertumbuhan ekonomi di tahun 2018 nanti?

Menurut M. Fadhil Hasan, kondisi makro ekonomi yang dilihat dari BI 7 – Day Reverse Repo Rate sudah sepuluh bulan bertahan di angka 4,75% dengan nilai tukar Rupiah yang relatif stabil pada Rp. 13.298 per USD dan cadangan devisa posisi per Juni 2017 sebesar USD 123,09 juta atau setara 8,9 bulan impor yang datang dari surplus perdagangan, Tax Amnesty, lelang dan Surat Berharga Bank Indonesia (SSBI) Valas.

Lalu bagaimana soal data inflasi? Inflasi tahunan menurutnya selama 7 tahun ini adalah yang terbaik dikarenakan kebijakan pemerintah yang memisahkan subsidi energi (minyak) dengan subsidi lainnya. Namun baiknya beberapa indikator makro diatas belum berpihak pada pertumbuhan kredit yang dirasa melambat dan tercemin dari non performing loan (NPL) yang trendnya naik.

Lalu bagaimana dampaknya bagi regional Jawa Timur sendiri yang mana Jatim pertumbuhan ekonominya selalu tumbuh lebih sedikit diatas rata – rata perekonomian nasional?  (walaupun pada triwulan 3 ekonomi Jatim turun di angka 5,4 – 5,6?) M. Fadhil Hasan menghimbau agar Jatim bisa mengembangkan ekonomi terdiversifikasi seperti di Sulawesi Selatan.

Selain dampak regional, M. Fadhil Hasan lebih lanjut dalam analisisnya mengingatkan bahwa risiko secara global masih akan ada walaupun terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi dari tahun 2016. Indonesia sebagai bagian dari perekonomian terbuka sedikit banyak akan terpengaruh.  Risiko global datang dari kebijakan Bank Sentral Amerika (The FED) melalui Fed Fund Rate (FFR), pengurangan besaran neraca bank sentral, ketidakpastian fiskal dan kondisi geopolitik Timur Tengah serta perang urat syaraf antara AS dan Korut. Apalagi Amerika di bawah Presiden Trump sedang menghadapi penurun pajak, rendahnya pemasukan dengan rasio PDB nya sebesar 200 yang masih lebih tinggi dibanding rasio hutang Indonesia.

Apa berita baiknya sebagai masyarakat awam dan dunia usaha?

Fadhil Hasan secara lugas menerangkan bahwa sektor jasa makanan, perjalanan dan jual beli online dan konstruksi dalam konteks ekonomi rumah tangga akan masih tumbuh begitu juga dengan pertanian (walaupun untuk sektor pertanian tumbuhnya kecil). Meskipun penjualan mobil dan sepeda motor yang biasanya digunakan melihat daya beli di masyarakat selama semester I 2016 – 2017 mengalami pasang surut. Untuk mobil naik 0,61%, bahkan sepeda motor kondisinya negatif berada di angka -13,1%.

Berita baik lainnya adalah daya beli masih akan tumbuh dikarenakan terobosan dari pemerintah terkait Pendapatan Kena Pajak (PKP) tidak berlaku pada pendapatan 2.025.000 per bulan untuk setiap wajib pajak lajang sehingga seharusnya seseorang membayar pajak namun karena kebijakan ini seseorang bisa mengalokasinnya untuk konsumsi lain ditambah keoptimisan akan datangnya bonus demografi (dimana melimpahnya tenaga produksi dalam melakukan konsumsi) sampai tahun – tahun mendatang.

Sebelum mengakhiri seminar Kebijakan Moneter Terhadap Dunia Usaha ini, sesi tanya jawab dibuka oleh moderator. Seorang pengusaha ritel bertanya, apa faktor dominan yang berperan pada sepinya pasar ritel, konveksi dan juga properti belakangan ini? M. Fadhil menjelaskan hal tersebut dikarenakan rendahnya penyerapan kredit, terpukulnya komoditas ekspor dan tingginya NPL di sektor manufaktur pertambangan yang mana sektor ini merupakan wealth sector dan keberadaannya ketika tertekan dapat memicu krisis di sektor lainya termasuk sektor riil dalam arti daya beli masyarakat.

Kebijakan moneter seperti apa yang bisa diupayakan agar pertumbuhan ekonomi 2018 berkisar pada angka yang realistis (5,4 – 5,6%)?

Sebagai penutup seminar tersebut, M. Fadhil menjelaskan bahwa ada beberapa kebijakan yang akan dilakukan untuk mendorong pertumbuhan agar kemampuan membeli tetap tumbuh. Pertama, memberi kelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM). Kedua, insentif dalam hal makroprudensial bagi perbankan yang berkomitmen menyalurkan kredit ke sektor tradeable khususnya industri dan pertanian dan Ketiga, yang tidak kalah penting adalah pemerataan kredit dalam rangka keadilan ekonomi keluar pulau Jawa. Karena selama ini Jawa sudah membentuk PDB sebesar 58, 49 persen dimana porsi kredit perbankan di pulau Jawa mencapai 74, 18 persen dari total kredit nasional, pungkasnya.

Sunny Batubara, alumni Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Satya Wacana. Kini menetap di Ibukota Pulau Dewata.

Redaktur: Axel Priya Mahardika

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas