Menaklukan diri Lewat Asyiknya Arung Jeram

Browse By

Berlibur, yang dulu tergolong kebutuhan tersier, kini mengalami pergesaran posisi. Inovasi dalam teknologi informasi membuatnya menjadi bergeser diantara kebutuhan primer dan sekunder. Dahulu, apa yang tersembunyi sulit dikabarkan, sekarang  lebih terbuka dan cepat untuk disebarluaskan. Sepertinya tokoh psikologi Abraham Maslow benar bahwa puncak tertinggi dari tangga kebutuhan manusia adalah aktualisasi diri.

Anda tidak percaya?

Tengoklah gawai anda tentang bagaimana era telepon pintar (smartphone) mendikte diri penggunanya dari satu tautan (link) ke tautan lainnya. Dari soal gosip sampai dunia pariwisata. Dari bangun tidur sampai menjelang tidur, semuanya satu klik.

Begitupun soal berlibur atau berwisata. Tidak ada alasan rasanya untuk ditunda bagi siapapun jua, di era teknologi ini. Salah satu arena dari tujuan wisata yang asyik, menantang dan relatif secara kondisi kantong ialah arung jeram (rafting).

Arung jeram adalah termasuk olahraga air, memakai perahu karet yang mengarungi derasnya air dan cadasnya batu. Serunya olahraga ini dilakukan secara berkelompok yang dikomandoi oleh pemandu secara profesional.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Songa, sebuah tempat wisata alam yang berada di Desa Ranu Gedang, Kecamatan Tiris, Probolinggo Jawa Timur. Di tempat tersebut, ada sungai Pakalen, yang menjadi favorit wisatawan untuk bermain arung jeram.

Asyiknya Arung Jeram. Foto: Dok. Sunny Batubara

“Asyiknya permainan ini bukan soal dayung mendayung. Suka atau tidak suka, derasnya air dan cadasnya batu akan menuntun kita kepada  tujuan akhir. Alam itu dinamis,” ujar pemandu saat memberi arahan. Hal lain yang mengasyikan dari permainan ini ialah, mengajarkan kepada invidu atau kelompok ketika berhadapan dengan permasalahan, harus punya rencana, kekompakan dan terlebih kerja sama dan membangun rasa saling percaya (trust) diantara kelompok.

Mengenal alam bukan berarti untuk ditaklukan, akan tetapi bagaimana membaca irama individu seturut dengan prinsipNya. Maka tak ayal dalam arung jeram pesertanya seringkali tersangkut, bertabrakan dengan cadasnya batu, dan bagaimana menghadapi derasnya air.

Lalu, bagaimana yang tidak bisa berenang?

Tidak masalah, karena setiap peserta akan dilengkapi oleh pelampung untuk keselamatannya. Tentunya sebelum bermain ada pengarahan soalmana yang boleh dan yang tidak untuk dilakukan. Harga tiketnya juga Sudah termasuk asuransi dan juga makanan dan minuman selama aktivitas tersebut berlangsung

Foto: Dok. Sunny Batubara

Hal lain yang mengasyikan sebelum arung jeram dimulai adalah susur wisata alam perdesaan, dimana sejuknya udara menyatu dalam keramahan penduduk desa. Riang gembiranya bocah – bocah menyapa dengan lambaian tangan mungilnya kepada peserta yang dibawa dengan pick up terbuka dari titik kumpul ke tempat permainan.

Keseruan lain selain mendayung di derasnya adalah saat menyusuri sungai ke gua, dimana banyak kelelawar bermukim (ketika memasuki setengah etape peserta sebelum garis akhir). Selanjutnya  peserta diajak singgah dirumah gubuk penduduk setempat untuk menikmati segarnya air kelapa dan dan jajanan khas lokal seperti gorengan combro (ubi yang digoreng dengan gula Jawa). Makyus rasanya ketika menyantapnya setelah lelah bermain dengan dinginnya air.

Satu pesan dari pemandu yang paling teringat di kepala adalah soal keselamatan peserta ketika terjatuh di air:

“Jangan panik, karena ada pelampung!” canda pemandu.

“Keselamatan itu nomor satu dan tentunya jangan lupa juga keselamatan orang lain setelah Anda selamat”

Bagaimana soal kuliner dan cinderamata?

Tentu setiap daerah punya ciri khasnya masing – masing. Di sini ada sajian nasi dengan campuran jagung, sambal ikan teri dan krupuk serta minuman hangat khas lokal Jawa – Madura yang bernama poka (campuran sereh, kayu manis dan jahe) menambah nikmatnya olah raga ini.

Apalagi yang kau tunggu? Rencanakan liburanmu!

Karena hidup itu cuman rafting dan seribu tahun lagi hanya rafting, tulis Chairil Anwar dalam puisinya yang masyur itu.

Sunny Batubara, alumni Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Satya Wacana. Kini menetap di Denpasar, Bali

Redaktur: Robertus Adi Nugroho

 

One thought on “Menaklukan diri Lewat Asyiknya Arung Jeram”

  1. Sunny says:

    Suwun SA, prinsipil dan kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *