Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

“Edukasi” Anti Komunis lewat Layar Tancap

Rubrik Salatiga oleh
Ilustrasi nobar filem G30s/PKI. (Ilustrasi oleh: Alexsander Herdian)

PKI (Parta Komunis Indonesia) dibentuk pada tahun 1914 yang pada mulanya bernama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda. PKI pertama kali diketuai oleh Semaun dan Darsono sebagai wakilnya. Walau sempat hilang karena dianggap partai terlarang oleh Pemerintah Hindia Belanda, PKI kembali ke panggung politik pada 1945, dan turut aktif dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari Belanda.

Pada 1950 di bawah pimpinan D.N. Aidit, PKI berkembang dengan cepat dan menjadi partai komunis terbesar se-Asia dengan jumlah anggota mencapai 1,5 juta orang. Riwayat PKI berakhir ketika meletus Gerakan 30 September (G30S) dan oleh Jenderal Soeharto yang kala itu mengambil alih kepemimpinan TNI, PKI dianggap bertanggung jawab atas tewas nya keenam Jenderal TNI, akibat gerakan tersebut. Dan hingga saat ini segala hal yang berbau komunisme dan PKI menjadi terlarang dan sensitif di Indonesia.

Beberapa tahun terakhir, isu kebangkitan PKI kembali muncul dan hangat diperbincangkan oleh masyarakat dan sering dikampanyekan oleh beberapa ormas keagamaan dan nasionalis tentang bahayanya. Tak hanya ormas, baru-baru ini banyak diselenggarakan acara nonton bareng (nobar) film “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” yang diadakan di berbagai kota atas perintah Panglima TNI, Gatot Nurmantyo.

Di Salatiga, sejak September telah banyak acara nonton bareng yang diselenggarakan oleh Kodim 0714 Salatiga, yang bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat, dan yang terbesar diselenggarakan pada Jumat (29/9) di Lapangan Pancasila Salatiga. Dalam acara nobar film di Lapangan Pancasila, Untuk acara ini, Kodim 0714 bekerjasama dengan Pemerintah Kota Salatiga.

Walau sempat diguyur hujan dari sore, namun hal itu tidak menyurutkan antusias masyarakat Salatiga dalam memeriahkan acara nobar film G30S/PKI. Bahkan dari beberapa masyarakat yang menonton, ada pula yang membawa anak dan istri. Salah satunya Adi, warga Tingkir, Salatiga. Adi membawa ketiga anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar dan perguruan tinggi, “Saya mengajak anak saya agar tahu sejarah tentang G30S/PKI di masa lampau” ujar bapak berkumis kelahiran 1965 itu.

Suasana nonton bareng filem “Gerakan Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, di Salatiga pada Jumat (29/9). Foto oleh: Christian Adi Chandra)

Di malam yang cukup riuh dan sisa sisa hujan sore itu, banyak anak-anak yang notabene masih di bawah umur ikut serta memeriahkan acara nobar film G30S/PKI.  Padahal  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melarang anak-anak yang masih berusia di bawah 13 tahun menonton film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI.

Dikutip dari Republika Online Muhadjir memberikan anjuran terkait nobar G30S / PKI “Jadi yang boleh menonton film itu adalah anak-anak yang usianya mulai dari 13 tahun ke atas. Selain dari itu dilarang,” kata Mendikbud kepada wartawan di Kupang, Jumat (29/9).Walau demikian masih banyak warga yang belum paham mengenai anjuran tersebut.

Dalam film yang berdurasi hampir empat jam yang diputar kemarin, banyak konten-konten yang seharusnya disensor oleh pihak penyelenggara. Walau sempat dipercepat dalam beberapa adegan namun masih saja terdapat konten-konten seperti mandi darah, penyiksaan jenderal, sampai adegan pembrondongan yang luput dari penyensoran manual oleh penyelenggara. Akan tetapi rupanya penyelengara juga sangat bertanggung jawab mengenai kenyamanan para penontonnya dengan menyediakan konsumsi yang cukup untuk menemani nobar malam itu.

Ketika sedang asyik-asyiknya menonton, hujan datang dengan deras tanpa pemisi sehingga sebagian dari penonton memilih untuk lari dan menepi mencari tempat yang aman untuk berteduh. Hal ini menyebabkan beberapa tenda yang dipasang untuk petugas sound dan tenda untuk Walikota, Dandim beserta jajaranya penuh diisi oleh masyarakat yang menghindari hujan.

Tak sedikit juga masyarakat yang memilih untuk bertahan di tempat dengan menggunakan payung dan benda seadanya untuk melindungi diri dari hujan. Film tersebut tak hanya berhasil membangkitkan gelora anti-komunis tetapi juga mengaduk emosi penonton salah satunya ketika adegan anak dari Jenderal AH Nasution terkena peluru dari pasukan Cakrabirawa. Terdengar sayup-sayup suara isak tangis dari beberapa penonton. Namun belum juga film tersebut sampai pada puncaknya, banyak penonton yang memilih untuk kembali ke rumah tetapi juga ada yang bertahan untuk menuntaskan film tersebut.

Walikota Salatiga, Yulianto berharap dengan diadakannya nobar film G30S/PKI generasi penerus dapat mengerti detail kejadian yang terjadi 52 tahun silam sehingga terulang kembali di masa yang akan datang. “Yang dapat kita petik dari film ini tadi, kejadian-kejadian yang lampau terjadi semoga tidak terulang di era yang sekarang” ujar Walikota trendy  itu.

Alexsander Herdian P & Christian Adi Chandra, Jurnalis Scientiarum

Redaktur: Robertus Adi Nugroho

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas