Pemugaran Gedung LK : Layak kah?

Browse By

Dalam beberapa bulan terakhir, isu tentang pemugaran gedung O Universitas Kristen Satya Wacana, atau yang lebih dikenal sebagai Gedung Lembaga Kemahasiswaan, santer terdengar. Isu ini juga sempat dibahas saat Rapat Pleno Senat Mahasiswa Universitas pada 6 September 2017.

Untuk mengkonfirmasinya, kami menemui Kepala Bidang III Senat Mahasiswa Universitas, Septa Fajar Kurniawan yang merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW. Septa menyebutkan, dirinya mendapatkan informasi mengenai pemugaran ini dari Pembantu Rektor III. Rencananya, gedung O akan di rekonstruksi dan ditingkat menjadi tiga lantai, sehingga nanti akan dijadikan sebagai pusat lembaga kemahasiswaan.

Septa lalu berujar bahwa pihak PR III sedang melakukan proses pengkajian status gedung O sebagai cagar budaya. “Jika memang benar, maka gedung O tidak dapat dipugar.”

Arief Sadjiarto sebagai PR III membenarkan rencana pemugaran gedung tersebut. Dia juga mengatakan bahwa gedung O tidak berstatus sebagai cagar budaya.

Berdasarkan data yang kami telusuri, untuk menetapkan sebuah bangunan menjadi bangunan cagar budaya, ada indikator-indikator tertentu yang ditetapkan dalam UU No.11 Tahun 2010. Salah satu indikatornya yaitu  “Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan.”

Arief menjelaskan bahwa gedung O tidak banyak berperan dalam sejarah UKSW. Berbeda dengan bangunan Rumah Noto yang berada di seberang gedung O. “Kalau Rumah Noto jelas merupakan bangunan cagar budaya karena pernah menjadi tempat tinggal rektor pertama UKSW, yaitu Notohamidjojo.”

Kondisi dalam gedung LKU UKSW. (Foto oleh: Delaneira Timothea)

Gedung LK dipakai untuk mempermudah koordinasi Kelompok Bakat Minat (KBM) yang ada dibawah Senat Mahasiswa Universitas. Selain Lembaga Kemahasiswaan aras universitas, beberapa KBM dibawah SMU juga menempati gedung tersebut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum, dan Resimen Mahasiswa (Menwa). Selain itu, lembaga kemahasiswaan Fakultas Hukum juga berkantor di sana.

Jika gedung O benar-benar dipugar, akan ditempatkan dimana kantor Lembaga Kemahasiswaan dan KBM?

“Kami juga diminta untuk mencarikan ruangan pengganti. Namun, Pak Arief juga ikut berupaya untuk mencarikan ruangan. Tetapi sampai saat ini belum ada follow up lagi,” jawab Septa akan pertanyaan tersebut.

Mengenai waktu pelaksanaan pemugaran, Arief belum bisa menentukan secara pasti. “Kami masih belum berani untuk menentukan tanggal kapan akan dilaksanakannya,” ucapnya. Dia juga menjelaskan bahwa untuk mengajukan rencana pemugaran sebuah gedung harus dengan persetujuan dari pihak rektorat. Berhubung dengan adanya pemilihan rektor baru, pengajuan rencana pemugaran gedung ini menjadi tersendat. Arief mengatakan bahwa dirinya dan tim akan mulai mengajukan rancangan rencana pemugaran ini pada periode rektor selanjutnya.

Delaneira TimotheaJurnalis Scientiarum, mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2016

Redaktur : Axel Priya Mahardika

6 thoughts on “Pemugaran Gedung LK : Layak kah?”

  1. Anastasia Anisa says:

    Layak, LKU merupakan salah satu image bangunan yg berada di muka depan UKSW dan saat ini kondisinya memang layak untuk dilakukan pemugaran memngingat kondisi gedung yang sudah cukup tua, dan kesan pengap dan gelap ketika masuk kedalam

  2. Michael W. says:

    saya kurang setuju apa bila gedung tersebut dikatakan tidak berperan banyak terhadap sejarah UKSW, tapi dapat dinalar saja bahwa gedung LK ini telah menyumbang kontribusi dalam mengayomi kegiatan lembaga kemahasiswaan UKSW, yang saya bisa artikan bahwa gedung ini telah memiliki peran terhadap hal “pendidikan” selama bertahun-tahun di UKSW. dan karena itu menurut saya gedung LK ini masih layak untuk dijadikan salah satu cagar budaya.

    dalam hal pemugaran, mungkin saya sedikit setuju dengan rencana ini. dikarenakan memang kondisi nya yang sudah terlalu tua dan perlu perbaikan demi keamanan pengguna bangunan itu sendiri, nah saya disini tidak setuju nya apabila bangunan ini akan dipugar secara total, karena pemugaran secara total akan menghilangkan nilai”, sejarah, bahkan identitas dari kampus sendiri.

    alangkah baiknya jika pemugaran dilakukan dengan konsep Konservasi Arsitektur, dimana konsep ini berperan untuk tidak merusak karakter dari kultur bangunan itu sendiri, dan juga bisa menjadikan bentuk apresiasi pada sejarah kampus, pendidikan, dan pembangunan wawasan intelektual kampus antar generasi. (saya pakai kata kampus karena objek yg dibicarakan adalah UKSW)

    sekian komentar saya, apabila ada kesalahan saya mohon maaf. karena saya sendiri bukan mahasiswa UKSW, tapi seorang warga salatiga yang mencintai kota salatiga dalam semua hal termasuk UKSW, dimana kampus ini juga berperan dalam memajukan anak-anak muda kota Salatiga dari tahun ke tahun.

    -Terima Kasih-

    1. delaneira says:

      Halo, berdasarkan wawancara dengan PR III dijelaskan memang akan dipugar tetapi bangunan baru nantinya tetap mengikuti bentuk dasar gedung yang lama.

  3. Nabi Palsu says:

    “Arief menjelaskan bahwa gedung O tidak banyak berperan dalam sejarah UKSW.”

    Wah wah, ini bahaya laten buat LKU. Kalau PR 3 sampai bilang gini, jangan-jangan selama LK kerja di Gedung O rektorat menganggapnya gak berkontribusi. Kok bisa ya ada pernyataan seperti ini?

  4. Arya Adikristya says:

    Berita ini bisa ditambahin tanggapannya pakar BCB di luar kampus. Di Salatiga ada orang namanya Eddy Supangkat, atau Yunantyo Adi di Semarang.

  5. Arya Adikristya says:

    Eh, nama profil singkat penulis sama redaktur jangan lupa dicantumin di bawah dongs.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *