Yang Terpenting itu Memanusiakan Manusia, kata Gus Mus

Browse By

Pada 29 Oktober, digelarlah acara Talkshow dan Tausyiah dengan KH. Ahmad Mustofa Bisri sebagai narasumber dengan mengusung tema “Istiqomah Merespon Zaman dalam Keberagaman”. Pada saat pembukaan, para pembawa acara memberikan penjelasan bahwa kegiatan tersebut bermula dari kekhawatiran akan isu SARA yang sempat mengganggu ketentraman warga Indonesia. Master of Ceremony (MC) mengatakan, Thanks To Me sebagai event organizer melihat Salatiga yang dianggap sebagai Indonesia mini, dihuni oleh kurang lebih 23 suku di Indonesia tetap damai di tengah ramainya isu perbedaan. 

Uniknya, acara yang dinamakan “Sibagus” atau “Sinau Bareng Gus Mus” ini diadakan di halaman sekolah kristen, SMK T&I Kristen Salatiga yang terletak di kampung Kemiri Salatiga. Kampung tersebut merupakan kawasan padat pelajar dari seluruh Indonesia dianggap tempat yang tepat untuk menarik massa untuk datang menonton Sibagus.

Acara yang sempat tertunda selama satu jam karena kendala cuaca ini tidak mengurungkan niat para penonton, terbukti dengan terisi penuhnya hampir setiap kursi yang tersedia.

Diawali dengan penampilan rebana dari tim SMA Negeri 2 Salatiga, kemudian shalawatan bersama Seloso Kliwon, tepat jam sembilan malam KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil “Gus mus” akhirnya naik panggung. Talk Show yang dimoderatori oleh Dr. Sus Endrastyanto diawali dengan penjelasan pemberian nama Kiai dan Gus.

Gus Mus memasuki panggung. Foto oleh Rifaldi Sapta WIrawan

Panggilan “Kiai” dan  “Gus” Berasal dari Istilah Budaya

Gus Mus menjelaskan, kiai merupakan sebutan untuk hal yang dihormati oleh masyarakat. “Kiai sebenarnya istilah yang bermula dari budaya Jawa, yang berarti siapa dan apa yang dihormati oleh masyarakat,” papar Gus Mus. Selain itu, Gus Mus mengklarifikasi makna “Gus” yang berarti anak dari Kiai yang belum pantas dipanggil Kiai. Hal ini sempat membuat sungkan moderator, “nyuwun sewu  Pak Kiai, kulo mboten paham..” (maaf Pak Kiai, saya tidak paham –red) kelakar moderator.

Berhenti Mondok Boleh, Berhenti Belajar Jangan!

Moderator lalu menanyakan kejelasan pernyataan Gus Mus tentang para santri, boleh berhenti dari pesantren, tetapi tidak boleh berhenti belajar. Kiai jebolan Universitas Al Azhar ini lantas mengingatkan kepada seluruh penonton untuk terus haus akan ilmu. Menurutnya, pendidikan bisa didapat bukan hanya dari institusi pendidikan formal saja. “Boleh berhenti mondok tetapi tidak boleh berhenti belajar,” ucapnya. Gus Mus juga berkata bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berkata, selama seseorang orang tetap belajar, selama itu dia pandai, ketika seseorang berhenti belajar karena merasa pandai, disitulah ia bodoh.

Kembali pada pemikiran utamanya, bahwa manusia tidak boleh sombong, merasa ilmu yang dimiliki sudah banyak sampai tidak perlu belajar lagi, ujar kiai yang pernah mengharumkan nama bangsa dengan memenangkan kejuaraan badminton se-Asia Afrika ini.

Citra Muslim di Mata Dunia, Gus Mus: Banyak Orang Kurang Memahami Agamanya

Didapati pemirsa yang menanyakan kepada Gus Mus tentang citra muslim saat ini yang dianggap sebagai pengusik kedamaian dengan aksi-aksi terorisme yang dipaparkan oleh media di dunia saat ini.

Gus Mus memaparkan bahwa radikalisme tidak terlepas dari orang-orang muslim atau bahkan pemeluk agama lain yang salah paham ajaran agamanya.

Namun, menurut Gus Mus, kita harus menelusuri asal atau sumber dari mana orang-orang muslim bisa marah. “Pemerintah Amerika mempunyai standar ganda jika membahas persoalan Israel-Palestina, misalnya. Mereka terus mendukung Israel dengan keadaan Palestina yang semakin terpuruk. George Bush juga menyerang Iraq karena diduga tanpa bukti, memiliki senjata kimia,” paparnya.

Gus Mus menjelaskan dengan adanya kejadian-kejadian diatas, dapat memicu adanya radikalisme.

Faktanya, lebih banyak negara Islam yang dihancurkan dan diteror oleh ekstremis yang mengaku Islam, tetapi media tidak menyoroti kejadian itu. Mereka justru mengkambing hitamkan agama Islam secara umum atas tindakan radikalisme. Mengutip pembicaraannya dengan sosiolog Arief Budiman, Gus Mus juga mengatakan bahwa memang media atau pers biasa membentuk opini masyarakat.

Bersikap Memahami dan Memanusiakan Manusia

Yang terpenting menurutnya adalah bersikap sewajarnya manusia. Menghargai sesama manusia, menyayangi dan menghormati keluarga juga tetangga sekitar. “Ngertio uwong, lan nguwongke uwong, Menghargai manusia dan memanusiakan manusia!,” merupakan pedoman hidupnya yang selama ini diajarkan kepada murid-muridnya.

Ulama yang terkenal dengan pemahaman eksistensialismenya ini kembali mengingatkan kepada pendengar untuk mengurangi rasa sombong dan merasa paling benar. “Bumi diibaratkan sebesar sebutir debu dibandingkan alam semesta, dan terdapat tujuh setengah miliar manusia di bumi ini, jangan beranggapan kalau sudah menjalankan solat berarti bisa menilai siapa yang dapat masuk dan tidak masuk surga,” jelasnya.

Gus Mus menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan pemeluk Islam dari penjuru dunia, dan bagaimana dia selalu membanggakan kedamaiaan Indonesia di tengah beragamnya latar belakang penduduk Indonesia. “Saya cukup prihatin dengan kejadian di Jakarta akhir-akhir ini, jangan sampai Indonesia ketularan dengan permasalahan yang dialami dengan negara-negara Islam lainnya, karena Indonesia selama ini kedamaian dan toleransinya dikagumi oleh dunia” tutur Gus Mus.

Kiptya Nur Astari, jurnalis Scientiarum, Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Redaktur: Axel Priya Mahardika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *