Drama Pilrek, Sampai Babak Mana?

Browse By

Sejak awal tahun ini, kabar soal pemilihan sampai terpilihnya rektor baru Universitas Kristen Satya Wacana periode 2017-2022 kian santer terdengar di sudut-sudut kampus hijau ini. Tapi sudah sejauh apa?

Pertama, dalam pemilihan rektor, alurnya dimulai dari sosialisasi tata cara pencalonan rektor dalam forum rapat senat. Selanjutnya pendaftaran dilakukan pada 16 Januari-28 Februari 2017. Pendaftaran tersebut mencuatkan empat nama: Christantius Dwi Atmaja dan Neil Semuel Rupidara dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Ferdy Rondonuwu dari Fakultas Sains dan Matematika, serta Danny Manongga dari Fakultas Teknologi Informasi.

Di awal Juni 2017, sudah mencuat kabar di media sosial bahwa dari keempat calon rektor, terpilihlah Neil Semuel Rupidara. Onesimus Dani, Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW), juga membenarkan kabar tersebut. Anehnya, terpilihnya Neil terjadi pada 2 Juni 2017, sebelum pemilihan rektor yang mana tertulis akan dilaksanakan pada 1 Agustus 2017 – dengan kata lain lebih cepat dua bulan.

Dalam unggahan surat Senat UKSW kepada Pembina YPTKSW per 19 Juli 2017 pada akun Facebook milik Yakub Adi Krisanto, dosen Fakultas Hukum UKSW, Senat UKSW mengirimkan surat No. 238/SU//7/2017 kepada Pembina Yayasan. Isi suratnya, senator meminta tanggapan atas keputusan Pembina YPTKSW memilih Neil sebagai rektor. Dalam surat itu, senat juga menilai Pembina YPTKSW abai terhadap pertimbangan normatif bahwa rektor terpilih memiliki jabatan fungsional akademik profesor.

Jadwal pemilihan Rektor UKSW.

Dalam surat itu, senat secara aklamasi juga meminta Neil untuk mengundurkan diri sebagai rektor terpilih 2017-2022. Pada butir kelima isi surat itu, disebutkan kalau 1 September 2017, John Titaley akan mengundurkan diri dari jabatannya. Ada catatan khusus sebelum JT mundur, yaitu ia memberhentikan lebih dulu seluruh pejabat struktural dan ketua-ketua unit dari tingkat universitas, fakultas, dan program studi. Namun nyatanya, rektor yang pernah menjabat tiga periode itu urung mundur sampai sekarang.

Konflik hasil pemilihan rektor ini sempat digadang-gadang di kalangan alumni sebagai Kemelut UKSW jilid 2. Sebelumnya, UKSW pernah geger karena hal serupa: hasil pemilihan rektor.

Baca juga: Majalah Scientiarum “MAAF KESIANGAN” Edisi 22/November 2016

‘Surat Cinta’ Buat Neil

Usut punya usut, sebelum Senat UKSW bersurat kepada Pembina YPTKSW, sebenarnya mereka lebih dulu melayangkan surat kepada Neil pada 7 Juli 2017. Isinya jelas: Senat minta Neil mengundurkan diri dari kursi rektor terpilih.

Namun tidak ada tanda-tanda Neil bakal mengundurkan diri. Bahkan lima hari setelahnya, Neil menanggapi surat dari Senat UKSW.  Merujuk pada suratnya yang berjudul Tanggapan Senat Atas Pilrek 2017 UKSW, pada paragraf pertama disebutkan bahwa surat tersebut salah alamat. “Sikap dasar saya, merujuk surat Senat adalah, Senat tampaknya salah alamat. Surat Senat mengindikasikan bahwa Senat hendak mempertanyakan hasil dari proses pemilihan rektor periode 2017-2022. Sebagaimana adanya, proses pemilihan Rektor UKSW periode 2017-2022 diselenggarakan oleh Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) atau bisa disingkat Pembina. Saya adalah peserta dalam pemilihan itu, yakni sebagai Calon Rektor, yang selanjutnya berdasarkan hasil pemilihan pada 2 Juni 2017 telah ditetapkan sebagai Rektor Terpilih, yang telah diumumkan di depan forum rapat Pembina dan dihadiri juga oleh calon-calon Rektor lainnya,” tulis mantan ketua SMU ini, seperti di dalam surat itu.

Baca juga: Setelah Minta Maaf, UKSW Mau Apa?

Lebih lanjut, surat itu menegaskan bahwa jika Senat UKSW atau lebih tepatnya beberapa anggota di dalamnya tidak puas dengan hasil keputusan, maka seharusnya disampaikan kepada Dewan Pembina YPTKSW, bukan kepada dirinya. Atas dasar Peraturan Pemilihan Rektor Periode 2017-2022 (SK Pembina No. 249/B/YSW/XII/2016), Neil juga berargumen bahwa tidak ada relasi kelembagaan antara Senat UKSW dengan para calon rektor.

Scientiarum juga meminta konfirmasi dari Senat UKSW terkait surat-menyurat antara pihaknya dengan Neil. SA berusaha menghubungi John Titaley sebagai Ketua Senat UKSW untuk mengkonfirmasi terkait surat-menyurat tersebut dua kali, melalui aplikasi Whatsapp, 31 Agustus dan 16 Oktober, namun pesan tersebut tidak kunjung dibalas. Yari Dwikurnianingsih, Sekretaris Senat, juga enggan memberikan informasi, “Maaf, saya tidak bisa memberikan informasi terkait hal itu,” saat dihubungi melalui pesan Facebook pada 19 Agustus 2017.

Saat SA mengkonfirmasi tentang surat tersebut kepada Neil, dia enggan buka suara. “Saya hargai kalian punya kerja, tapi kalau soal pilrek, sekarang enggak dulu deh,” sanggah laki-laki pejabat Pembantu Rektor V ini, saat ditemui di Kafetaria UKSW pada 24 Agustus 2017.

Ilustrasi oleh Cribe33

Spanduk Siluman dan ‘Kubur Kabar Kabur’

Antara 18-20 September 2017, spanduk yang bertuliskan “Pusat Studi Kajian Kelembagaan” terbentang di antara Plaza UKSW dan Gedung Lembaga Kemahasiswaan UKSW. Dalam spanduk tersebut tertulis ucapan selamat kepada Neil selaku rektor terpilih periode 2017-2022 dan terima kasih kepada John Titaley atas pengabdian selaku rektor UKSW periode 2013-2017.  Ucapan selamat tersebut terpampang lebih dini dua bulan sebelum rektor terpilih resmi dilantik pada saat Dies Natalis UKSW 30 November 2017.

Berdasarkan penelusuran SA, pemasangan spanduk tersebut belum seizin Kepala Sub Bagian (Kasubag) Satpam. Karena tidak melalui prosedur pemasangan spanduk melalui Kamtibpus, malamnya spanduk ‘siluman’ itu langsung diturunkan.

Baca juga: Spanduk Ucapan Selamat Rektor Terpilih, dari Siapa?

Saat kami coba menanyakan kepada Marthen L. Ndoen, Ketua Program Pascasarjana Studi Pembangunan, dirinya menjelaskan bahwa Ketua Pusat Studi Kajian Kelembagaan adalah Neil Semuel Rupidara. “Yang menjadi ketua adalah Pak Neil. Silakan hubungi dia,” klarifikasi Marthen ketika diwawancara SA.

Setelah kasus spanduk itu, 4 Oktober 2017, Pembina Harian YPTKSW melayangkan surat kepada Rektor UKSW perihal penegasan keputusan pihaknya. Pembina menyampaikan keputusan rapat Pembina pada 2 Juni 2017, bahwa telah menetapkan rektor terpilih periode 2017-2022 atas diri Neil Semuel Rupidara.

Pembina juga meminta John Titaley untuk memfasilitasi magang Rektor Terpilih. Selain itu, rektor saat ini diminta untuk menindaklanjuti persiapan pelantikan dan serah terima tanggal 30 November nanti.

Beda Salatiga dengan Katalunya, awal Agustus 2017, portal berita sepakbola goal.com menerbitkan laporan bahwa klub raksasa  FC Barcelona sedang ‘dihancurkan’ dari dalam klub. Joan Laporta, Presiden Klub periode 2003-2010 mengatakan, pihak direksi Barcelona yang kini dikepalai Presiden Jose Bartomeu tidak transparan dalam mengelola klub. Mulai dari promosi pemain muda akademi La Masia yang menurun, lebih banyak belanja pemain luar klub, hingga skandal penipuan pajak transfer pemain.

“There is no transparency when it come to explaining things, there is no sufficient information. Everything is very dark at Barca, not at all transparent,” kata Juan Laporta. Inti terjemahannya begini: Tidak ada penjelasan yang transparan dan gamblang terkait manajemen di Barca. Semuanya serba gelap.

Meski dua hal yang berbeda, ada kemiripan pada kasus pemilihan rektor UKSW dengan manajemen di FC Barcelona. Masih banyak hal yang tidak dapat SA ketahui, karena hampir semua pihak bungkam. Ada apa dengan UKSW?

 

Axel Priya Mahardika, Pemimpin Umum LPM Scientiarum periode 2017-2018.

Redaktur Tamu: Arya Adikristya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *