Kekerasan Seksual: Jangan Pernah Salahkan Korban!

Browse By

Selasa, 7 November 2017 lalu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Salatiga mengadakan sosialisasi Penanggulangan Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Gedung Sekretariat Daerah, Salatiga. Sosialisasi ini berangkat dari fenomena maraknya kekerasan seksual yang terjadi pada anak dan remaja. Pesertanya merupakan siswa-siswi perwakilan dari SMP dan SMA se-Salatiga.

Sesi pertama dibawakan oleh Dian Sasmita, seorang ibu yang juga ketua Sahabat Kapas, organisasi yang mengusung kepedulian dan pembinaan anak-anak dalam kondisi khusus dan rentan (AKKR). Dian memaparkan, Belakangan ini makin banyak terjadi kasus kekerasan seksual. Tidak hanya terjadi pada remaja, anak-anak juga kerap menjadi pelaku kekerasan dan eksploitasi seksual. Data menyatakan bahwa 50% dari anak-anak yang masuk ke rutan disebabkan oleh kasus kekerasan seksual.

Saat Dian bertanya mengenai apa itu kekerasan seksual, terlihat peserta menjawabnya dengan malu-malu. Seorang anak menjawab kekerasan seksual merupakan tindak kekerasan yang dilakukan di bagian kemaluan seseorang.

Setelah mengklarifikasi hal-hal tentang kekerasan seksual, Dian kemudian bertanya apakah peserta pernah mengalami atau melakukan tindakan serupa. Beberapa peserta mengangkat tangan dan mengaku pernah melakukan tindakan seperti menarik pakaian dalam temannya, menyentuh pantat, sampai menginjak kemaluan teman atau yang biasa dikenal sebagai kegiatan nyetarter. Namun, mereka meganggapnya hanya sekedar candaan kepada teman.

Mengakhiri sesinya, Dian mengajarkan beberapa cara untuk terhindar dari tindak kekerasan seksual seperti menolak ajakan orang yang tidak dikenal, berani berkata tidak dan berteriak, serta menghubungi orang-orang yang dipercaya dan menghimbau peserta untuk tidak takut melapor jika mereka mengalami atau mengetahui kejadian kekerasan seksual.

Setelah sesi selesai, Dian pun membuka sesi tanya jawab. Salah satu peserta bertanya perihal tata cara berpakaian seseorang, apakah hal tersebut dapat mengundang tindak kekerasan seksual. “Itu cara pandang yang salah, dek,” jawab ibu satu anak tersebut. Dian menekankan bahwa dalam tindak kekerasan seksual, korban adalah korban dan tetap pelakulah yang melakukan kesalahan. Wanita lulusan Universitas Sebelas Maret tersebut juga menjelaskan bahwa sejumlah besar korban kekerasan seksual adalah perempuan berhijab dan perempuan dengan baju tertutup yang wajar.

“Kekerasan seksual tidak ada hubungannya dengan tingkat keagamaan,” tambah Dian. Dia menceritakan juga kejadian kekerasan seksual terhadap beberapa murid di sebuah pesantren yang disebabkan oleh seorang guru disana –padahal pesantren merupakan sekolah yang diidentikkan dengan keagamaan yang kuat.

Peserta sosialisasi dari pelajar sekolah menengah se-Salatiga. Foto oleh: Delaneira Timothea

Selesainya sesi Dian Sasmita, dilanjutkan sesi baru oleh Epsilon Dewanto yang merupakan seorang dokter yang juga ahli dalam bidang psikologi. Sesi dibuka dengan beberapa pertanyaan, serta permainan dan kuis yang mengundang gelak tawa para peserta. Setelah ice breaking, Epsilon menjelaskan tentang beberapa penyimpangan seksual yang disebabkan oleh kelainan psikologis seperti kelainan orientasi seksual, homoseksual, transgender, sampai pedofilia.

Dokter yang juga sering menjadi dosen tamu di UKSW ini memberikan penjelasan tentang penyakit-penyakit menular akibat aktivitas seksual seperti HIV AIDS, gonorrhea dan sifilis.

Selain itu, dia  menceritakan bagaimana perasaan korban tindakan kekerasan seksual dan dampaknya pada korban bisa sangat parah seperti depresi berat dan membutuhkan penyembuhan secara terapi psikologis. Pria asal Yogyakarta itu membawakan sesinya dengan bahasa yang ringan dan sesekali melontarkan candaan sehingga membuat seluruh  peserta tertawa.

Saat sesi tanya-jawab dibuka, salah satu penanggap merupakan guru dari salah satu SMK di Salatiga. Di tempatnya mengajar, dirinya kerap menemukan siswanya melakukan tindakan pelecehan seksual, tetapi hal tersebut tidak diproses sampai ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, melainkan diselesaikan secara kekeluargaan oleh pihak sekolah. Beberapa siswa dikatakan melakukan tindakan pelecehan yang tergolong ringan, sehingga permasalahan tersebut hanya ditangani oleh pihak bimbingan konseling di sekolah tersebut.

Tindakan pelecehan seksual kerap terjadi dan dilakukan dengan dalih bergurau dengan teman sehingga terkadang hanya dianggap sebagai persoalan yang sepele, sehingga edukasi menjadi sangat penting untuk menyadarkan bahwa pelecehan seksual bukanlah suatu hal yang sepele.

Setelah acara usai, Scientiarum mewawancarai dua peserta yang berasal dari SMP Negeri 8 Salatiga, salah satunya adalah Panji. Panji mengatakan bahwa kegiatan ini cukup menarik karena membuatnya mengetahui tentang bermacam-macam kekerasan seksual yang tidak baik untuk dilakukan. Panji juga mendapatkan kesadaran untuk saling mengingatkan teman-temannya di sekolah agar tidak melakukan kekerasan seksual.

Septi, teman Panji yang juga dari SMPN 8 mengatakan bahwa dengan acara tersebut, sebagai seorang perempuan ia jadi tahu bagaimana menghindari kekerasan seksual. “Sebagai perempuan, kita harus bisa menjaga diri, sopan dalam berpakaian dan tidak keluar malam-malam sendirian,” katanya.

Kegiatan sosialisasi seperti ini memang sedang digiatkan oleh pemerintah dan nantinya akan diadakan edukasi seksual di setiap sekolah Kota Salatiga, karena dengan adanya sosialisasi seperti ini dapat mencegah bertambahnya korban kekerasan seksual.

 

Delaneira Timothea, staf redaksi Scientiarum, mahasiswa fakultas Psikologi angkatan 2016

Redaktur: Axel Priya Mahardika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *