Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Dosen Yang Mahasiswa dan Mahasiswa Yang Dosen

Rubrik Opini oleh

Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau (Soe Hok Gie)

Kalimat di atas adalah kutipan Soe Hok Gie dari bukunya, Catatan Seorang Demonstran (LP3ES: 2005). Apabila subjek-subjek tersebut digantikan dengan dosen dan mahasiswa, maka bunyinya kira-kira seperti ini “Dosen yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Dosen bukan dewa dan selalu benar. Dan mahasiswa bukan kerbau”.

Ketika membaca kutipan-kutipan di muka, seakan-akan muncul pandangan-pandangan negatif terhadap sosok pendidik dan pengajar ini. Lantas, apakah benar demikian, seorang guru dan dosen merupakan sosok layaknya dewa yang tahu segalanya dan selalu benar?

Dalam UU RI No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, secara eksplisit menyatakan bahwa guru atau dosen merupakan pendidik dan pengajar. Sebagai pendidik, dia bertugas mendidik murid atau mahasiswa menjadi pribadi yang berkarakter dan kritis serta reflektif terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Sedangkan sebagai pengajar, dia bertugas memenuhi keingintahuan murid dan mahasiswa terhadap suatu ilmu pengetahuan. Lalu, di manakah guru atau dosen harus menempatkan diri terhadap murid atau mahasiswa?

Paulo Freire, dalam mahakaryanya yang terkenal, Pendidikan Kaum Tertindas (LP3ES:2008) memperkenalkan sebuah konsep yang menggambarkan pendidikan saat ini, yaitu pendidikan gaya bank yang ciri-cirinya sebagai berikut:

  1. Guru mengajar, murid diajar.
  2. Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa.
  3. Guru berpikir, murid dipikirkan.
  4. Guru bercerita, murid patuh mendengarkan.
  5. Guru menentukan peraturan, murid diatur.
  6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui.
  7. Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya.
  8. Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.
  9. Guru mencampuradukkan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang dia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid.
  10. Guru adalah subjek dalam proses belajar, murid adalah objek belaka.
Knowledge. Ilustrasi oleh: Chris

 

Tak dapat dipungkiri bahwa kesepuluh ciri pendidikan gaya bank di atas dapat kita amati dan rasakan sendiri dalam setiap jenjang pendidikan kita, dimulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi. Ciri-ciri tersebut menunjukkan bahwa posisi guru atau pun dosen berada di atas murid atau mahasiswa. Dengan kata lain, hubungan antara guru atau dosen dengan murid atau mahasiswa adalah hubungan yang vertikal.

Pendidikan gaya bank menunjukkan bahwa tidak ada dialog antara guru atau dosen dengan murid atau mahasiswa. Guru atau dosen menyetor realitas atau pengetahuan secara mentah-mentah kepada murid atau mahasiswa tanpa adanya dialog terlebih dahulu. Ini disebabkan karena pendidik/pengajar menganggap yang dididik/diajar sebagai objek. Subjek ialah guru atau dosen, sedangkan objek ialah murid atau mahasiswa. Padahal, menurut Freire, pendidik/pengajar dan yang dididik/diajar merupakan subjek-subjek yang sama-sama berdialog membahas objek yaitu realitas atau ilmu pengetahuan.

Penulis mengangkat fenomena yang terjadi di tempat penulis sedang menempuh pendidikan tinggi saat ini yaitu Universitas Kristen Satya Wacana. Pada beberapa kelas yang penulis ikuti, gaya pendidikan bank seperti ini sangat mudah ditemui. Indikatornya mudah saja, seperti banyak mahasiswa yang sering terlambat, bermain gawai, mengobrol di kelas, serta berdiam diri ketika ditanya atau diberi kesempatan bertanya. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa dosen cenderung berfokus pada materi semata. Dosen bercerita panjang lebar mengenai materi atau membaca slide-slide presentasi yang banyak jumlahnya. Dosen hanya berusaha memasukkan materi secara paksa kepada mahasiswa tanpa ada dialog atau diskusi antara keduanya. Maka yang timbul ialah hal-hal yang sudah penulis sebutkan di muka. Kelas seakan-akan mati.

Beruntung tidak semua kelas berjalan seperti yang penulis deskripsikan di muka. Kelas Mata Kuliah Umum (MKU) yang penulis ikuti selama ini dapat menjadi salah satu contoh. Dalam kelas MKU, pendidikan dan pengajaran diadakan melalui presentasi dan diskusi. Mahasiswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok mendapatkan materi yang dipelajari dan didiskusikan untuk dipresentasikan di kelas. Lalu ketika di kelas, hasil presentasi itu akan didiskusikan bersama dengan kelompok mahasiswa lain dan dosen. Di sini kelas serasa hidup, sebab subjek-subjek yaitu mahasiswa dan dosen sama-sama berdialog mengenai objek yang sama yaitu materi presentasi tersebut. Dialog itu ditandai dengan adanya tanya-jawab, saran, dan kritik oleh subjek-subjek itu sendiri. Saat itu pula seorang dosen tidak merasa tahu segala-galanya, tetapi dia juga belajar dari mahasiswanya. Dan tentu saja mahasiswa perlu juga menerima saran serta kritik dari dosen karena dosen ialah orang yang duluan lebih tahu atau paham soal materi tersebut. Jadi, di sini bisa kita lihat bahwa hubungan antara dosen dan mahasiswa adalah hubungan yang horizontal. Freire, meskipun ini terdengar aneh, namun cocok mengistilahkan ini dengan guru yang murid dan murid yang guru (dosen yang mahasiswa dan mahasiswa yang dosen).

Sejujurnya, penulis tidak ingin membanding-bandingkan atau menunjukkan kelas mana yang baik dan mana yang tidak. Penulis juga tidak ingin semata-mata mengkritik dosen-dosen yang tidak menggunakan metode atau gaya mengajar seperti yang sudah penulis jelaskan di muka. Niat penulis ialah mengajak pembaca, khususnya mahasiswa dan dosen agar menyadari peran pentingnya masing-masing dalam proses pendidikan ini. Kita adalah subjek-subjek yang sama-sama mempelajari, mendiskusikan, dan mengkritisi serta menciptakan objek yaitu realitas dan ilmu pengetahuan. Artinya antara satu dengan yang lain bukan hanya saling menggurui, tetapi sama-sama saling mengajari sekaligus diajari. Di sinilah sesungguhnya pendidikan itu bernilai. Untuk mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengutip sebuah kalimat dari guru SMA penulis yang sering diucapkan bila ada presentasi di kelas dulu, “Jangan di antara kamu atau saya merasa pintar. Saya guru dan kamu murid, kita sama-sama bodoh. Kita bodoh makanya sama-sama belajar, belajar untuk sama-sama benar.”

Ad Maiorem Dei Gloriam.

Rezki Benedikto, mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Angkatan 2016

Editor: Stephen Kevin Giovanni

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas