Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Pembina Yayasan Buka Suara Terkait Isu Pilrek

Rubrik Kampus oleh

Senin (27/11) Scientiarum mewawancarai Samuel Adiperdana, Sekretaris Umum Yayasan Pendidikan Tinggi Satya Wacana (YPTKSW). Mewakili yayasan, Samuel buka suara soal polemik pemilihan Rektor UKSW untuk periode 2017-2022. Seperti diketahui, semenjak isu pemilihan rektor mencuat Juni lalu, informasi soal apa yang terjadi pada pemilihan rektor memang sangat sedikit serta hanya segelintir narasumber yang kami wawancarai buka suara terkait hal  ini.

Berita ini  dibuat bukan bertujuan memperdebatkan atau mengadu domba pihak-pihak yang terlibat dalam isu pilrek, melainkan Scientiarum mencoba memberi gambaran mengenai segala hal yang terjadi selama bergulirnya isu pilrek tersebut dari sudut pandang pembina yayasan yang memiliki kewenangan untuk memilih calon rektor dan menetapkannya sebagai rektor terpilih.

Maka dari itu, simaklah wawancara kami berikut:

Bagaimana sebenarnya awal polemik pemilihan rektor ini terjadi, dan mengapa linimasa (rundown) pemilihan rektor yang sudah ditetapkan terjadi perubahan?

Yang pasti, seluruh proses (pemilihan rektor -red), melibatkan empat unsur utama, yakni dari pihak yayasan ada pembina harian, pengurus, dan pengawas. Sedangkan perwakilan dari senator universitas ialah Ketua Senat Universitas, yakni Pak John (John Titaley -red). Alasan perubahan jadwal pemilihan rektor pada waktu itu, ialah karena semua persyaratan para calon rektor sudah komplit dan siap dilakukan pemilihan. Jika tetap mengacu pada linimasa awal, terlalu lama menunggu pemilihannya. Namun semua tata cara, perubahan jadwal, dan lain-lain sudah disepakati oleh keempat pihak tadi dalam forum rapat koordinasi.

Awalnya rencana pemilihan rektor itu akan dimajukanpada 1 Juni (pada linimasa 1 Agustus -red), namun karena ada sesuatu hal, akhirnya diundur satu hari kemudian, yakni 2 Juni. Namun perubahan itu juga sudah disepakati pihak yayasan dan senator.

Setelah pemilihan tersebut, bagaimana tanggapan pihak senat saat itu?

Setelah rapat pleno pembina yayasan untuk memilih calon rektor pada 2 Juni, kami mengundang para calon rektor yang tidak terpilih untuk datang pada penandatanganan berita acara penetapan rektor baru. Mereka menyampaikan pesan dan kesan, dan juga mengucapkan selamat atas terpilihnya pak Neil. Begitupun John Titaley juga mengucapkan selamat atas terpilihnya rektor baru.

Selang beberapa waktu, munculah surat dari senat universitas, yang isinya menolak keputusan pembina yayasan dalam menetapkan rektor baru. Alasannya, aspirasi dari senator yang menghendaki rektor baru memiliki gelar profesor, tidak terpenuhi. Senator saat itu berpendapat, bahwa calon rektor yang memiliki gelar profesor menjadi  salah satu pertimbangan yang diutamakan. Hal ini juga merujuk pada tradisi rektor-rektor sebelumnya yang punya gelar profesor.

Kamipun heran dengan munculnya surat dari senat ini, karena saat momen pengukuhan rektor baru, tak ada penolakan atau mempertanyakan hasil pemilihan ini. Sikap kami dari pihak pembina, tak ada ketentuan yang mengatur bahwa Rektor UKSW haruslah memiliki gelar profesor.

NB: Dalam pemilihan rektor, terdapat 4 orang yang mencalonkan diri. Mereka adalah :

  1. Prof. Christantius Dwiatmadja, SE. ME. Ph.D
  2. Prof. Ir. Daniel Herman Fredy Manongga, M.Sc. Ph.D
  3. Prof. Ferdy Semuel Rondonuwu, S.Pd. M.Sc
  4. Neil Semual Rupidara, SE. M.Sc. Ph.D

Lalu, apakah pihak yayasan pernah mengadakan rapat dengan pihak senat untuk membahas perihal penolakan tersebut?

Pernah. 4 September lalu di Ruang Probowinoto. Kami mengadakan rapat pleno dengan agenda tunggal, yakni memberi penjelasan mengenai  pemilihan rektor oleh yayasan. Pertemuan itu dihadiri oleh seluruh anggota senat dan pembina yayasan. Kebetulan saat itu, John Titaley berhalangan datang karena sedang ke Amerika Serikat, dan posisinya diwakilkan oleh sekretaris senat saat itu, Yari Dwikurnaningsih.

Saat itu banyak pertanyaan yang muncul dari para senator. Ada yang mempertanyakan soal prosedur dan tatacara pemilihan rektor. Ada juga yang mempertanyakan mengapa rektor yang terpilih tak memiliki gelar profesor, dan lain sebagainya.

Setelah berdiskusi, Yari mewakili senator menyatakan menerima penjelasan pihak yayasan soal pemilihan rektor. Semua ada rekamannya, baik audio maupun visual. Pikir kami, masalah itu sudah selesai karena kesimpulannya, pihak senat menerima penjelasan kami.

Beberapa hari kemudian, kami mendapat laporan bahwa pihak senat telah mengadakan rapat, dan menghasilkan keputusan bahwa senat universitas menolak penjelasan dari yayasan soal penjelasan pemilihan rektor yang digelar 4 September itu. Keputusan itu disampaikan melaui surat yang ditujukan kepada pembina.

Ilustrasi Rektorat. (foto oleh: Axel Priya Mahardika)

 

Apa tindak lanjut dari pembina dalam menanggapi hal ini?

Setelah muncul keputusan senat itu, kami dua kali bertemu John Titaley, dalam kapasitasnya sebagai ketua senat universitas. Dalam dua pertemuan itu, kami menjelaskan kembali perihal apa yang terjadi soal pemilihan rektor.

Tapi persoalannya kini bergeser, yang tadinya hanya mempermasalahkan soal rektor baru yang bukan profesor, menjadi hal yang mereka anggap “menyalahi etika dan moral”, yang dilakukan oleh rektor terpilih, Neil Rupidara. Nah, hal inilah yang sampai sekarang kami sedang selidiki perihal pelanggaran etika dan moral yang dimaksud.

Beberapa waktu setelahnya, kami mendapatkan surat mengenai pemberian sanksi kepada Neil sebagai Pembantu Rektor 5. Kamipun juga ingin tahu, mengapa Neil diberi sanksi, dan atas perbuatan apa hingga Neil diberhentikan dari jabatannya. Bahkan saat kami tanyakan hal ini kepada John Titaley, ia hanya menjawab bahwa persoalan itu sudah jelas karena pelanggaran etika. Namun kami tak pernah dapat penjelasan seperti apa pelanggaran etika yang dimaksud. Sesuai aturan yang ada, pemberian sanksi ada tahap-tahapnya. Tapi kenyataanya, Neil langsung dapat sanksi.

Jika merujuk statuta UKSW pasal 22, disebutkan bahwa pembantu rektor diangkat dan diberhentikan atas sepengetahuan pihak pembina. Memang saat itu John Titaley mengirim surat perihal  pemberhentian Neil kepada kami, namun pihak pembina menunda untuk merespon pemberhentian tersebut, karena kami sebagai pembina tak dapat penjelasan soal pelanggaran yang dimaksud.

Sekitar bulan Agustus lalu, ada surat yang bocor ke media sosial perihal ultimatum pihak senat, apabila Neil Rupidara tak mundur sebagai rektor terpilih, John Titaley mengancam mundur dan akan memecat seluruh dekan. Bagaimana tanggapan pembina mengenai hal ini?

Iya, kami juga tahu  soal itu. Kami saat itu mengirimkan surat kepada John Titaley agar tidak melakukan tindakan seperti yang ditulis pada surat ancaman itu. Kami mengimbau agar pelayanan kampus tetap  berjalan seperti biasa. Kami dalam surat balasan ke rektor itu juga menawarkan diadakannya pertemuan dengan John Titaley untuk membahas hal ini. Maka, akhirnya terwujud juga pertemuan pembina dengan seluruh anggota senat pada 4 September tadi.

Kami juga mendapat kabar bahwa pihak senat mengusulkan adanya penunjukan pelaksana tugas rektor selama setahun oleh pembina. Apakah itu benar? Jika Benar, bagaimana tanggapan pembina?

Soal itu, kami juga dikirimi surat oleh senat mengenai hal tersebut. Namun pembina memiliki sikap menolak usulan tersebut, karena hal itu sama saja kami anggap penolakan senat terhadap keputusan pemilihan rektor oleh pembina.

Pelantikan rektor tinggal menunggu hari. Apa harapan anda dan seluruh pembina soal polemik pemilihan rektor yang selama ini terjadi?

Senin (kemarin -red), 27 November 2017 jam 8 pagi, kami mengadakan rapat bersama dengan perwakilan senat universitas. Pada pertemuan tadi, kami sebagai pembina berharap agar pihak senator segera menggelar rapat terbuka senat untuk melantik Neil Rupidara sebagai rektor definitif. Jika merujuk aturan, pelantikan rektor baru dilakukan lewat rapat terbuka senat. Kami juga berharap agar semua elemen menghormati dan menghargai keputusan yang telah disepakati dan tertuang dalam aturan yang ada.

Namun jika memang pihak senat belum atau tidak menggelar rapat terbuka untuk melantik Neil, kami para pembina rencananya akan mengadakan rapat pleno pembina untuk melantik Neil Rupidara sebagai rektor definitif pada 30 November besok. Kita tidak ingin setelah 30 November, ada kekosongan jabatan yang mengganggu aktivitas di kampus ini. Itu kemungkinan terburuknya. Namun kami tetap berharap Neil bisa dilantik dalam rapat terbuka senat universitas.

Kami para pembina juga tak memandang posisi kami secara  mentah-mentah. Kami bisa saja menggunakan kewenangan kami untuk menolak langkah-langkah yang diambil senat selama ini dalam hal mempertanyakan pemilihan rektor. Selama ini kami juga telah berinisiatif melakukan langkah pastoral, yaitu memberi ruang kepada senat untuk bersuara perihal mempertanyakan pemilihan rektor. Semua itu kami layani dan kami sudah jelaskan semuanya dan apa adanya.

Kami selama ini telah banyak menolerir tindakan-tindakan senat, yang menurut kami juga sebenarnya melanggar aturan. Kami menganggap senat juga saudara kami. Semua ini demi apa? Ya demi UKSW agar tetap kondusif dan tak terjadi keributan yang jelas tak produktif.

Robertus Adi Nugroho, Jurnalis Scientiarum

Redaktur: Axel Priya Mahardika

9 Comments

  1. Saya menggaris-bawahi kalimat terakhir dari Pembina Yayasan yang menurut sata sangat penting untuk kita camkan bersama. Semuanya demi UKSW tetap kondusif dan tak terjadi keributan yang jelas tak produktif. Marilah kita semua belajar berjiwa besar menerima segala keputusan yang sudah dibuat apabila sudah diambil sesuai prosedur yg benar walaupun tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan kita. Marilah kita melihatnya demi kepentingan yg lebih besar. Tuhan beserta kita.

  2. Kami meralat adanya kesalahan penulisan tanggal pada alinea yang menjelaskan bahwa adanya pertemuan antara pembina dan perwakilan senat. di berita tersebut tertulis Rabu 27 November kemarin. Yang benar ialah Senin 27 November. Terimakasih 🙂

    TTD,
    Axel P.
    Penyunting

  3. Kalo semuanya untuk kebaikan UKSW ya kenapa tidak, toh pihak-pihak yg menolak dengan alasan keberatan dengan ‘ritual’ professor sejak dulu juga terdengar mengada-ada, kalo ada survey pun yg dilakukan “mungkin” sebagian mahasiswa akan setuju-setuju saja dengan keputusan yang ada atau malah ikut-ikutan dengan suara terbanyak. Harapan sendiri sebagai mahasiswa acuh tak acuh yang ingin segera lulus sih, yang terbaik saja buat kampus tercinta. UKSW!

    • Syukur Puji Tuhan Yesus, walaupun ada saja pihak yang tidak setuju dengan Rektor Baru yang belum jadi Profesor namun karena rencana Tuhan tidak gagal, maka UKSW bisa mempunyai Rektor Non Gelar Profesor pertama kali. Selamat atas dilantiknya Bapak Neil Semuel Rupidara, SE., M.Sc., Ph.D sebagai Rektor Universitas Kristen Artha Wacana Salatiga periode 2017-2022. Tuhan Yesus memberkati.

  4. Pak dr Habel Marthen Ndoen…. Bpk itu teliti dahulukah commentnya atw hanya punya iseng2 saja… Selamat atas dilantiknya Rektor UKSW Salatiga…

  5. Agar clear, seharusnya dicantumkan pula seluruh gelar dari setiap rektor UKSW pada saat pertama kali dilantik sebagai rektor. Mungkin perhatian dan catatan saya ada yang keliru menyangkut tradisi GURU Besar sebagai REKTOR. Tahun berapa Pak Noto menjadi REKTOR dan tahun berapa pula memperoleh Gelar Maha Guru? Pak Soetarno kapan menjadi Maha Guru dan kapan menjadi REKTOR?’Demikian pula Pak Willi, Pak Joy Ihalauw, Pak John Titaley, Pak Kris, Pak John Titaley. Penjelasan tentang hal ini secara kronologis tentunya dapat mendukung dalih atau argumen tradisi Profesor Sebagai REKTOR.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas