Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Usai Dies Natalis Ke-61, Pembina Angkat Rektor Baru

Rubrik Kampus oleh

Hari ini, ulang tahun UKSW ke-61 dirayakan dengan dua acara yang terpisah, yakni Dies Natalis ke-61 dan Pelantikan Rektor. Dua acara ini diselenggarakan oleh dua pihak yang berbeda; Dies Natalis ke-61 diadakan Senat Universitas, sedangkan Pelantikan Rektor dan pelaksana tugas (Plt) Pembantu Rektor diadakan oleh Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW).

Dies Natalis diadakan pukul 09.00 WIB, sedangkan Pelantikan Rektor diadakan pukul 12.00 WIB; di Balairung Universitas (BU).

Dalam acara Dies Natalis  John Titaley menyampaikan pidato pertanggung jawabannya sebagai rektor periode 2013-2017. Dalam pidatonya dia menyampaikan bahwa dirinya sudah berusaha membangun sistem yang berada di UKSW ini menjadi lebih baik.

Setelah pidato John selesai, Sekretaris Pembina YPTKSW, Samuel Adiperdana, naik ke podium untuk membacakan Surat Keputusan (SK) pemberhentian dengan hormat rektorat periode 2013-2017: Rektor John, Pembantu Rektor (PR) I Ferdy Semuel Rondonuwu, PR III Arief Sadjiarto, PR IV Martha Nandari S. Handoko, dan PR V Neil Semuel Rupidara.

Pelantikan Rektor dan Plt Pembantu rektor. Foto oleh: Andreas Reuben Oktavius. Dok.Scientiarum

Rapat Pleno YPTKSW

Dua jam setelah Dies Natalis selesai, YPTKSW mengadakan Rapat Pleno Pembina. Dalam Rapat Pleno Pembina ini ada dua agenda penting, yaitu pengangkatan rektor dan pelaksana tugas (Plt) pembantu rektor, dilanjutkan dengan pidato perdana Neil Semuel Rupidara selaku rektor periode 2017-2022.

“Secara internal, setelah melewati dinamika seputar proses Pilrek, kita semua mengerti bahwa mengurusi orang-orang di kampus UKSW yang notabene adalah orang-orang pintar dan dengan keragaman latar belakang yang tinggi adalah hal yang tidak mudah. Tidak jarang orang di UKSW ini senang berkonflik, yang bisa jadi menghabiskan energi secara kurang bijaksana; padahal tantangan, ancaman, dan tekanan yang datang dari lingkungan eksternal semakin serius,” kata Neil di awal pidatonya. Neil selanjutnya mengatakan bahwa perlu membangun mindset / cara berpikir the genius of the and (ini dan itu sekaligus), bukan the tyranny of the or (jebakan pilihan-pilihan dikotomik).

Setelahnya, Neil menyerukan motto kepemimpinannya, back to basic to move far ahead. Dalam menjelaskan mottonya, ia memaparkan sejarah UKSW dan mengutip pemikiran Notohamidjojo. Tugas, peran, dan fungsi UKSW menurut Notohamidjojo disarikan Neil menjadi: tindakan meneliti yang beririsan dengan tugas pengajaran, serta mendidik mahasiswa juga untuk menjadi pengabdi-pengabdi kebenaran membangun ilmu pengetahuan.

Setelah ia mengutip Notohamidjojo, pidatonya terhenti beberapa detik. Lalu Neil berkata pelan, “Saya malu.” Setelah itu, ia meminta hadirin merenung, apakah masih bisa menjaga sikap-sikap luhur (jujur, hikmat, rendah hati, bertanggung jawab, mengucap syukur) seperti para pendiri UKSW. Ia berjanji menerapkan sikap tanpa toleransi terhadap sikap-sikap yang menyimpang dari nilai-nilai luhur tersebut. Ia juga siap ditegur jika melakukan tindakan yang salah dan siap bertanggung jawab atas segala keputusannya. “Dari saya sendiri, jika ada yang perlu ditegur atau dikritik ya saya siap,” ujar Neil.

Di bagian akhir pidatonya, Neil meminta sivitas akademika UKSW untuk mempelajari dan menerapkan kearifan hidup para ilmuwan.

Tak hanya mengangkat Neil saja, YPTKSW juga mengangkat lima Plt pembantu rektor periode 2017-2022: Plt PR I Iwan Setyawan, Plt PR II Sri Sulandjari, Plt PR III Andeka Rocky Tanaamah, Plt PR IV Joseph Ernest Mambu, dan Plt PR V Suryasatriya Trihandaru.

 

Ditulis Stephen Kevin Giovanni, Jurnalis Scientiarum, Mahasiswa FSM UKSW, 2014. Bertemanlah dengannya di Facebook: Stephen Kevin Giovanni.

Penyunting : Tatag Maulana

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas