Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

V60 Aceh Gayo: Pengantar Obrolan Menyoal Hasan Tiro

Rubrik Humaniora oleh

Magelang adalah kota dingin, tempat bertinggal orang-orang yang cenderung kalem, pengecualian untuk orang-orang yang datang menjadi/sebagai tentara. Bagi para pemburu keindahan, Magelang adalah destinasi yang pas untuk keluar dari repitisi rutinitas kerja membosankan. Tentu dengan menyusun peta tualang mengunjungi lokasi-lokasi mengagumkan, mempelajari pemaknaan atas kebudayaan, melihat dari dekat kebiasaan bertradisi warga lokal, makanan khas, dan apa-apa saja yang menjadi ke-unik-an di dalamnya. Selain memiliki banyak destinasi pariwisata: dari Borobudur hingga Punthuk Setumbu. Magelang nyatanya tak sebatas itu, kota yang “berlangganan” penghargaan Adipura Kencana ini pun memiliki beragam warung kopi. Dari yang kelas indekos hingga borjuasi.

Coffee | © Enric Fradera / Flickr

Rumah Kopi Signature adalah salah satunya, terletak di bilangan utara Magelang. Persis kiri jalan jika berkendara dari arah Semarang-Temanggung, kanan jalan jika dari Akademi Militer dan Yogyakarta. Ruang kafe didominasi warna hitam pekat, dan memiliki ornamen serupa kredo penikmat kopi yang, misalnya, menghiasi tiap sudut dindingnya dengan teks. Tentu untuk menghadirkan nuansa manis kepada para tamu kafe. Selain itu, teks kredo yang bersifat provokatif, akan menjadi candu yang menempel dalam kerangka kepala setelah memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.

Mata saya masih berkeliaran memandangi detail-detail arsitektur dan desain ruangan yang tak pernah saya mengerti maksudnya. Musik Folk Punk ala Againts Me! keluar dari pengeras suara laptop seorang kawan pasca memesan V60 Aceh dan cappucinno. Ngomong-ngomong, cappucinno milik kafe ini menjadi minuman yang direkomendasikan dan paling populer dalam daftar menu. Begitu pula dengan appetizer: ubi melepuh.

V60 Aceh Gayo yang kami pesan menghadirkan obrolan sederhana tentang memor lirih dari militansi perlawanan Warga Aceh. Tanpa tendeng aling-aling, saya dan Anjas, kawan yang memutar romantisme Againts Me!, mencoba membangun diskusi reflektif tentang Hasan Tiro. Saya mencoba menjelaskan trade record Hasan Tiro kepada Anjas yang orang Jakarta. Tentu saya sedikit mengetahui siapa Hasan Tiro. Sebab, di Magelang saya adalah mahasiswa rantau dari Jambi.

Hasan Tiro | © Tidak terdeteksi / Google

Hasan Tiro adalah seorang tokoh pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Lahir di Pidie, Aceh, pada 25 September 1925, dan meninggal di Banda Aceh pada 3 Juni 2010. GAM adalah gerakan yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan Aceh dari Indonesia. Gerakan pimpinan Hasan Tiro tersebut resmi berdamai dengan pemerintah Indonesia pada tahun 2005 melalui Perjanjian Helsinki.

Perdamaian yang hadir tentu setelah melalui konflik bersenjata, perintah barbar penetapan Aceh sebagai Daerah Oprasi Militer (DOM), dan genosida. Dalam kurun waktu-waktu konflik, Hasan Tiro banyak menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan di Swedia. Hingga pada 11 Oktober 2008, setelah 30 tahun jauh dari tanah kelahiran, Hasan Tiro pulang dan meninggal di Aceh.

Rumah Kopi Signature tentu mengetahui bahwa tidak jauh dari sini terdapat perguruan tinggi yang di antara banyak mahasiswanya adalah para pemburu kopi. Kecuali, mereka yang mengklaim diri sebagai aktivis. Mahasiswa yang masuk dalam kategori tersebut hanya akan mengerti tentang bagaimana menjilat dan berfilsafat tentang pembebasan di dalam ekskulsifitas ruang sekretariat. Tanpa pernah dengan sadar keluar dari wilayah diskusi dan menghayati persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, apalagi mengetahui apa-apa yang menjadi kenikmatan pada kopi.

Kemunafikan yang sama ketika mereka menggaungkan jargon: mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah tulang punggung dari pada rakyat. Sebelum lebih jauh jadi utopis, alangkah lebih bijak jika mereka keluar dari ruang sekretariatan dan pergi mengunjungi warung kopi. Sehingga, setidaknya, para aktivis mahasiswa mampu merasakan sensasi yang diberikan kopi pasca tuntas diseruput. Akan lebih praksis jika harus dilakukan dengan diskusi ilmiah dan menghisap kretek.

Saya punya harapan kecil. Jika mereka, para aktvis mahasiswa telah benar-benar mampu merasakan kopi, kemudian bersepakat bahwa kopi adalah produk kearifan budaya lokal strategis yang harus dijaga, mereka mesti mencari cara untuk membantu para petani kopi mendistrubusikan, mempromosikan, hingga membuatkan pasar sendiri. Sehingga, para petani kopi Magelang, Temanggung, dan wilayah sekitarnya dapat sejahtera. Sayangnya, para aktivis mahasiswa di Magelang tidak pernah benar-benar mengerti kopi dan kenimatannya. Namun, hebatnya, mereka selalu mengerti kemunafikan.

Anjas berujar ‘’menikmati kopi adalah upaya untuk menghidupi keberlangsungan peradaban’’.

Saya sepakat dan bergegas mengamini.

Itulah mengapa setelah masuk kafe dan memesan secangkir kopi Aceh saya seketika teringkat Hasan Tiro. Bahwa, menurut saya, kopi tak bedanya dengan ilmu pengetahuan. Ia adalah sesuatu yang interdisipliner. Artinya, berkaitan dan berhubungan dengan banyak ragam unsur lainnya dalam satu kesatuan. Berkaitan dengan kebudayaan, aktivisme sosial-politik, kota, tradisi, hingga mahasiswa yang seharusnya bertugas sebagai social control dan memberdayakan kopi-kopi lokal yang, misalnya, tidak dimonopoli oleh segelintiran pemilik modal, lalu memperkenalkanya pada tingkatan regional, nasional, hingga internasional.

Anak rantau dari Jambi ke Magelang. Belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tidar.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas