Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Kamu Cantik? Siap-siap Dibidik!

Rubrik Humaniora oleh

Saat ngobrol hangat setelah kelas, sekumpulan mahasiswa asyik memainkan gawainya. Mereka fokus memantau sebuah akun Instagram yang menyajikan kumpulan foto-foto mahasiswi ‘cantik’ yang berkuliah di kampus UKSW.

“Para jomblo, coba deh cari referensi jodoh di sini,” pancing salah satu teman, sambil menunjukkan akun @uksw.cantik. Dari situlah saya pertama kali kenal dengan keberadaan @uksw.cantik.

Abigail Sandra, mahasiswi Akuntansi FEB 2014, adalah salah satu dari ratusan mahasiswi di UKSWyang fotonya masuk di akun @uksw.cantik. Saat wartawan SA tanya bagaimana awal kejadiannya, dirinya mengaku, itu hasil dari keisengan teman-temannya, yang secara sengaja mengirim fotonya ke admin @uksw.cantik.

“Kebetulan aku hobi cari spot, terus foto-foto, terus teman-teman mungkin merasa ada sesuatu yang baru dari diriku, akhirnya mereka masukkan fotoku,” jawabnya.

“Gimana perasaanmu?” tanya kami.

“Aku sih nggak keberatan, tapi campur aduk rasanya. Antara senang, terharu, bangga, karena berarti aku masuk cantiknya UKSW, cuma agak kesel soalnya dikerjain teman-teman,” kelakarnya. Dirinya juga mengaku tidak pernah mendapatkan insentif apapun setelah fotonya diunggah.

Ada juga Devita, mahasiswi Fakultas Psikologi 2016. Ia mengatakan bahwa foto yang diunggah admin di akun @uksw.cantik ini awalnya memang tidak diketahui olehnya.

“Aku gak tau, tiba-tiba di-tag gitu IG-ku,” katanya saat diwawancara, pada 23 November 2017.

Senada dengan Abigail, terunggahnya foto Devita di @uksw.cantik merupakan hasil iseng temannya. Lalu, bagaimana perasaannya saat tahu fotonya diunggah?

“Ya kaget sih,” katanya singkat.

Devita juga bercerita bahwa temannya punya pengalaman setor foto ‘cewek cantik’ ke admin @uksw.cantik. Alih-alih langsung diunggah, foto yang dikirim itu justru tak kunjung diunggah sampai sekarang. Dari sana Devita menduga, draf foto-foto yang terhimpun di admin tidak lantas semuanya diunggah ke Instagram.

Akun Satya Wacana Cantik.

Cerita lain datang dari Reswanty Tonglolangi, mahasiswi lulusan FEB angkatan 2013. Resty – begitu sapaan akrabnya – mengaku dihubungi secara pribadi oleh admin @uksw.cantik pada Oktober 2016.

“Aku dihubungi lewat Instagram sama adminnya. Minta izin gitu buat masukin foto ke @uksw.cantik,” kisah Resty melalui pesan LINE, saat diminta menjelaskan kronologinya.

Mula-mula, si Admin menyortir foto-foto dari galeri Resty di Instagram. Setelah mendapat satu foto yang dirasa ‘pas’, Admin @uksw.cantik meminta izin agar dapat menerbitkan foto yang dimaksud.

Namun, sebelum foto Resty terpampang di @uksw.cantik, dirinya diminta untuk berteman di LINE, lalu mengirimkan foto yang dimaksud oleh si Admin lewat sana. Alasannya jelas: supaya foto yang diperoleh si Admin adalah foto dengan resolusi tinggi.

Singkat cerita, Resty mengizinkan dan mengiyakan permintaan si Admin. Tapi, Resty tidak segera mengirim foto yang diminta. Resty mengaku, dia hanya sekadar mengiyakan saja, tapi tidak ada niatan untuk mengirim.

Selang beberapa hari, Resty dihubungi lagi oleh si Admin. Tanpa berkelit, akhirnya Resty menyanggupi permintaan si Admin. Jadilah, foto Resty mengudara di feed @uksw.cantik pada 4 Januari 2017.

Kenapa Resty akhirnya menurut?

“Aku gak merasa dirugikan banget. Jadi aku kasih izin aja,” jawabnya.

“Gak dirugikan banget? Berarti tetap merugikan meskipun kecil?” tanya kami.

“Ya takut sih fotonya dipakek buat macam-macam. Tapi itu kan memang sudah konsekuensi juga kalo post foto di media sosial. Dan sampe hari ini, aku belum merasa dirugikan banget dengan foto yang di-upload. Gak tahu besok-besok,” terang perempuan asal Toraja ini.

Meski begitu, di sisi lain Resty menyayangkan foto yang diunggah Admin @uksw.cantik. Antara foto yang diminta oleh si Admin, dengan yang diunggah, ternyata berbeda. Artinya, foto resolusi tinggi yang dikirim oleh Resty melalui LINE, sama sekali tidak dipakai.

“Gak tahu. Males nanya lagi. Bodo amatlah,” jawab Resty singkat.

Tidak cuma Resty, Devita dan Abigail saja yang mengalami hal serupa. Ternyata, ada sekitar 150 perempuan lain yang fotonya terpajang di akun @uksw.cantik. Menurut penelusuran SA, tidak hanya akun @uksw.cantik yang beroperasi sejauh ini, melainkan ada beberapa akun serupa baik yang ‘mengkoleksi’ foto-foto mahasiswi maupun mahasiswa di UKSW. Semisal @uksw.student, @uksw_cantik, @psikologicantik25 untuk foto perempuan; Sedangkan foto laki-laki bisa ditemukan di @uksw_gantengkece, @gantenguksw, dan @ukswkece.

 

Ilustrasi oleh Delaneira Timothea dan Pandita Novella.

Sebagai ‘Penyegar’ Timeline

Fenomena akun ‘universitas cantik’ di Instagram sudah muncul sejak beberapa tahun belakangan, seperti UI cantik, UGM cantik, dan UNIKA cantik. Jadi, kejadian seperti ini bukan hal baru di dunia maya.

Malam, 30 November 2017, dua wartawan SA bertemu dengan Admin @uksw.cantik. Pria berkacamata asal FTI ini duduk bersama seorang teman yang tak jauh dengan kami. Beberapa saat, kami tidak menyadari bahwa mereka adalah orang yang ingin kami temui, hingga akhirnya salah satu dari kami pergi bertanya apakah mereka adalah admin @uksw.cantik.

“Mas, dari uksw.cantik ya?”

Laki-laki itu mengiyakan.

Akun berslogan “Beauty comes along with brains and heart” ini terinsipirasi dari akun-akun ‘universitas cantik’ di Jawa Tengah, khususnya di Semarang. Menurut Orlando – bukan nama sebenarnya – salah satu admin @uksw.cantik, di UKSW sendiri memang ada banyak akun-akun semacam ini, tapi sekedar ada, namun tidak diurus.

“Abis bikin, ngilang, kayak cuman formalitas gitu loh,” kata Orlando.

Alasan lain, Orlando beranggapan bahwa ada kecenderungan para perempuan memang suka dipuji, lain halnya dengan laki-laki yang memang jarang saling memuji. “Jadi kalo buka timeline kan jadi nggak bosen,” imbuh Orlando.

Selain mengunggah foto-foto mahasiswi, akun yang sudah berdiri sejak Oktober 2015 ini, juga ikut mempromosikan segala bentuk kegiatan seperti acara-acara internal UKSW. Hanya saja, jika acara tersebut sudah ada di luar kampus, maka akan dikenakan tarif sesuai ketentuan.

Pesan otomatis masuk saat kami meng-add akun LINE uksw.cantik. disitu sudah ada ketentuan harga paid promote dari paket gold dengan 4 kali terbit selama sebulan seharga Rp 100 ribu, silver 2 kali terbit dengan harga Rp 50 ribu, dan bronze hanya sekali terbit dengan harga Rp 25 ribu.

“Jadi kalau di luar kampus kami memberikan tawaran paid promote (promosi berbayar -red), tapi kalau di kampus kami bebas, kami hanya ikut bantu promosi,” ungkapnya.

Di samping itu, menurut Orlando, kegiatannya ini juga untuk mempromosikan UKSW, potensi, dan bakat dari perempuan yang fotonya dipajang. Namun, setelah ditilik oleh SA, tidak ada unsur mengekspos potensi dan bakat pada keterangan foto. Melainkan hanya keterangan nama, fakultas, dan angkatan.

 

Ilustrasi oleh Delaneira Timothea

Cantik, Seperti Apa?

Menurut penelusuran SA, feeds akun ini cenderung memuat foto-foto perempuan yang memiliki ciri berambut sebahu dan panjang, tinggi, langsing dan juga memiliki kulit yang cerah. Namun kami tidak menemukan foto perempuan dengan ciri berkebalikan. Apa itu definisi cantik menurut Orlando? Dia mengiyakan.

“Apakah  ada orang yang saat dimintai fotonya, menolak untuk mengirimnya?” tanya kami.

“Oh ada, waktu itu kami minta fotonya, kita DM tapi katanya dia malu, jadi ya sudah kami lepas.”

Keberadaan @uksw.cantik ternyata tidak selalu mulus. Orlando mengaku pernah diprotes melalui pesan langsung yang meminta salah satu foto yang diunggah di @uksw.cantik untuk dihapus, karena akan menimbulkan anggapan yang negatif bagi perempuan pemilik foto tersebut.

“Kami niatnya baik (mempromosikan UKSW –red), makanya akun kami kunci dari publik. Jika ada akun-akun yang tidak jelas mengikuti kami di IG, maka akun tersebut akan kami hapus,” kisah Orlando.

Menanggapi penjelasan admin @uksw.cantik, pada Jumat, 8 Desember 2017, SA menemui Sih Natalia Sukmi, Dosen Fiskom yang aktif di kajian gender dan feminisme.

Menurut Natalia, jika hal tersebut dilihat dari konteks komersial, itu (akun-akun cantik –red) sedang mengkomodifikasi perempuan. “Kita harus tahu dulu motifnya apa? Jika dibuat untuk mendapatkan iklan atau sponsor, maka dapat dikatakan bahwa perempuan sebagai ‘sesuatu’ obyek untuk jualan,” paparnya.

Natalia juga mengkajinya dalam perspektif gender. Dirinya berpendapat bahwa perempuan seharusnya menjadi subyek, bukan obyek. Natalia menduga bahwa yang terjadi justru sebaliknya, apalagi jika akun itu dibuat oleh laki-laki. “Lagipula, apapun yang diunggah di situ tidak terjadi begitu saja, mungkin telah melalui proses editing agar terlihat menarik. Informasi yang dimuat disitu juga bukan menjual prestasinya, tetapi mengarah ke paras dan karakteristik fisik tubuh seorang perempuan,” terangnya.

Yang terjadi, akun pengekspos perempuan lebih banyak pengikutnya ketimbang yang mengekspos laki-laki, lalu bagaimana? Natalia menjawab bahwa nilai seperti itu juga bukan saat ini saja munculnya, tapi sudah turun-temurun dianut oleh dunia, dan dianggap sebagai ‘kebenaran’ oleh masyarakat. Nilai yang menganggap bahwa perempuan sebagai pelengkap, dan diamini bahwa perempuan dianggap sebagai pemuas, lalu perempuan menganggap bahwa cantik itu harus memuaskan, sampai-sampai perempuan tidak tahu untuk siapa dia berdandan. Konstruksi seperti ini telah dipegang oleh laki-laki dan perempuan.

“Nilai bahwa kamu harus seperti ini… seperti itu, telah diturunkan oleh orang tua dan lingkungannya,” kata dosen yang barusan mengambil short course di Eropa tersebut.

Namun, jika motifnya memang untuk promosi UKSW, bagaimana?

Dosen penulis buku “Ekofeminisme II” ini memaparkan, jika motifnya untuk mempromosikan UKSW, maka harus dikaji juga bagaimana perspektif gender si admin. Menurutnya, apabila admin menganggap perempuan hanya sebagai ‘perempuan’ yang dijadikan obyek untuk promosi, dan laki-laki tidak, maka dia tersebut tidak berperspektif gender.

“Jika si admin menanggap perempuan-perempuan yang diunggah dalam akunnya sebagai pribadi yang unggul, memiliki kemampuan, prestasi, dan kebetulan ‘cantik’, bukan hanya karena dia laki-laki ataupun perempuan, maka menurut saya hal tersebut sah-sah saja,” paparnya.

“Kalau si admin berperspektif gender, dan tujuannya untuk promosi menunjukkan prestasi, mengapa tidak membuat nama akunnya: uksw.berprestasi?” tanyanya.

 

Liputan ini dikerjakan oleh Christiani Karisma Merentek, mahasiswi Fakultas Psikologi, dan Axel Priya Mahardika, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Redaktur: Arya Adikristya

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas