Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Women March Salatiga: Bersatu Lawan Kekerasan Perempuan

Rubrik Salatiga oleh

“Perempuan bersatu, lawan patriaki… Perempuan bersatu, lawan kekerasan,” seruan yang diteriakkan dengan lantang oleh massa aksi dalam Women’s March untuk memperingati hari perempuan sedunia. Acara Women’s March tersebut dilakukan pada 3 Maret lalu. Dari titik kumpul di Lapangan Pancasila Salatiga, massa aksi memulai perjalanan ke arah Selasar Kartini, dilanjutkan ke Bundaran Rumah Dinas Walikota Salatiga, kemudian menyusuri Jalan Jenderal Sudirman, dan akhirnya kembali lagi ke Lapangan Pancasila.

Acara yang dikoordinasi oleh Diah Ayu Novitasari ini diikuti oleh beberapa komunitas seperti Federasi Mahasiswa Liberalitarian, Pelangi, Lingkar Studi Feminis Salatiga, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IAIN.

Aksi ini dilatar belakangi oleh keprihatinan pada kaum perempuan yang saat ini keberadaannya kurang diperhitungkan, terlebih setelah munculnya pasal-pasal Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) terkait zina, pencabulan anak, kesehatan reproduksi, serta penghinaan presiden, wakil presiden, dan pemerintah.

foto oleh: Christiani Merentek

Nadia, salah satu peserta aksi dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IAIN mengatakan bahwa tidak cukup hanya mengkaji dan membahas buku maupun isu yang berkaitan dengan hak-hak perempuan, tetapi perlu juga turun langsung ke masyarakat untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajari. Dirinya juga memaparkan bahwa perempuan saat ini menjadi objek politik dengan embel-embel 30% sebagai syarat dari partai politik.

Sementara, masih ada kekerasan baik secara verbal maupun non-verbal. Ketika diwawancarai mengenai RKUHP, dirinya mengatakan, “Untuk RKUHP ini, mohon pemerintah nggak usah bawa-bawa kata zina lah.” Dia kembali memaparkan bahwa setiap peraturan yang dibuat pemerintah memberi dampak besar bagi masyarakat, sehingga perlu melihat lagi bagaimana keadaan yang sebenarnya.

Selaras dengan pendapat Nadia, Endang dari komunitas Lingkar Studi Feminis Salatiga memaparkan bahwa ada beberapa kelompok yang sengaja menerapkan kebijakan yang tidak berpihak pada kaum perempuan dan marjinal tanpa melihat keadaan di Indonesia. Selain itu, menurutnya dalam penulisan RKUHP ini pemerintah kurang mencermati kalimat yang dipakai, sehingga menimbulkan kerancuan pemahaman di dalamnya.

Selain para perempuan, laki-laki pun ikut bersuara. Okta misalnya. Dia menyatakan kesetujuannya terhadap aksi ini. Saat diwawancara, ia berpendapat bahwa hukum dan kekerasan berbasis gender perlu diperjuangkan. “Saya bisa menyuarakan, karena ibu saya perempuan. Saya juga merasakan apa yang dirasakan oleh perempuan.” Dirinya menambahkan, selama ini perempuan tidak mendapatkan keadilan di mata hukum. Dia juga mengatakan bahwa laki-laki harus sadar akan keberadaan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Laki-laki harus sadar bahwa perempuan bukan hanya pemuas nafsu.

Dalam aksi ini, ada juga pembacaan puisi dari W. S. Rendra berjudul “Gadis dan Majikan” oleh Christian Paskah. Puisi yang dibacakan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UKSW di Selasar Kartini tersebut menceritakan bagaimana seorang perempuan yang bekerja sebagai buruh, tidak memiliki kuasa apa pun, karena yang berkuasa hanya tuannya. Bahkan atas dirinya sendiri pun dia tidak. Sehingga ketika majikannya berbuat tidak pantas, mau tidak mau dia harus menerimanya.

Selain Christian, Lulu dari Lembaga Pers Mahasiswa Lentera juga ambil bagian untuk membacakan puisi karyanya sendiri bersama Bima saat masa aksi berada di Bundaran Rumah Dinas Walikota Salatiga. Berikut kutipan puisi yang dibacakannya:

“Negara adalah pencuri. Pencuri kebebasnku. Aku pun pencuri. Aku mencuri kebebasanku.”

Lulu menyampaikan, kebebasan perempuan telah dicuri oleh negara dan kaum perempuan sendirilah yang akan merebutnya kembali. Perempuan tidaklah lemah dan akan terus bergerak.

Setelah aksi ini, Diah selaku koordinator berharap muncul kepekaan setiap orang mengenai isu-isu gender yang sedang terjadi di tengah mayarakat. “Harapannya semua tetap bersama, bergandengan tangan serta berkomunikasi tetang isu kekerasan gender, karena kita tidak bisa menyuarakan ini sendirian, lawan bersama,” tegasnya.

Adapun aksi Women March pada 3 Maret diselenggarakan di 13 kota di seluruh Indonesia: Salatiga, Jakarta, Bali, Bandung, Jogjakarta, Kupang, Lampung, Malang, Pontianak, Serang, Sumba, Sumba, Surabaya, dan Tondano.

Ella Surya. Mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2017. Wartawan Pers Mahasiswa Scientiarum

Christiani Karisma Michavadeny Merentek. Mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2016. Wartawan Pers Mahasiswa Scientiarum

Redaktur: Axel Priya Mahardika

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas