Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Menyimak Kebijakan Pimpinan Baru UKSW

Rubrik Kampus oleh

Pada 27 Februari lalu, saya menghadiri acara yang diselenggarakan BPMU (Badan Perwakilam Mahasiswa Universitas), Public Hearing bersama rektor serta para pembantu rektornya. Bertempat di ruang GX 204, acara ini terbuka untuk mahasiswa UKSW. Tema yang diusung “Terbuka untuk Perubahan dan Bersinergi dalam Membangun UKSW.

Acara dibuka oleh Neil Semuel Rupidara. Dalam sambutannya, rektor baru UKSW ini berharap agar acara tersebut dapat menjadi saluran komunikasi bagi sivitas akademika UKSW terkait apa yang akan dikerjakan oleh pimpinan selama satu periode kedepan.

Sesi pertama diisi oleh pemaparan rektor. Neil mengatakan bahwa UKSW memiliki sejarah panjang selama 61 tahun berdiri. Selama itu pula banyak hal yang sudah dilaksanakan pendahulunya. Sehingga, dirinya bersama para PLT (pelaksana tugas –red) pembantu rektor, saat ini harus terikat pada hal-hal yang sudah pernah diputuskan dan terjadi di UKSW. “Kami harus terikat dengannya, karena saat ini kamilah yang menjadi pelaku ruang-ruang kewenangan formal itu,” jelasnya.

Sesuai dengan salah satu visi UKSW, rektor menginginkan kampus ini menjadi universitas scientiarum, yang tujuannya adalah memelihara serta mengembangkan pengetahuan. “Seperti yang dikatakan Notohamidjojo (rektor pertama UKSW –red), penyelidikan ilmiah merupakan bagian sentral dalam kehidupan universitas ini, jadi bukan sesuatu yang asing jika LPIS (Lembaga Penelitian Ilmu-ilmu Sosial -red) sudah ada di UKSW sejak dulu,” lanjutnya.

Namun Neil menganggap, UKSW belum menjadi universitas scientiarum karena performa penelitiannya kurang.

Rektor lulusan Macquarie University Australia ini juga menjelaskan, Kemenristekdikti (Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi -red) membuat gagasan untuk memangkas fakultas-fakultas yang bisa digabungkan, sehingga setiap universitas memiliki maksimal 5 fakultas.

Neil pun berencana untuk menggabungkan beberapa fakultas di UKSW. Seperti Fakultas Biologi yang akan digabungkan dengan Fakultas Sains dan Matematika. “Fakultas Biologi barangkali besok-besok akan digabung dengan fakultas Sains dan Matematika.  Di beberapa universitas, bahkan science digabungkan dengan seni, menjadi Fakultas Art and Science,” jelas rektor yang saat mahasiswa pernah menjadi ketua Senat Mahasiswa Universitas ini.

Adapun saat ini, UKSW memiliki 14 fakultas.

Rektror, pembantu rektor, dan peserta nyanyikan Mars Satya Wacana. Foto oleh: BPMU UKSW

Selain itu, rektor juga menjelaskan bahwa penelitian yang ada di UKSW ini masih rendah. Dibandingkan Universitas Stanford, Amerika Serikat, misalnya. Berdasarkan data yang dipaparkan Neil, Stanford memiliki 2180 peneliti, sedangkan UKSW hanya memiliki 415 peneliti saja. “Sebagai pemain penting dalam dunia universitas kristen, mesin riset kita kecil, mereka punya mesin riset besar,” ungkapnya.

Dengan fakta itu, rektor berencana untuk membuka program-program pascasarjana, sehingga peneliti-peneliti pascasarjana akan muncul. Dari riset-riset itu, peneliti diharapkan akan membuat teknologi-teknologi baru. Namun, dalam perwujudannya diperlukan konsistensi. “Perlu konsisten, jangan maju-mundur. Kami berharap tidak bakal terjadi di universitas ini,” tegasnya.

Setelah Neil, Pembantu Rektor 1 Bidang Akademik, Iwan Setiawan melanjutkan sesi berikutnya.

Iwan memaparkan, model kurikulum harus mengikuti perkembangan zaman. Tiga model kurikulum itu terdiri dari foundation, yaitu matakuliah dasar umum seperti bahasa, etika, serta matakuliah dasar progdi (program studi). Lalu Pilar (tahun ke 2-3) yang berisi matakuliah inti dari spesialisasi mahasiswa dalam program studinya. Puncaknya adalah Cupola, yang berlangsung ditahun ke-4 mahasiswa. Di tahun itu, matakuliah yang diambil memiliki muatan yang berisi minat riset. Pada tingkatan ini, porsi proyek lebih besar, sehingga mahasiswa akan memperoleh pengalaman riset. Nantinya dosen akan mengolah riset itu lebih lanjut dan melakukan publikasi.

Sri Sulandjari sebagai pembantu rektor II mengambil alih sesi berikutnya. Sri berkelakar bahwa dirinya memiliki karakter ibu rumah tangga. “Jasa pendidikan tinggi perlu ada supporting unit. Kalau bahasa sehari-harinya itu ibu rumah tangga,” candanya. Dia memberikan informasi tentang administrasi dan keuangan yang mencakup segala jenis sarana prasarana, uang, administrasi, juga pegawai-pegawai non-akademik.

Sri memaparkan, biaya pengembangan sumber daya manusia untuk mahasiswa dan dosen sudah tercantum. Di dalamnya berisi biaya personal yang besar. “Biaya personal ini paling banyak, karena membebani ayah dan bunda mahasiswa,” kata Sri. Biaya ini meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan mahasiswa. Uang itu dialokasikan bagi mahasiswa sendiri agar dapat belajar di UKSW.

Biaya pendidikan ini salah satunya adalah biaya pra-kuliah yang nantinya akan dibebankan untuk proses OMB (Orientasi Mahasiswa Baru- Red). Selain itu, uang pendidikan juga dialokasikan untuk subsidi peralatan belajar mahasiswa, seperti laptop, tablet, buku serta potongan khusus untuk mahasiswa berprestasi.

Selanjutnya, Sri menjelaskan alokasi dana dari biaya SKS (sistem kredit semester –red), dimana 7% untuk mahasiswa, 30% diperuntukan untuk lembaga kemahasiswaan, sedangkan 10% untuk pengembangan SDM mahasiswa. Sedangkan 50% nya untuk dana pembebanan PR 3. Untuk mendapatkannya, para mahasiswa harus mengajukan proposal.

Selain itu, biaya internet universitas juga dibayarkan oleh kantor pembantu rektor 2. “Layanan internet dibayarkan kepada provider melalui kantor kami,” jelasnya. Dana IKAMA (Ikatan Keluarga Mahasiswa -red) juga tidak luput dijelaskannya. IKAMA dibagikan 70% untuk fakultas dan 30% untuk universitas. Adapun dana dari sumber ini diberikan melalui proposal yang diajukan melalui PR 3 terlebih dahulu.

Selain biaya-biaya yang sudah dipaparkan, Sri juga memaparkan biaya khusus sarana dan prasarana kampus, yang harusnya sesuai standar pelayanan minimum (SPM). Seperti yang ada didepan gedung A dan B dimana sering ada genangan air saat hujan turun, harus segera diperbaiki. Perbaikan tanggul FBS jug sedang diberlakukan.  “Di depan FBS sedang diperbaiki tanggulnya.”

Ia mengharapkan agar tempat-tempat tersebut lebih baik. Namun Sri mengatakan  bahwa kesempurnaan adalah milik Tuhan, sehingga tidak akan tercapai 100%.

Andeka Rocky Tanaamah, sebagai PR 3 bagian Kemahasiswaan memaparkan bahwa dia lebih menekankan pada layanan, kesejahteraan mahasiswa serta keamanan kampus dan juga poliklinik. Namun faktanya, infrastruktur UKSW yang rusak antara lain: asrama, poliklinik dan juga pos-pos jaga.

Selain itu, Rocky memaparkan bahwa tingkat prestasi mahasiswa juga masih lemah. “Tingkat prestasi masih lemah, seperti yang dikatakan Pak Ketua (Rektor UKSW -red), salah satu bagian yang lemah dari UKSW ada di bagian prestasi mahasiswa.”

Sesi terakhir diambil oleh PR 4, yang membidangi kerjasama kelembagaan dan internasional. Joseph Ernest Mambu membawahi unit-unit seperti biro Kerja Sama dan Hubungan Internasional (BKHI), Biro Promosi, Humas, Alumni (BPHA), dan Satya Wacana Career and Alumni (SWCA).

Dalam bidang kelembagaan, Joseph berkeinginan menjalin kerja sama dengan mereka yang memiliki potensi besar menjadi pendonor UKSW (donatur –red). Dalam bidang internasionalisasi lebih berfokus pada benchmarking ke universitas lain, maupun lembaga-lembaga riset bertaraf internasional khususnya ASEAN.  Sedangkan untuk bidang promosi, PR 4 ingin menerapkan research-based promotion yang digunakan sebagai dasar perencanaan, implementasi sebagai dasar perencanaan, dan monitoring & evaluation upaya-upaya promosi.

Hubungan masyarakat juga dilakukan selain mempererat hubungan, juga mengevaluasi  komunikasi publik di dalam maupun luar UKSW. Joseph juga menambahkan bahwa UKSW harus menjadi creative minority. “Walaupun minoritas tetapi harus membawa perubahan dalam kehidupan, seperti kreatif dan juga memiliki jiwa pemimpin,” jelas Joseph. Menurutnya, UKSW harus menjadi gelandang intelektual yang bisa membuat perubahan besar di masyarakat.

Adapun Neil yang akan menjabat di UKSW periode 2017-2022 ini juga menambahkan bahwa jika ada kemungkinan regulasi, mereka akan menjabat selama 10 tahun.

“Jadi, saya dan para PLT rektor akan menjabat paling sedikit 5 tahun, tetapi kalau regulasi memungkinkan barangkali 10 tahun,” jelasnya.

 

Christi Merentek, mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2016. Wartawan Scientiarum.

Redaktur: Axel Priya Mahardika

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas