Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Menuju UKSW Berpikir Kritis Meski Fasilitas Tipis

Rubrik Kampus oleh
Ilustrasi foto oleh Tatag Maulana

Rabu (21/3), Scientiarum diundang untuk menghadiri diskusi yang bertajuk “UKSW kini. UKSW Nanti.” Dimoderatori oleh Giner Maslebu, dosen dari Fakultas Sains dan Matematika, narasumbernya tak lain rektor UKSW periode 2017-2022, Neil Semuel Rupidara. Didepan para mahasiswa UKSW, Neil membicarakan hal-hal yang ingin dilakukannya untuk UKSW. Adapun Satya Wacana Discussion for True Action (Swadita) sebagai penyelenggara, mengatur seremoni tersebut sebagai acara diskusi.

Saat Neil mulai berbicara, rektor yang berlatar belakang ilmu manajemen sumber daya manusia ini, memaparkan posisi Indonesia dan khususnya UKSW di dunia pendidikan tinggi. Rektor memaparkan bahwa sebagai negara dengan populasi ke-4 terbesar di dunia, Indonesia adalah negara dengan jumlah lembaga pendidikan tinggi terbesar di dunia. “Di Eropa saja, kalau digabung hanya ada tiga ribuan perguruan tinggi. Kita memiliki empat ribuan,” paparnya. Namun dalam hal kinerja, dunia perguruan tinggi Indonesia masih terbelakang.

Dalam konteks UKSW, rektor memaparkan idealisme yang dijadikan referensi membawa universitas kristen tersebut. “Idealisme yang dipakai adalah cita-cita dari Notohamidjojo (rektor pertama UKSW –red) untuk menjadikan UKSW sebagai Universitas Scientiarum (persekutuan ilmiah untuk mencari kebenaran –red),” ungkapnya. Selanjutnya, Neil juga menyebutkan bahwa UKSW juga diarahkan untuk menjadi magistrorum et scholarium, yaitu komunitas ilmiah yang mengedukasi dan membawa pencerahan.

Bicara soal Critical Thinking, Research University, sampai Model Kurikulum

Pada pertengahan pemaparan, Neil menyinggung bahwa kurangnya fasilitas bukanlah alasan utama bagi suatu perguruan tinggi dalam mendidik. Dalam hal ini, rektor mengambil contoh teladan Sekolah Qarriyah Tayyibah, salah satu sekolah yang berada di daerah Kalibening, Salatiga. Neil bercerita bahwa murid-murid di sana, dididik dengan cara yang tidak formal. Karena minim fasilitas, untuk mendapatkan ijazah, murid yang butuh akan dititipkan ke sekolah-sekolah formal. Hasilnya, anak-anak Qorriyah Toyibah yg masuk sekolah formal, kebanyakan masuk 10 besar. Sampai-sampai, salah satu TV swasta mengangkat profil sekolah tersebut. Saat dikomparasi, mutu siswa dari sekolah tersebut dapat bersaing dengan sekolah internasional yang memiliki fasilitas memadai.

Berberapa kali rektor yang juga dosen manajemen organisasi di FEB ini menyinggung tentang UKSW sebagai research university, “Untuk menjadikan UKSW seperti itu, mesinnya tak lain  ya para periset profesional, khususnya di aras doktoral. Namun program doktoralnya hanya tiga,” keluhnya. Dari data yang kami himpun. terdapat tiga program doktoral di UKSW: studi pembangunan, ilmu manajemen, dan sosiologi agama.

Neil menyampaikan bahwa mahasiswa dalam membentuk cara berpikir dari sebuah otak, yang dia istilahkan mesin berpikir,  tidak bergantung fasilitas. Namun bagaimana mereka mencari, menggali, dan mengolah sendiri “I do, I remember! Jangan kita remehkan kerja dari mesin berpikir yang ada di kepala kita ini!” tegasnya. Jika mencari sendiri pengetahuan dan olah sendiri, maka akan selalu diingat. Dia menganggap, kualitas berpikir mahasiswa akan mempengaruhi kualitas riset dari UKSW.

Rektor yang mengenyam pendidikan doktor di Macquarie University, Australia ini juga menyinggung tentang critical thinking di masyarakat Indonesia. Dia menyayangkan masyarakat yang bahkan untuk masalah perbedaan suku atau agama saja, menjadi soal. Neil berharap UKSW dan Indonesia dapat belajar dari cara pandang masyarakat di negara-negara maju. “Di negara lain, yang sudah maju, orang-orangnya sudah diajarkan menghargai keberagaman. Mereka belajar untuk tahu dirinya berada di posisi mana, posisi orang lain, tetapi bisa menghargai posisi orang lain sama seperti mereka menghargai posisinya.

Untuk memberikan pengetahuan mengenai critical thinking pada mahasiswa, rektor berambut gondrong ini menjelaskan bahwa topik tersebut dijadikan mata kuliah wajib yang diambil awal semester. Selain itu, Neil bercerita telah membentuk kelompok critical thinking yang salah satunya belajar dari Socrates tentang bagaimana dia mengajarkan murid-muridnya, meskipun dengan fasilitas seadanya.

Soal model kurikulum yang akan dijalankan, Neil mengatakan bahwa PR I sudah memaparkannya secara jelas di acara public hearing (baca: Menyimak Kebijakan Pimpinan Baru UKSW) Dalam pemaparannya pada 27 Februari di GX 204, Iwan Setiawan menjelaskan bahwa terdapat tiga aras di kurikulum: foundation, yaitu matakuliah dasar umum seperti bahasa, etika, serta matakuliah dasar progdi (program studi). Lalu Pilar (tahun ke 2-3) yang berisi matakuliah inti dari spesialisasi mahasiswa dalam program studinya Puncaknya adalah Cupola, yang berlangsung ditahun ke-4 mahasiswa. Di tahun itu, matakuliah yang diambil memiliki muatan yang berisi minat riset. Pada tingkatan ini, porsi proyek lebih besar, sehingga mahasiswa akan memperoleh pengalaman riset.

“Pak PR I sudah rumuskan pembagian dari tahun pertama sampai tahun ke-4. Saya pikir kami sudah bahas di GX beberapa waktu lalu.”

Namun demikian, Neil mengajak hadirin untuk melihat model kurikulum yang ingin diterapkannya untuk UKSW. Dalam pemaparannya, dia menyinggung model kurikulum liberal arts. Dari penelusuran kami, liberal arts merupakan kurikulum perguruan tinggi yang mengembangkan siswa sebagai individu yang dibekali pengetahuan yang luas dan mendalam, serta diterapkan di dunia nyata yang kompleks.  

Dalam sesi tanya jawab, Wili dari Fakultas Pertanian dan Bisnis bercerita bahwa UKSW tidak memiliki fasilitas yang cukup memadai, sehingga saat dirinya ingin melakukan riset, dirinya perlu pergi ke Universitas Gajah Mada, itupun dengan dana pribadi.

Menjawab hal tersebut, Neil berkata bahwa setiap universitas memiliki spesialisasi di bidang tertentu. Bahkan di setiap fakultas, punya spesialisasi masing-masing. “Saya contohkan teologi UKSW yang spesialisasi di sosiologi,” paparnya. Neil lalu menceritakan pengalamannya saat melakukan visitasi di Monash University, Australia. Meurutnya, bahkan universitas sebesar Monash untuk beberapa bidang, mereka kadang mengirim mahasiswa dan perisetnya di universitas lain yang memiliki spesialisasi penelitian yang dituju.

Mengenai spesialisasi di bidang apakah UKSW secara keseluruhan, Neil tidak memberikan penjelasan. Lalu, apa spesialisasi UKSW?

 

Axel Priya Mahardika

Redaktur: Robertus Adi Nugroho

 

1 Comment

  1. Terima kasih atas informasi yang diberikan,saya pribadi ketika membaca keseluruhan yang disampaikan Pak Neil dalam tulisan ini, cukup benar. mengingat dalam dunia kerja sekarang, SDM-SDM baru sangat tergantung pada fasilitas yang bersifat memudahkan dan instan, padahal harapannya dengan fasilitas/ sarana yang sudah ada, setiap SDM tersebut dituntut untuk mengembangan kemampuannya, berinovasi dan berkreatifitas sehingga dapat memangkas suatu proses untuk lebih efisien tanpa meninggalkan kualitas tentunya. dengan mendengar cerita dari adik-adik yang berkuliah di UKSW dan selama berkunjung ke UKSW, bukan bersifat untuk membandingkan. secara keseluruhan mahasiswa sekarang sosialnya cukup bagus namun apakah valuenya berkualitas? nah hal tersebut yang harusnya dievaluasi sebelum bicara ke arah fasilitas. sekiranya fasilitas kurang memadai, disitulah kuncinya setiap mahasiswa harus menunjukan kegigihannya untuk bagaimana, harus apa dan lebih baik seperti apa. kalau sekarang kita masih percaya bahwa kita dikaruniai seluruh anggota tubuh ini, maka maksimalkan. mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan, semoga kultur UKSW yang disampaikan oleh Pak Neil bisa didukung dan biarlah berproses, ketika banyak kritikan anggap saja itu sebagai tantangan UKSW kedepannya.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas