Kurt Cobain: Lebih Baik Padam, Daripada Pudar

Rubrik Sosok oleh

Jumat pagi, 8 April 1994, sebagian penduduk Seattle masih enggan beranjak dari tempat tidurnya, jalan raya dan perkotaan sesekali senyap, lalu lintas masih sepi. Kota hujan itu masih berselimut kabut tebal, menipis pelan-pelan.

Gary Smith, duduk di dalam mobil menuju rumah nomor 171 di Lake Washington Boulevard. Sebuah komplek perumahan sejuk yang jauh dari pusat keramaian Seattle. Smith adalah buruh di VECA Eletric, sebuah perusahaan kelistrikan yang dirintis oleh seorang veteran perang dunia II. Bersama rekan kerjanya, ia ditugaskan untuk melakukan pekerjaannya di alamat yang sudah tak asing lagi bagi seluruh warga kota.

Pukul 08.40, Smith sampai tujuan. Ia turun dari van yang ia kendarai, langkahnya menuju rumah besar, sekelilingnya rimbun pepohonan. Smith naik ke balkon, menaiki anak tangga, berjalan ke rumah kaca, oleh pemiliknya kerap disebut Greenhouse. Smith mungkin tidak menyangka, pekerjaannya akan segera membuat ia menjadi orang yang diperbincangkan seluruh dunia.

Smith melihat ke arah dalam, kedua matanya mendekat pelan, tangan kanannya mengusap kaca yang mengembun. Ia tertegun, sekaligus ragu setelah melalui jendela balkon rumah kaca dan melihat tubuh tergeletak di lantai. Smith berpikir yang dilihatnya hanyalah manekin. Perlahan, ia melihat darah di telinga, dan senapan yang tergeletak di dada.

Smith segera menelfon atasannya, kabar itu lalu diteruskan kepada Marty Reimer, penyiar radio KXRX-FM. Mulanya, karyawan stasiun radio menganggap itu hanyalah panggilan tipuan. Untuk memastikan, kabar itu disampaikan ke kepolisian.

Sekitar pukul 10:15 pagi, tiga petugas kepolisian Seattle tiba di lokasi. Pintu rumah kaca itu terkunci dari dalam. Para polisi yang sebelumnya hanya berdiri di luar, akhirnya bisa masuk setelah petugas pemadam kebakaran datang menjebol pintu rumah kaca.

Pukul 11.05, petugas koroner tiba di lokasi. Dr. Nikolas Hartshorne memeriksa dan memotret jasad yang mulai membusuk, Ia memberitahu detektif pembunuhan yang baru saja tiba, bahwa ini adalah kasus bunuh diri. Informasi ini bocor ke media. Dalam satu jam, berita penemuan mayat Kurt Cobain menyebar ke seluruh dunia. Dari hasil pemeriksaan forensik, gitaris kidal Nirvana itu dinyatakan meninggal pada 5 April 1994, tiga hari sebelum mayatnya ditemukan di rumah kaca.

 

Dalam reka ulangnya yang diperagakan di filem Soaked in Bleach, Kurt meninggalkan catatan. Pada bagian akhir, dia menulis kalimat yang mengacu pada anaknya yang baru berusia 19 bulan, Frances Bean, “untuk hidupnya yang akan jauh lebih bahagia tanpa keberadaanku. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Damai, cinta, empati.”

Dalam beberapa menit, dokumen resmi yang ditulis polisi menyatakan bahwa ini adalah insiden bunuh diri. Sebenarnya, ada catatan tambahan yang mengungkapkan bahwa ada petunjuk lain, seperti semua ban mobil Volvo milik Kurt yang kempes, dan kartu kredit Seafirst miliknya yang hilang. Sayangnya, tidak ada tindak lanjut terkait petunjuk itu.

Petugas polisi menemukan dompet Kurt, lalu mengeluarkan SIMnya. Di dekat mayat Kurt, ada sebuah nampan yang berisi bola lampu, tanaman dan catatan yang ditulis di belakang menu restoran IHOP. Catatan itu ditulis dengan pena merah. Polisi menduga kalau catatan bunuh diri itu ditujukan ke istri Kurt, Courtney Love.

Di lantai tergeletak jaket, kotak cerutu serta alat-alat peracik heroin, jarum suntik, sendok, korek api, sebungkus rokok, puntung rokok, dua handuk, kacamata hitam, 2/3 kaleng roots beer, kantong kertas penuh peluru senapan, dan segumpal uang tunai $120.

Di saku jaket, Kurt mengantongi kwitansi pembelian senapan, dan di saku celananya tersimpan kertas yang berisi catatan alamat toko senjata, komplit dengan catatan model senapan dan jenis amunisi yang diperlukan. Selain ditemukan berbagai catatan serta buku alamat, di saku celananya juga ditemukan lagi uang tunai $63 dan bukti terima pemesanan tiket pesawat.

Menurut salah satu laporan polisi, ada petunjuk di tangan kanan Kurt yang membuktikan ia menembakkan senapan di kepalanya. Namun, Sersan Cameron, detektif utama dalam kasus ini, mengklaim jika sebagian dari catatan polisi ini tidak akurat, Cameron bahkan ragu untuk menyimpulkan Kurt Cobain benar-benar bunuh diri.

Dalam kehidupan sehari-hari, Kurt adalah seorang kidal. Bagi Cameron, menembakkan shotgun Remington 11-20 di kepala dengan tangan kanan dalam pengaruh heroin adalah hal yang kurang masuk akal jika itu dilakukan Kurt.

Kabar kematian Kurt Cobain tentu menjadi duka kolektif yang mendalam bagi teman-teman, keluarga, para musisi serta penggemar Nirvana di seluruh jagat. Kurt meninggal di puncak kemahsyurannya, bahkan dalam usianya yang masih terbilang muda, 27 tahun.

 

Menggeser Michael Jackson

Kehidupan masa kecil Kurt Cobain hingga kematiannya juga didokumentasikan lengkap dalam filem Montage of Heck. Filem itu menguak masa kecil Kurt yang sempat normal seperti anak seusianya–hidup rukun dengan kedua orang tuanya. Namun, kepribadiannya berubah semenjak kedua orang tuanya cerai, kondisi itu membuat Kurt Cobain kecil menjadi sosok yang pendiam dan penuh amarah.

Semasa hidupnya, Kurt dikenal sosok kontroversial dalam menulis lirik. Banyak dari lagunya berisi syair-syair suram tentang betapa dia membenci keberadaannya sendiri sebagai seorang anak yang terlantar, rasa sakit akut di perutnya yang tidak terdiagnosa dan cita-citanya untuk mati di usia muda.

Pasca kematiannya, Kurt sering digadang-gadang sebagai bintang rock terakhir, seorang musisi jenius nan vandal dengan amarahnya yang kerap meledak-ledak di panggung.

Bersama Dave Grohl dan Krist Novoselic, Kurt berhasil mengubah lanskap musik rock hanya dalam beberapa tahun. Nirvana, dalam waktu singkat berhasil menikmati kesuksesan besar jauh sebelum internet mengubah cara kita mendengar dan membeli musik. Meski sebelumnya sempat terseok di bawah bendera Sub Pop pada album pertama, Bleach, nyatanya Nirvana tidak hilang kreativitas, demo album keduanya terdengar menggiurkan di telinga sang produser DCG Record, Butch Vig.

Di bawah naungan DGC Record, lebih dikenal Geffen Record, Nirvana merilis album kedua bertajuk Nevermind pada tahun 1991 dengan single pamungkas Smell Like Teen Spirit. Dalam waktu singkat, single tersebut melesat ke puncak tangga lagu Billboard selama 44 minggu, menantang dan menggeser musisi mapan seperti Michael Jackson dan rockstar glamor, Guns N ‘Roses. Nirvana sukses besar, album Nevermind berhasil terjual hingga 24 juta kopi dan menyabet banyak penghargaan.

Pengaruh popularitas Nirvana pun turut serta mengangkat pamor band-band lain dari Seattle, seperti Pearl Jam yang sebelumnya sudah lebih dulu bertaring dengan merilis album Ten, hingga Alice in Chain, Mudhoney, dan Soundgarden yang dipelopori Christ Cornell, yang belum lama ini ditemukan meninggal karena bunuh diri.

Tak cukup di musik, Kurt Cobain pun mempengaruhi gaya fashion era 90an. Para perancang mode mencoba meniru gayanya berpakaian, mereka membuat kardigan dan kemeja flanel yang sebelumnya adalah pakaian kelas bawah, menjadi barang-barang yang penting dan bergengsi di catwalk.

Terhitung dari tanggal kematiannya, dunia telah 24 kali memperingati kematian Kurt Cobain yang hingga sekarang masih menjadi perdebatan, antara dibunuh atau bunuh diri. Jika saja Kurt Cobain masih hidup, kira-kira bagaimana wujudnya sekarang? Bagaimana dengan Nirvana?

 

Pandita Novella, penulis lepas, menulis juga di panditanovella.co

Redaktur : Robertus Adi Nugroho

Selain akrab dengan Pink Floyd, telinganya juga ramah dengan Pearl Jam. Dulu memimpin redaksi di Scientiarum, sekarang mengelola panditanovella.co, mengerjakan beberapa proyek musik dan sastra.

2 Comments

  1. Kalo Cobain masih hidup, mungkin gak selegendaris sekarang. Kematian, kadang-kadang, membawa efek ‘yang sukar dijelaskan’ bagi mereka yang hidup. Kadang, bagi mereka yg msh hidup, semuanya jadi lebih ‘heroik’ dan lebih ‘berarti’ jika orang itu sudah tidak ada, padahal, bisa jadi, sebenarnya biasa saja.

    Kita hanya menangisi hilangnya kontribusi orang tersebut dalam kehidupan kita, sebagai manusia yang masih hidup–kita tak pernah menangisi kematiannya, penyebab kematiannya–kita hanya menangisi momen-momen yang dirindukan atau kemungkinan-kemungkinan ‘badai’ yang akan datang pada kita, jika orang itu telah tiada.

    Mungkin kalo Cobain masih hidup dan Nirvana masih ngeband sampe skrg, bs jadi mereka lebih legendaris dr sekarang. Apalagi mati tua, bisa jadi tambah legendaris. Pas hidup aja udah legendaris. Apalagi pas mati. Kematian membawa kelegendarisan makin legendaris.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*