Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Dosen: Lecturer atau Researcher?

Rubrik Opini oleh

Hari Pendidikan Nasional menjadi instrospeksi bagi para aktor pendidikan khususnya dosen. Di di media sosial begitu banyak argumen terkait topik tentang dosen seperti tunjangan 300 profesor yang sementara dihentikan, Hantu Scopus di Perguruan Tinggi, Dosen bukan Peneliti, dan berita-berita lain yang berkaitan dengan sosok pendidik di perguruan tinggi. Lalu, penulis mencoba membuat opini agar kegalauan tersebut dapat tercerahkan dan dapat memberikan tuntunan  kemana langkah yang harus ditempuh sebagai dosen.

Pernyataan Prof. Bambang Subiyanto, pelaksana tugas kepala LIPI pada tanggal 9 Februari 2018 dengan judul “Dosen bukan Peneliti”, memancing banyak komentar pro maupun kontra. Secara epistemologi, kata dosen dapat di tinjau dari asal-asulnya.  Dalam bahasa inggrisnya saja sudah beda. Dosen diartikan sebagai lecturer sedangkan peneliti adalah researcher. Jadi jelas tidak sama.

Memang benar pernyataan jika salah satu tugas dosen adalah meneliti (artinya dosen fungsi utamanya bukan researcher tetapi lecturer), karena dosen harus menjalankan tugas Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pengertian peneliti atau researcher adalah insan yang memiliki kepakaran dalam suatu bidang keilmuan. Tugas utamanya ialah melakukan penelitian ilmiah dalam rangka pencarian kebenaran  (Peraturan LIPI, no.06/E/2013).  Peneliti membaktikan diri pada pencarian kebenaran ilmiah untuk memajukan ilmu pengetahuan, menemukan teknologi, dan menghasilkan inovasi bagi peningkatan peradaban dan kesejahteraan manusia. Peneliti  menyebarkan  informasi  tertulis  dari  hasil penelitiannya,  informasi  pendalaman  pemahaman  ilmiah  dan/atau pengetahuan  baru  yang  terungkap  dan  diperolehnya,  disampaikan  ke dunia  ilmu  pengetahuan  pertama  kali  dan  sekali,  tanpa  mengenal publikasi duplikasi atau berganda atau diulang-ulang.

Sedangkan dosen, menurut KBBI 2016, do.sen Nomina (kata benda) tenaga pengajar pada perguruan tinggi.  Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).

Menyimak pengertian dosen dan peneliti, agar tidak terjadi kekisruhan siapa dan untuk siapa dosen ada, maka penting dipertegas bahwa dosen merupakan status yang diemban oleh seseorang yang memiliki peran sebagai pendidik. Sebagai pendidik, maka selayaknya melaksanakan peran pendidikan. Dari konsep pendidikan inilah yang harus diurai agar sosok dan peran dosen menjadi dimengerti, dengan tidak mengelak terhadap perkembangan paradigma pendidikan dan teknologi yang terus mencuat kemajuannya menuju internasionalisasi.

Berbicara tentang aktor pendidik, maka tidak dapat dilepaskan dari makna pendidikan. Jika menyangkut pendidikan, maka tidaklah pantas kita melupakan tokoh sejarah pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Menurutnya, pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat.

Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi gulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin.

Pendidikan memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan guna membangun bangsa secara sistematis dan sistemik ke arah yang lebih baik dengan cara melihat ke keadaan yang tidak dikehendaki saat ini dan kemudian menentukan tujuan serta langkah yang dibutuhkan untuk mewujudkan masyarakat yang dikehendaki di masa yang akan datang sebagai koreksi terhadap kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu.

Selain itu, pendidikan menjadi harapan agar kehidupan yang akan datang lebih menye­nangkan, lebih demokratis, lebih merakyat, dan lebih manusiawi dibanding yang ada sekarang. Pemikiran Ki Hadjar mengenai guru, bukan hanya sebagai seorang pendidik dan pengajar namun juga sebagai values system transformer yang merupakan bagian dari proses kaderisasi kepemimpinan perjuangan bangsa.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dosen sebagai pendidik dapat mengimplementasikan values system transformer, jika terjebak dengan mengejar proyek penelitian dan jurnal? Mahasiswa sebagai subyek pendidik terkadang tertinggalkan dan hanya sebatas transaksi pengajaran demi mengejar “Laporan Kinerja Dosen”, sehingga terhindar dari relasi manusiawi antar manusia yang kodrati lahir dan batin seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara.

Dosen tidak sempat mendengarkan keluh kesah mahasiswa yang sebenarnya adalah bagian dari peran memerdekakan anak didiknya. Dosen menghindar dari tanggungjawab karakter anak didiknya, karena menganggap tidak akademis dan tidak dapat diukur dalam kinerja. Padahal semuanya itu adalah rangkaian dari kerangka menciptakan manusia masa depan yang beradab. Dengan demikian, dosen harus dapat mengelola kewajibannya antara mendidik, meneliti, dan mengabdi dengan prioritas utama adalah mendidik.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa pada akhirnya, masa depan bangsa ada dipundak peran dosen yang sebenarnya. Hasil didikan dosen akan dipetik hasilnya pada jangka 20-30 tahun kemudian. Keberadaan bangsa tahun 2018 merupakan hasil dari salah satu karya para dosen 20 – 30 tahun silam, dengan makna dan filofosi dosen pada zamannya. Fisolofi dan makna yang dosen yakini saat ini, dan diimplementasikannya, akan dituai bangsa ini 20-30 tahun selanjutnya.

Hai para dosen, pernahkah kau bertanya : sudah berapa orang kah yang sudah merasakan penambahan ilmu dari padamu? Sudah berapa orangkah yang sudah menyatakan kesaksiannya tentang perubahan hidup yang menjadi lebih bermakna karena peranmu terhadapnya? Itulah dosen, yang selalu ingin menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Sri Suwartiningsih, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi UKSW

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas