Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Re-or : Mengembalikan Esensi dan Kesetaraan

Rubrik Kampus oleh

“Siapa yang rugi sebenarnya kalau mahasiswa berpikir kritis? Ya kami juga, tapi itu adalah satu hal yang harus ditanamkan” ujar Andeka Rocky Tanaamah, PR III UKSW, saat kami wawancarai

Kegiatan Re-orientasi Lembaga Kemahasiswaan (Re-or), “Back-to-basic” pada Rabu 18 Juli dihadiri oleh seluruh anggota Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana (LK UKSW). Kegiatan yang diinisiasi oleh Andeka Rocky Tanaamah, Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan ini berlangsung di Wisma Bina Dharma selama dua hari.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh mantan fungsionaris LK terdahulu untuk menyampaikan serangkaian materi seperti KPUPUPK (Kategori Program Utama-Program Utama-Program-Kegiatan), legislatif, eksekutif dan lainnya yang tentunya diharapkan berguna bagi fungsionaris LK baru.

Menurut Meyer, selaku Koordinator Satuan Tugas Re-or kegiatan ini diadakan untuk mempersiapkan fungsionaris baru dan mengangkat kembali esensi dari Lembaga Kemahasiswaan yang dimana telah memudar serta melenceng dari nilai UKSW.

Mengingat sistem LK yang pertamanya merupakan Dewan Mahasiswa telah memudar dan malah mengarah ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) selama Yafet Y. W. menjabat sebagai Pembantu Rektor III di masa kepemimpinan Rektor John Titalley, hal ini dikarenakan beliau bukanlah lulusan UKSW sehingga tidak benar-benar mengetahui bagaimana sistem LK UKSW itu sendiri.

Scientiarum juga mewawancarai Andeka Rocky Tanaamah selaku PR III, beliau membenarkan pernyataan atas pergeseran nilai-nilai dalam LK, dan bahkan terjadi beberapa pemahaman keliru yang dibudayakan dalam lembaga kemahasiswaan.

Andeka Rocky menegaskan bahwa LK bukanlah bawahan rektorat melainkan mitra strategis/mitra kritis yang memainkan fungsi dan peranannya dalam pencapaian visi & misi universitas. LK juga diharapkan tidak hanya sekedar memikirkan rancangan kegiatan yang harus diselenggarakan setiap tahun tetapi bagaimana menjalankan fungsinya seperti fungsi kontrol, dan advokasi. “Kita kembali pada nilai, kita kembali kepada apa yang menjadi dasar lembaga ini ada” tegasnya.

Mengenai tema back-to-basic, Andeka Rocky ingin LK kembali pada nilai kritis-prinsipil, kreatif-realistis, dan non-konformis. Berkaca dari saat beliau menjabat sebagai fungsionaris LK, dimana ada sejumlah kebijakan rektor yang mereka kritisi dan menurutnya itu adalah hal yang wajar. “Siapa yang rugi sebenarnya kalau mahasiswa berpikir kritis? Ya kami juga, tapi itu adalah satu hal yang harus ditanamkan” ucapnya.

Rocky Tanaamah berpikiran bahwa LK berhak untuk duduk setara dengan pihak-pihak rektorat dan dekanat, “Saya akan datangi fakultas yang tidak memperbolehkan ketua LKnya ikut dalam rapat fakultas” tegasnya. Menurutnya, LK berhak menyampaikan pendapatnya mengenai kebijakan universitas dan fakultas, LK juga seharusnya menjadi rumah bagi mahasiswa, bukan Lembaga Kegiatan melainkan Lembaga Kemahasiswaan, LK harus bisa benar-benar menaungi mahasiswa.

Mengenai sikap non-konformis, LK boleh berpolitik dalam artian belajar tetapi LK tidak boleh melakukan politik praktis seperti berafiliasi dan bekerjasama dengan partai politik atau menjadi lembaga yang ditunggangi kepentingan-kepentingan dari luar “Mahasiswa memang masih bergerak pada idealisme, tetapi bagaimana idealisme itu jangan sampai dikotori oleh hal-hal atau kepentingan-kepentingan yang datang dari luar seolah-olah ingin merubah bentuk dan dinamika organisasi di UKSW” tambahnya.

Scientiarum juga menanyakan pendapat ketua LK mengenai kegiatan ini. seperti Frans, Ketua Badan Perwakilan Universitas, berpendapat adanya kegiatan ini sudah memfasilitasi fungsionaris lembaga kemahasiswaan dalam menambah ilmu dan pengertian mahasiswa yang melayani di lembaga kemahasiswaan akan tugas dan fungsinya.

Namun di sisi lain Frans menilai penyampaian materi Kategori Program Utama-Program Utama-Program-Kegiatan (KPUPUPK) belum dapat tersampaikan secara maksimal namun lebih menceritakan masa-masa periode sebelumnya. Harapan Frans kegiatan ini dapat berguna untuk periode sekarang dan kedepannya terutama badan legislatif dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Tanggapan lain muncul dari salah satu pimpinan Lembaga Kemahasiswaan Universitas, Defri selaku Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas menyatakan bahwa kegiatan tersebut sebenarnya telah lama menjadi suatu kerinduanya untuk menyatukan persepsi antara Lembaga Kemahasiswaan Universitas dan Lembaga Kemahasiswaan Fakultas.

Menurutnya terdapat dua poin utama yang dapat dikutip dan dihayati, yang pertama mengenai nilai-nilai satya wacana yang harusnya dimiliki oleh mahasiswa tentang keadilan, kasih, kedamaian, kesejahteraan. Namun lebih spesifik lagi di LK mengenai kritis-prinsipil, non-konformis, kreatif-realistis, jiwa-jiwa kepemimpinan dan takut akan Tuhan.

Itu yang nantinya dikembalikan, artinya yang sudah pernah di LK kembali disegarkan dan yang baru di LK akan ditanamkan, untuk memberitahu profil lulusan dengan nilai kreatif minoriti yang dimaksud pak Noto. Kedua, LK khususnya SMU jangan hanya sekedar fokus pada kegiatan-kegiatan, artinya hanya fokus mengurusi administrasi dan terjebak pada rutinitas dan akhirnya melupakan esensi LK untuk mahasiswa dan untuk masyarakat, dan yang pasti untuk universitas.

Gilbert Inoca Mallin
Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2015, Wartawan LPM Scientiarum.

Julianto Winarto Liandarise
Mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2016, staff Litbang LPM Scientiarum.

Redaktur
Delaneira Timothea

Mahasiswi Fakultas Psikologi angkatan 2016.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas