GARDAPATI : Katakan TIDAK Pada Terorisme

Rubrik Kampus/Media Partner oleh

“Ada bom tidak takut, tidak menyelamatkan diri, tidak mundur, tidak mencari selamat,” ungkap Budiyanto, ketua FKPT.

Selasa, (07/08), mahasiswa/mahasiswi FISKOM, progdi Ilmu Komunikasi mengadakan acara talkshow yang mengangkat tema Gardapati : “Pasukan Berani Mati”. Mengusung tema tersebut, acara diselenggarakan di Hotel Laras Asri Salatiga membahas terorisme.

Acara yang dimoderatori oleh Esther Helena Tulung ini juga mengundang pihak-pihak terkait, seperti POLRES Salatiga  dan GEGANA sebagai narasumber.

Menurut Eka Putri Esterina Rasi selaku Ketua Anggakara Manajemen, tujuan acara ini untuk memberi wawasan kepada masyarakat agar menjauhi paham-paham radikalisme, mengetahui apa yang harus dilakukan ketika berada dalam situasi teror bom dan siapa yang harus hubungi saat hal itu terjadi.

Acara yang didanai oleh mahasiswa pengampu matakuliah Manajemen Pertunjukan ini juga mengundang Budiyanto, selaku ketua FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme -Red). Pada awal sesi, ia menghimbau masyarakat untuk selalu waspada ketika melihat hal-hal mencurigakan. Ia juga beragumen bahwa komunikasi keluarga sangat esensial sehingga paham radikalisme tidak mudah mempengaruhi anggota keluarga.

Selain komunikasi keluarga, media sosial merupakan pemegang kunci utama dalam penyaluran informasi. Untuk media sosial, FKPT melakukan pencegahan dengan membangun literasi media dan menyarankan kepada kementerian pendidikan agar guru-guru dibekali pengetahuan teknologi agar tidak dikelabui oleh para siswa itu sendiri,” tambahnya.

Terkait dengan pernyataan ini, Yusuf, ex-Napiter (mantan narapidana teroris -Red) yang juga narasumber menerangkan, awal mula ia terjerumus dalam dunia teroris pada tahun 2000 belum ada sosial media, sehingga informasi disebarkan melalui video, kaset VCD, majalah, serta pamflet. “Pertama kali saya dapat dari audio visual lewat video waktu itu sama kaset-kaset harga 5 ribu 10 ribuan dan VCD itu selebihnya lewat majalah, serta pamflet.”.

Kemelud Sosial Media, Media teroris

Pada zaman ini, media sosial sangat membantu para teroris untuk menyampaikan maksud dan tujuan mereka pada masyarakat. Seperti menyebarkan foto-foto korban luka maupun tewas terkena bom. Itulah alasan mengapa POLRI melarang masyarakat mengunggah foto-foto korban ke media sosial. “Ada bom tidak takut, tidak menyelamatkan diri, tidak mundur, tidak mencari selamat. Namun difoto mungkin divideo kemudian di upload pada rekan-rekannya. Itu merupakan tujuan dari kelompok teroris dan radikal agar pesan dia sampai ke masyarakat,” tandasnya.

KASAT AKP Supriyanto juga menginfokan bahwa saat ini teroris menggunakan aplikasi Telegram untuk berkomunikasi karena aplikasi ini susah terdeteksi. Adanya fitur channel dengan isi ribuan grup, juga memungkinkan informasi akan tersalurkan tanpa diketahui dimana, mereka menunjuk seseorang menjadi instrukturnya sehingga mereka tidak harus bertemu langsung.

Masih menurut Supriyanto, pada tahun 2004, mantan Rektor UKSW (John Titaley -Red) pernah diancam oleh salah satu tersangka kasus penyerangan teroris di Temanggung melalui pesan handphone. Dengan sigap POLRES Salatiga melakukan pengawalan ketat pada JT. “Dalam SMS pada intinya melakukan ancaman terhadap mantan rektor, Pak John Titaley tahun 2004,kemudian oleh POLRES Salatiga melakukan pengawalan khusus terhadap Bapak John Titaley sehingga alhamdulillah sampai sekarang beliau tetap aman,” ujarnya.

Menurutnya, serigala tunggal yang dahulu merupakan kelompok radikal namun terpecah menjadi perorangan saat ini telah beroperasi di Salatiga. Hal ini dikuatkan dengan adanya penangkapan 4 warga Salatiga yang menjadi saksi atas penyerangan di Jawa Barat dan di Riau. “Mereka menargetkan Salatiga sebagai sasaran karena menurut mereka Salatiga merupakan kota nasrani yang terdiri atas 94 gereja,” tegasnya.

Untuk mencegah terorisme kembali beraksi, dijelaskan oleh Masku Dori, GEGANA melakukan sosialisasi pada masyarakat untuk waspada dan tidak takut akan aksi teroris. “Tentang pencegahan, kami sering seperti ini di kampus-kampus, sosialisasi agar orang-orang tetap waspada dan tidak takut,” jelasnya.

GEGANA yang merupakan bala bantuan teknis siap membantu ketika ada ancaman teror, berupa ditemukannya benda-benda yang mencurigakan atau bom, karena mereka sudah dibekali pengalaman dan teknik untuk menjinakkannya. “Kami dilatih, ada prosedur tetapnya ada SOP nya, kami didukung alat, kalo kita mendekat ke sasaran seperti itu kita harus pakai body armor, baju anti bom itu,” tambahnya.

Di Akhir sesi, seluruh peserta dan panitia acara ini menyalakan flashlight handphone untuk mengenang korban-korban tindakan teroris yang diiringi oleh Senja Acoustic.

Saat acara ditutup, SA mewawancarai seorang peserta,  dimana ia berpendapat bahwa talkshow ini berjalan lancar, maksud maupun tujuannya sudah dapat tersampaikan dengan baik serta jelas. “Berjalan lancar dan acaranya juga bagus-bagus. Yang disampaikan sama anak-anak Menper itu kayak bermanfaatlah buat kita dan untuk fakultas lain juga yang ikut. Jadinya ya bagus, keren-keren,” jelas Lala.

Mengakhiri proses acara, Eka memberi pernyataan bahwa ada kemungkinan angkatan 2015 akan mengkaji lagi kurikulum terkait Matakuliah Menper (Manajemen pertunjukan -Red) yang mewajibkan setiap mahasiswa pengampu untuk mengadakan suatu kegiatan. “Yah penting sih Menper walau rada sulit, cuman mungkin kita dari 2015, rencana kita akan kaji lagi kurikulum terkait ini juga,” tutup Eka saat diwawancarai.

 

Natali Inn Sting, Mahasiswi Fakultas Psikologi angkatan 2016. wartawan Scientiarum.

 

Redaktur : Christiani Karisma M Merentek

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*