Riwayat Hidup Anjing (327)

Rubrik Cerpen/Sastra oleh

1. Angin berhembus panas siang itu melewati celah jendela dan ventilasi sekitar pukul 12:07 WIB, “Lebih panas neraka jika aku banding-bandingkan sesuai dengan apa yang mereka tulis dan ceritakan” pikir mahasiswa berumur 22 tahun yang akan menjadi tokoh utama dalam fiktif ini, dia memandangi sudut tembok kamarnya, “Tuhan kita begitu dekat, sebagai api dengan panas, aku panas dalam api-Mu” dengarnya puisi Abdul Hari lantunan Ari Reda, selagi mempertahkankan lamunan, smartphone rakitan negara tirai bambu berdering, namun diacuhkannya, “Ren! Keluar ada calon istrimu dihalaman rumah” seru wanita yang dua tahun lagi pensiun dari profesinya di salah satu sekolah dasar kecamatan sebelah, anaknya hanya diam, masih asik bernafas, daun jati di kebun dekat kamar laki-laki itu jatuh satu, pintu terketuk “Ren!!”, masuklah gadis itu dalam ruangan empat kali tiga meter berduaan dengan laki-lakinya, persetan dengan dosa dan neraka, mereka pun bercumbu cukup lama, keringat mengucur deras disetiap pori-pori laki-laki dan wanitanya, desahan keduanya begitu pelan dan lembut saling sahut, diciumnya, dikecupnya, dijilatnya, digigitnya, sempurna.

Burung, belalang, anjing, lebah, cicak, dan hewan-hewan lain tidak ikut serta mengindahkan mereka, rebahlah kepala wanita didada laki-lakinya, “Berjanjilah untuk terus bersamaku!” bisik wanita tanpa busana dengan tubuh mendekati sempurna, payudara yang tidak terlalu kecil, perut yang langsing, dan lingkar pinggul yang indah itu. Tiga jam berlalu, suara Rektivianto Yoewono terdengar, volume speakers tidak terlalu keras laki-laki menjawab “Baiklah, aku akan terus bersamamu” dikecuplah wanita setengah sadar tersebut, pukul 16:48 angin berhembus sedikit lebih kencang masuk melalui lubang-lubang yang sama menghasilkan sensasi sejuk “semoga saja Tuhan setuju” dia berharap.

2. Awal Januari zaman itu, tahun itu, ingatan itu, angin pagi menerpa rumah pinggir sawah, dilihatnya seorang wanita didalam tenda kecil yang semalam terlihat asik dan ceria, belum mandi, belum gosok gigi. Wajah halus, hidung bagus, bibir tipis merah jambu, bulu mata hitam, alis tanpa sulam, tak perlu waktu lama untuk memandanginya, tak perlu banyak alasan untuk menyukainya. Lalu, “Bangun Des sudah pagi, lekas mandi, aku pengen kamu wangi” bujuk lali-laki melihat wanitanya yang sedang pulas, “Sebenarnya aku ingin sekali menyetubuhimu dini hari seperti ini, posisi sebelum mandi, sampai kau merasa lemas dan tak mampu berdiri, tapi besuk saja lah, masih belum sah” pikirnya diiringi cuitan burung-burung sawah diluar rumah yang belum lama berdiri tersebut.

“Ren!!” ditarik laki-lakinya kedalam tenda, lalu dicium bibir laki-laki itu, seperti agedan-adegan awal dalam blue film dimana wanita menjadi sangat liar daripada sang laki-laki. Sementara itu mentari belum terlalu tinggi, setelah mereka bergantian mandi dan si wanita membuatkannya kopi, diluar sana tidak ada hujan tidak ada potensi gempa bumi tiba-tiba laki-laki bersabda “Tuhan itu pintar Des, dia membuat paus biru hidup dilaut bukannya terbang diangkasa, Dia memang seniman sejati”, dan ketika wanita memikirkan apa makna dari kalimat dia, “Mbak Desi, Mas Rendi diajak kebawah, makan dulu” teriak wanita bijaksana yang biasa dipanggil Desi sebagai Ibu. “Nohh, ayo makan Ren, daripada dimarahin, bisa sunat lagi kamu nanti”, “Eh, iya ayo, aku juga kelaparan seperti belum makan selama masa kepemimpinan Presiden Suharto” mereka terbahak sejenak lalu turun untuk makan. Dimeja kaca bundar pinggir kolam, hari itu dirasa indah juga bersahabat, suasana tenang seharusnya hati ikut senang, “Terimakasih Tuhan, Engkau begitu baik membuat orang tuanya bisa mempercayakan putri pertama kepada bajingan brengsek sepertiku, jangan sampai mereka menilai aku ini tidak pantas untuknya?” pikirnya sembari memasukkan nasi beserta lauk kedalam mulut bersamaan dengan kokokan ayam.

3. Detik bertambah serta berputar disetiap hari dan detik itu sendiri, yang menjadikannya sudah bukan bulan Januari lagi, kebodohan laki-laki pada umumnya yang sering disebut khilaf terjadi, menghancur batu lebih kuat dibandingkan dengan palu, “Kamu jahat, aku sebenarnya kurang apa? Kenapa kamu seperti itu? Sejak kapan?” ujar wanita dengan nada sendu lengkap dengan mata berkaca-kaca pada laki-lakinya. Hujan deras kala itu, basah kuyup pula tubuh gadis yang pilu penuh dengan air mata yang tiba-tiba berdiri didepan pintu kamar.

“Maaf” laki-laki yang seharusnya terlahir dan hidup dengan seribu alasan itu tidak dapat memikirkan susunan kata lain, terlalu ceroboh, bodoh dan tidak berperasaan menurut dia menilai diri sendiri. Tidak ada petir saat mereka saling tatap muka, hanya hujan deras yang menyamarkan tangisan wanita malang bukan jalang. Kalimat-kalimat panjang wanita itu tentang kesedihan seperti masuk telinga lawan bicaranya, mengganggu kerja otak dan menetap dalam pikiran seolah-olah pertanyaan-pertanyaan juga pernyataan-pernyataan yang terlontar ada jawaban ataupun solusi. Bersamaan dengan itu, percik air terbawa angin melewati sela-sela lubang yang ada hingga rintiknya sampai ke kepala laki-laki yang duduk sembari mengamati wanitanya dia pun merenung “Aku tidak dapat memeluknya, dia menolak, aku tidak dapat mengecupnya, dia menghindar, apalagi untuk bercinta”. Wanita tertua di rumah mendekat sosok itu berdiri diambang pintu kamar “Kenapa Mbak Desi, kenapa merana seperti mawar kehilangan warna?” tidak ada jawaban, Ibu dari laki-laki itu mencoba berkomunikasi namun hasilnya nihil. Gemuruh hujan menjelma jadi tenang, terkadang deras terulang, sama dengan kesedihan wanita itu. Sampai pada akhirnya Tuhan dan para malaikat tidak sepakat.

Oleh,
Sumirat Wijaya
Wartawan Scientiarum
Fakultas Psikologi Angkatan 2016

Agung Sulistyo
Illustrator Scientiarum
Fakultas Psikologi Angkatan 2016

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*