Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

YANG TERPILIH HARUS TAAT ATURAN

Rubrik Kampus oleh

Ibadah senin merupakan ibadah rutin yang dilakukan oleh UKSW bersama Campus Ministry (CM). Ibadah tersebut juga selalu dihadiri oleh pemimpin, staf, maupun oleh mahasiswa. Akan tetapi ibadah senin kali ini terlihat lebih ramai dari biasanya, ternyata mahasiswa penerima beasiswa yang beragama kristen maupun katolik diwajibkan untuk mengikuti ibadah senin. Ini merupakan kebijakan yang baru diterapkan oleh Pembantu Rektor III periode 2017/2022.

“Seingat ku Pak Pembantu Rektor III sempat bilang sih untuk membangun spritualitas kita. Sebagai penerima beasiswa kita kan sudah difasilitasi dengan UKSW terus kenapa nggak kita balas aja kasih feedback ke uksw melalui ibadah senin aja, soalnya kan kasian juga Balairung UKSW segitu gedenya cuman dikit yang ibadah. Di semester ini mulai bapaknya negasin kalau kita wajib ibadah supaya Balairung UKSW juga penuh”, tegas salah satu mahasiswa yang di wawancarai oleh pihak SA.

Andeka Rocky Tanaamah selaku Pembantu Rektor III langsung mengklarifikasi dan menyangkal hal tersebut bahwa itu tidak benar. “Siapa yang bilang itu, dia tau darimana, saya tidak pernah ngomong kayak gitu berarti anak itu yang karang-karang,” tegasnya. “Karena bagi saya tanpa mahasiswa beasiswa ibadah UKSW jalan terus kok tidak ada pengaruh, kami punya fakultas Teologi kebijakan fakultas teologi. Saya tidak butuh kalian (mahasiswa penerima beasiswa) untuk hadir penuhi Balairung UKSW. Saya bisa bicara dengan Teologi karena memang Teologi punya ibadah senin. Tapi karena ada tujuan untuk membentuk karakter mereka, ingin mencapainya dengan pengembangan nilai-nilai spritual maka saya berpikir kalau kau saya kasih beasiswa bangunlah diri mu,” tegasnya.

Pembantu Rektor III juga menegaskan bahwa kebijakan ini bukan semata-mata untuk meramaikan ibadah saja melainkan untuk membentuk karakter mahasiswa yang ingin ditanamkan melalui Skenario Pola Pembinaan Mahasiswa atau yang biasa disebut SPPM dan menjadi landasan untuk membentuk kompetensi secara humanistik maupun professional. “Kamu (mahasiswa beasiswa) harus menjadi orang yang berbeda dari mereka, berbeda dalam konteks menjadi orang yang memiliki keunggulan lebih, dan terbangun nilainya,” tegasnya.

Sebagai mahasiswa terpilih, mahasiswa penerima beasiswa harus hidup dalam nilai-nilai yang ada di dalam SPPM. Terutama Christian Value Literacy sebagai nilai yang pertama di dalam SPPM menjadi acuan. “Tetapi saya juga tidak wajibkan non kristiani, muslim juga pergi ke masjid. Tetapi saya butuh spritualitas nya dikembangkan karena masalah pertama itu dari iman kita, hati kita, spritual kita,” pungkasnya. Pembantu Rektor III mengatakan bahwa mahasiswa yang menerima beasiswa selama ini hanya bekerja berdasarkan imbalan kerja dengan tidak ada satu nilai tambahan “Hanya memenuhi jam kerja dia (mahasiswa) kerja jadi administrasi, dia kerja jadi ya tukang rapihkan lemari buku, dia kerja ya tukang ketik atau apa tanpa ada satu tambahan nilai untuk dia dan kita tidak ingin kan itu,” tambahnya.

Pembantu Rektor III juga mengatakan untuk periode sekarang anak-anak penerima beasiswa harus memiliki nilai-nilai kristiani untuk mengembangkan spritualitas mereka dengan mengikuti ibadah senin dan akan ditambah dengan program yang akan mendukung keunggulan mahasiswa beasiswa seperti program kreatifitas mahasiswa (PKM).“Kalau you beasiswa you harus memiliki keunggulan,” pungkasnya. “Tetapi ketika berbicara tentang kesadaran pembentukan karakter nilai-nilai kristiani maka mulailah mereka diingatkan terus supaya bersyukur. Kedepan saya dan teman-teman profesional dan humanistik sudah merancang program mahasiswa beasiswa, you harus masuk program kreatifitas mahasiswa,” tambahnya.

Di sisi lain ketika pihak SA mewawancarai beberapa mahasiswa penerima beasiswa terdapat pro dan kontra terkait kebijakan Pembantu Rektor III tersebut. Mahasiswa yang pro mengatakan bahwa kebijakan Pembantu Rektor III bermanfaat untuk dirinya terutama untuk menambah spiritulitas. “Awalnya sih gimana ya, karena tadikan masih malas-malasan, cuman ikut-ikutan masih belum kerasa, tapi setelah beberapa minggu kayak ngebantu juga kadang di kost kita malas renungan kan, malas dengar-dengar firman Tuhan kalau disini kan udah ada yang ngasih firman, nyanyi-nyanyi, makanya kalau aku sendiri menurut ku terbantu sih,” Tandas salah satu mahasiswa yang pro pada kebijakan Pembantu Rektor III. Pendapat berbeda datang dari salah satu mahasiswa yang kontra. “Masa diwajibkan ikut ibadah hanya karena absen jadi menurut ku sih banyak dari mahasiswa-mahasiswa yang dia ikut ibadah tapi enggak dari hati tapi cuman kewajiban absen” ujar salah satu mahasiwa yang kontra.

Beberapa mahasiswa juga menyayangkan bahwa adanya ketidak-tegasan dari setiap koordinator beasiswa dalam melakukan absen dan ketidak-hadiran dalam ibadah. “Kalau Kemarin pak PR III sih bilang kalau kita enggak datang dalam ibadah senin tanpa ada ijin atau pemberitahuan itu beasiswa akan di pertimbangkan lagi tapi sejauh ini aku belum pernah liat yang enggak datang dikasih sanksi apa, udah banyak sih (yang tidak datang). Terus ada juga sih pas ibadah, kan ibadah selesai jam 9 terus dia datangnya jam 9 cuman untuk tanda tangan, menurut ku kurang tegas sih dalam absennya”. Mahasiswa berharap untuk koordinator sendiri mempertegas absen setiap ibadah senin.

Menanggapi masalah tersebut Andeka Rocky Tanaamah selaku Pembantu Rektor III akan menindak lanjuti dan mempertegas absen tersebut. “kan beasiswa ini per-semester ya setelah semester ini kita kaji, jadi memang tidak keputusan saat itu. Ya kalau you sendiri tidak sadar dengan dirimu ya ngapain, saya juga meminta teman-teman untuk selektif dong, berikanlah pada mereka membutuhkan dan mau dikembangkan. Kalau you merasa dirugikan dengan kebijakan ini, yasudah keluar aja, keluar dari program beasiswa ini cari yang lain,” tegasnya

Sedangkan untuk yang beragama non kristiani Pembantu Rektor III juga memberlakukan aturan yang sama pada mahasiswa penerima beasiswa. Mereka juga dituntut untuk mengikuti ibadah sesuai agama dan kepercayan mereka masing-masing dengan disertai bukti yaitu absen atau surat keterangan dari pengemuka agama. “mereka yang ke masjid harus juga, ya misalkan mereka di masjid kauman harus dapat keterangan dari masjid sana. Karena kita harus bina juga, tapi kan kita tidak paksakan you harus ikut agama kami kan, ya kalau muslim kan berbeda, hindu berbeda, buddha berbeda, dan konghucu berbeda, tetapi harus ada laporan dibawa,” tandasnya.

Natali Inn Sting
Wartawan Scientiarum
Mahasiswa Fakultas Psikologi Angkatan 2016

Delaneira
Redaktur & PU Scientiarum

Foto oleh :
Marselina Ardiva
Sekretaris Scientiarum

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas