Tolerance Film Festival: Menumpas Stigma Pada Kaum Yahudi

Rubrik Humaniora oleh

Sentimen beberapa warga Indonesia terhadap Israel / bangsa Yahudi masih terlihat nyata, sejumlah aksi dilakukan untuk memboikot Israel dan menolak orang-orang Yahudi. Permasalahan ini berakar pada adanya konflik Israel dan Palestina. Menurut data Anti-Defamation League, 26 persen orang dewasa dari 102 negara di seluruh dunia memiliki pemahaman yang salah mengenai Yahudi dan Israel, juga 48 persen dari 156,4 juta orang dewasa di Indonesia. Mereka beranggapan bahwa orang-orang Yahudi dan Israel telah membuat kacau  dunia dengan perang dan tipu-tipu.

Prasangka-prasangka negatif ini menimbulkan antipati dan juga permusuhan seperti apa yang dipaparkan oleh Monique Rijkers kepada Scientiarum pada kegiatan Nonton Bareng, Kamis (1/11) di ruang Probowinoto UKSW.  “Kadang-kadang ketika kita ngomongin konflik Palestina-Israel, ini konflik yang terjadi di negara lain, nggak ada hubungannya sama kita, tapi kenapa kita yang kebakaran jenggot? Semuanya ada kejadian apa, disini yang komentar, disini yang mengecam..”

Seperti aksi solidaritas terhadap Palestina yang diselenggarakan pada 2017 lalu, diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengecam Amerika Serikat  untuk membatalkan pengakuan atas Yerusalem sebagai Ibukota Israel, belasan ribu orang berkumpul di Monumen Nasional, Jakarta untuk menyerukan aksi ini. Walaupun bertajuk soladaritas untuk Palestina, sayangnya seruan aksi ini masih dibumbui nuansa politik dalam negeri seperti yang dilansir oleh BCC (pada : Aksi bela Palestina, antara solidaritas kemanusiaan dan politik identitas)

Menurut Monique Rijkers, konflik Israel dan Palestina adalah menyangkut eksistensi kedua negara, bukan karena permasalahan agama, media mainstream biasanya bias terhadap Israel. Monique berkeinginan untuk membuka perspektif  baru mengenai orang-orang Yahudi melalui Hadassah of  Indonesia, yayasan nirlaba yang ia dirikan sejak Agustus 2016. Yayasan ini mempunyai misi untuk mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai toleransi.

Nina Bobo untuk Bobby

Sejak 2016 Hadassah of  Indonesia memulai Tolerance Film Festival untuk memperingati hari toleransi yang jatuh pada 16 November. Seperti Kamis lalu, Monique membawa dua film dokumenter untuk ditayangkan, salah satunya

peserta kegiatan pemutaran film/ foto oleh: Delaneira Timotea

berjudul Nina Bobo Untuk Bobby. Menceritakan satu keluarga Indonesia  Muslim dari Jawa, Tole Madna menyelamatkan seorang bayi Yahudi yang berusia 9 bulan saat Nazi berkuasa di Belanda.

Kala itu setiap orang yang menyembunyikan orang Yahudi di rumahnya akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Nazi, meskipun tahu mengenai hal ini Tole Madna mengabaikan ancaman itu. Laki-laki ini mempertaruhkan keselamatan diri dan anak-anaknya dengan menerima Alfred Munzer untuk disembunyikan dari kejaran pasukan Nazi Jerman. Alfred kemudian diberi nama Bobby, nama yang mirip dengan salah satu anak dalam keluarga, Robby. Hal ini dilakukan agar Alfred tetap aman dalam persembunyian.

Mima Saina, pembantu keluarga Tole Madna juga turut menjaga Alfred. Mima Saina tidak bisa berbicara bahasa lain selain bahasa Indonesia, dan juga tidak mengenal agama lain selain Muslim, tetapi ia memiliki hati emas. Mima rela berjalan jauh berkilo-kilo meter hanya untuk menukarkan kupon dengan makanan dan susu untuk Alfred. Mima juga selalu menyanyikan lagu Nina Bobo sebagai pengantar tidur Alfred dan juga untuk menjaga Alfred agar tidak menangis ketika tentara Nazi datang melakukan razia.

Setelah 3,5 tahun keluarga Tole Madna bersama pembantunya menjaga Alfred, akhirnya Alfred bisa kembali ke pelukan ibu kandungnya, Gisele Munzer dengan selamat setelah perang usai pada tahun 1945. Film dokumenter berdurasi 30 menit ini merupakan garapan pribadi Monique Rijkers. Hal ini menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas ras, suku bangsa dan agama.

Hadassah of Indonesia juga telah melakukan pemutaran film serupa di berbagai universitas, beberapa juga inisiatif memintanya. Tetapi ketika dirinya menjelaskan bahwa film yang akan ditayangkan adalah mengenai orang Yahudi, beberapa langsung menolak dan membatalkan penayangan “Pada saat saya bilang film saya Yahudi dan Islam, mereka mundur karena ada Yahudinya, langsung gak jadi acaranya”

Menurutnya, beberapa dari kita sudah anti dulu dan menutup diri terhadap orang-orang Yahudi sehingga tidak ada ketertarikan untuk mengenal lebih dalam, padahal tidak semua orang Yahudi seperti apa yang mereka pikirkan dan bahkan di Israel – Palestina sana, masih terjadi toleransi antar umat Muslim dan Yahudi.

Seperti yang dilansir Tirto.id, bahwa anti-Israel tidak sama dengan anti-Yahudi. Banyak orang Yahudi yang menolak dengan tegas paham Zionisme (gerakan bangsa Yahudi yang ingin mendirikan negara sendiri yang merdeka dan berdaulat di Palestina –Red) karena murni anti-penindasan. Zacharias Szumer contohnya, sebagai orang Yahudi ia justru tak mendukung banyak kebijakan Israel terutama tentang gagasan pendirian sebuah negara yang didasarkan pada sentiment etno-religius, namun dirinya juga tidak setuju dengan ide pembasmian terhadap Israel.

Muslim Keturunan Bangsa Israel

Bagaimana dengan orang Muslim keturunan bangsa Israel? Dalam Liputan6.com dikatakan, bahwa Muslim dan Yahudi kerap terlihat berdampingan, itu juga yang terjadi di Israel Defence Force atau kesatuan militer negeri zionis. Banyak anggota militer yang beragama Muslim sudah menetap di wilayah Israel secara turun temurun. Mereka menyampingkan sentimen agama dan memilih untuk membela tanah airnya, Israel.

Salah satunya adalah Mohhamad Kabiya, seorang Muslim keturunan Arab Badui, dimana keturunan ini dikenal sebagai musuh bebuyutan kaum Yahudi sejak lama, meskipun disangka dipaksa untuk masuk ke satuan tentara karena adanya program wajib militer bagi seluruh penduduk Israel,tentara muslim ini mengakui empatinya terhadap saudara Muslim di Palestina tetapi mereka lebih memilih untuk mengabdi kepada negara.

Bagi Kabiya dan rekannya, Sarhan, serta para Muslim Israel lainnya, konflik dengan Palestina bukanlah persoalan agama. “Palestina adalah sahabat kami, namun kami tidak bisa menuruti keinginan mereka untuk menduduki Tepi Barat” jelas Sarhan.

Toleransi antar kaum Muslim dan kaum Yahudi juga ditayangkan di UKSW melalui film Of Many, merupakan film besutan Chelsea Clinton, anak mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton yang menceritakan kisah nyata seorang Imam Masjid dan Rabbi di Universitas New York meredam permusuhan antara dua kelompok mahasiswa yang berbeda aspirasi politik dan agama Muslim dan Yahudi.

Pada suatu kesempatan,  Rabbi dan Imam membawa komunitas agamanya masing-masing ke kawasan yang tertimpa bencana alam sebagai relawan, mereka pun terpaksa tinggal dan menjalani keseharian mereka bersama-sama.

Awalnya mereka datang dengan berbagai prasangka terhadap satu sama lain. Suatu saat terpaksa untuk duduk dan saling mendengarkan. Bermulai dari peristiwa ini, mereka mulai mengerti bahwa perspektif dan prasangka yang mereka bangun tidak sepenuhnya benar, mulai ada keterbukaan diantara mereka, satu yang disadari bahwa menolong korban bencana tidak perlu memandang apa agama dan suku orang tersebut terlebih dahulu. Meskipun pada akhirnya mereka pulang ke tempat mereka masing-masing, mereka masih menjalin pertemanannya.

Selain Nina Bobo untuk Bobby dan of Many, masih banyak film yang ditayangkan Monique Rijkers pada Tolerance Film Festival seperti film dokumenter mengenai kisah orang Suriah di Israel,  orang Arab yang jatuh cinta kepada orang yahudi, kisah orang Yahudi yang keluar semua dari Gaza sampai tidak ada lagi orang Yahudi yang menghuni Gaza.

Monique Rijkers tidak memaksa penonton untuk meng-glorify orang Yahudi, melainkan ia hanya berkeinginan untuk mengedukasi penonton tentang perspektif toleransi yang berbeda. “Daripada membenci lebih baik kita saling mengasihi satu sama lain” tungkasnya.

Demikian ia juga berharap bahwa penayangan film toleransi ini juga dapat dihadiri oleh pemuka-pemuka agama sekaligus berdiskusi didalamnya.

Sumber lain:

https://tirto.id/yahudi-yang-anti-zionis-yahudi-yang-pro-palestina-cAYY

https://www.liputan6.com/global/read/3216784/pengakuan-tentara-muslim-yang-bergabung-di-militer-israel

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42383221

 

Delaneira Timotea, Mahasiswi Fakultas Psikologi, angkatan 2016. Pemimpin Umum Scientiarum periode ini.

Redaktur: Christiani Karisma M.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*