Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Peace Walk Project “Kita, Minoritas”

Rubrik Media Partner oleh

Dalam rangka memperingati hari HAM Internasional mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi (Fiskom) UKSW mengadakan sebuah class project, Peace Walk Project atau Aksi Jalan Damai pada Rabu (12/12) lalu. Class project ini merupakan tugas akhir dari mata kuliah NGO (Non Governmental Organization) and Development. Berangkat dari maraknya isu perpecahan yang disebabkan oleh perbedaan agama di Indonesia, mahasiswa Fiskom ini merasa perlu adanya kegiatan seperti ini untuk menyuarakan toleransi lintas agama.

Seperti pada tulisan Tolerance Film Festival: Menumpas Stigma Pada Kaum Yahudi lalu , dapat kita ketahui bahwa toleransi akan lahir saat terjadi dialog satu dengan yang lainnya. Begitu pula dengan Aksi Jalan Damai ini yang ingin menciptakan dialog lintas agama. “Kita, Minoritas” menjadi tema kegiatan ini, bagaimana kaum-kaum minoritas dengan segala tekanan yang mereka dapat tetapi masih dapat menerapkan toleransi pada penganut agama lain.

Scientiarum diajak untuk hadir pada sesi terakhir Aksi Jalan Damai yang berlokasi di Gereja Orthodox Salatiga. Gereja ini berdiri sejak tahun 2016 dan terdiri dari tiga keluarga sebagai jemaat tetap. Para Romo menyambut hangat kedatangan kami semua, dan menjelaskan sejarah dan beberapa ajaran Orthodox. Orthodox sendiri berarti “ajaran yang benar”, ajaran ini dikatakan sesuai dengan filosofis terhadap pemahaman asli dan harafiah suatu doktrin, dimana ajaran dari Gereja Orthdox tidak berubah semenjak tahun ke 33 M.

Uniknya adalah kepercayaan ini memiliki tata ibadah yang agak serupa dengan agama Muslim, Orthodox juga melakukan apa yang dalam Muslim disebut dengan Shalat. Ajaran Gereja Orthodox memang merupakan ajaran gerej tertua, dan setelah itu terpecah menjadi ajaran-ajaran baru seperti Kristen Protestan (Lutheran, Calvinis) pada tahun 1517.

PENYERAHAN KENANG-KENANGAN / FOTO OLEH : MOYZRANO
Penyerahan Kenang-kenangan oleh panitia / foto oleh : Moyzrano

Desta, seorang peserta yang berasal dari Universitas Nahdlatul Ulama Solo, selain menanyakan mengenai tata ibadah, ia juga mengemukakan tentang adanya kristenisasi. Romo menjelaskan bahwa hal seperti itu memang ada dan sebagai penganut agama minoritas pastinya akan senang jika banyak jemaat yang berpindah untuk menganut agamanya, tetapi yang harus diperhatikan adalah dimana kita tidak boleh memaksa orang untuk mengikuti kepercayaan yang kita anut.

Dalam dialog ini, toleransi tidak terlalu digembor-gemborkan oleh narasumber, tetapi dapat dilihat ketika para Romo berhenti sejenak untuk menghargai suara Adzan yang berkumandang sore itu, dan sembari mempersilahkan peserta yang beragama Muslim untuk melakukan Shalat jika berkehendak. Memang banyak sekali literasi-literasi dan diskusi mengenai toleransi, namun ini lah yang sebenarnya dibutuhkan, sebuah aksi toleransi itu sendiri.

Setelah Adzan selesai berkumandang, Romo melanjutkan penjelasannya. Desta pun mengaku bahwa dirinya akan sangat senang jika banyak yang memilih untuk masuk agama Muslim. “Islamisasi memang ada, kalau agama kita benar kenapa tidak kita memberikan kebenaran dan melakukan kebaikan, namun jangan ada paksaan, pilihan mereka mau suka apa tidak” timpal Desta.

Selain Gereja Orthodox, ada beberapa komunitas lain yang dikunjungi untuk berdialog bersama, sperti Serikat Paguyuban Petani Qaryah Tayyibah contohnya, SPPQT ini berdiri karena adanya kegelisahan terhadap nasib petani di Indonesia, serta menjadi wadah bagi para petani untuk mampu mengelola dan mengontrol segala sumber daya yang ada. Qaryah Thayyibah sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti “Desa yang Indah”. Dialog peserta Aksi Jalan Damai berlangsung di Kampung Percik (Perkemahan Cinta Kemanusiaan) yang dimana merupakan lembaga independen yang berdiri diperuntukkan bagi penelitian sosial, advokasi dan refleksi.

Setelah itu, peserta juga diajak mengunjungi para penghayat kepercayaan Sapta Dharma, Sapta Dharma sendiri berarti “Tujuh Kewajiban Suci” dan telah berdiri sejak tahun 1952. Penganut kepercayaan ini melihat bahwa Sapta Dharma merupakan jalan untuk memperoleh ketentraman jiwa, baik dunia maupun akhirat. Terkadang, penganut kepercayaan ini mendapat gesekan-gesekan aksi intoleran karena dipercaya sebagai penyembah berhala padahal tidak, “tujuan setiap agama itu sama, namun memiliki jalan yang berbeda” tutur seorang Tuntunan Sapta Dharma, Slamet Hariyanto.

Lokasi ketiga adalah Vihara Maggadhama, Vihara ini merupakan tempat ibadah bagi umat Buddha yang beralina Teravheda. Disana, umat tidak hanya melakukan ibadah keagamaan, namun juga melakukan kegiatan sosial berupa kunjungan ke panti asuhan bahkan melakukan kerja bakti bersama masyarakat sekitar. Stigma yang sering muncul terhadap umat Buddha, yakni penyembah berhala, tidak bertuhan dan sebagainya diluruskan kembali dengan diskusi ini, “bunga teratai tetap tumbuh indah meski di tempat kotor sekalipun.”

Atalita Saraswati, salah satu peserta menyatakan kegiatan Aksi Jalan Damai ini membuka banyak pengetahuan baru mengenai agama-agama minoritas yang bahkan belum diketahui sebelumnya. Atalita berharap untuk kedepannya tidak lagi ada kristenisasi, islamisasi atau sebagainya, “untuk apa ngurusin orang lain?” tungkasnya, disini ia juga tertarik engan apa yang diajarkan oleh para Buddhist di Vihara “semua berawal dari kita yang harus berdamai dengan diri kita sendiri dulu, disitu nanti sikap toleransi akan lahir.”

Timothy Vincent sebagai project manager acara ini menjelaskan bahwa persiapan dilakukan selama kurang lebih satu semester untuk merealisasikan acara ini, acara ini memang ditujukan untuk kaum muda berusia 18-25 tahun, awalnya ada sebanyak 50 pendaftar, namun diseleksi menjadi 20 orang saja melalui essay yang mereka buat. Acara ini tidak dipungut biaya bagi peserta, karena itu panitia juga telah bersikeras mencari dana unutk menunjang kegiatan ini. Vincent berharap melalui Aksi Jalan Damai ini dapat membangun semangat toleransi kaum-kaum muda, dari berdialog dengan penganut kepercayaan minoritas.

Enjoy the peace walk project, and always be the person that walk the talk!” tutur Jessy Ismoyo sebagai Dosen dan penanggung jawab kegiatan dalam sambutannya, yang berarti diharapkan peserta dapat senantiasa menyebarkan toleransi dan hasil diskusi dalam kegiatan ini bagi sekitarnya.

Penulis : Delaneira Timothea, Mahasiswi Fakultas Psikologi angkatan 2016

Redaktur: Christiani Merentek

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas