Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Kafetaria UKSW, Kopi dan Nongkrong Milenial

Rubrik Opini oleh

Sesungguhnya di Kota Salatiga sudah mulai bermunculan cafe-cafe urban dengan konsep ala milenial, sasaran utamanya adalah para mahasiswa, namun trend yang ada dalam dua tahun terakhir ini adalah jika ada satu cafe baru lahir, maka akan ada satu cafe lama yang gugur alias tutup, dugaan saya karena tidak ada inovasi (kebaruan) dari pengelola cafe untuk mengikuti perkembangan jaman dan selera anak muda masa kini (generasi milenial). Cafe yang bersifat khusus seperti cafe di lingkungan kampus menurut saya juga harus berbenah agar mahasiswa (dan dosen) betah.

Kafetaria UKSW dan Kafe Rindang adalah unit usaha di bidang kuliner yang tidak asing lagi untuk civitas akademika UKSW. Sebagai pengunjung setia kedua kafe di UKSW, jujur harus saya katakan kedua cafe yang dikelola oleh PT. Satya Mitra Sejahtera itu sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman dan kebutuhan akademik di era milenial. Meskipun sekitar sebulan terakhir ini dipasangkan televisi yang juga tidak terdengar jelas volume suaranya, pertunjukan musik yang tidak rutin, belum lagi tampilan kafe yang sekilas terkesan tidak rapi. Karena itulah saya mengusulkan agar kedua kafe yang ada di UKSW itu direvitalisasi dengan konsep creative hub (pusat kreativitas) agar sesuai dengan kebutuhan akademik di era milenial.

Jika tak berani melakukan inovasi, maka Cafetaria UKSW saat ini tidak ada bedanya dengan Warung Tenda!

Kafe Rindang sebagai Digital Library Café 

Kafe Rindang letaknya sangat strategis karena berdekatan dengan Gedung Notohamidjojo yang merupakan Gedung Perpustakaan UKSW, karena itu Kafe Rindang perlu dirancang ulang sebagai Digital library Cafe (Digilib Cafe) yang terhubung langsung dengan Perpustakaan UKSW terutama untuk akses koleksi pustaka digital secara gratis oleh pengunjung Cafe Rindang melalui jaringan WiFi. Akses untuk sosial media seperti facebook, twitter, instagram perlu dikunci selama berada di Cafe Rindang agar mahasiswa benar-benar fokus pada kegiatan membaca dan menulis, bukan berswafoto dan ber-sosial media. Perlu juga didesain agar ada ruangan tertutup “Full AC” dan bebas dari asap rokok dan juga ruangan terbuka dengan dukungan fasilitas smoke absorber (alat penghisap asap rokok) dengan desain interior yang menawan.

Jika jam layanan Perpustakaan UKSW mulai jam 07.00-18.00 WIB maka jam layanan Kafe Rindang diperpanjang sampai jam 22.00 WIB untuk mememuhi kebutuhan mahasiswa diluar jam operasional kampus dan bila perlu buka 24 jam non-stop (jika sudah 24 jam, pada jam tertentu, tak ada salahnya dibuka akses WiFi untuk ber-sosial media sebagai bentuk promosi untuk Kafe Rindang). Sajian makanan dan minuman juga perlu diperhatikan aspek higienisnya, karyawan kafe perlu tampil trendy agar sesuai dengan gaya masa kini, gaya milenial. Perubahan konsep Cafe Rindang menjadi Digilib Cafe akan meningkatkan tingkat kunjungan mahasiswa dan dosen ke Perpustakaan UKSW, yang secara tidak langsung juga ikut serta merangsang minat baca mahasiswa dan dosen.

Kafetaria UKSW sebagai Co-working Space

Selain Kafe Rindang, UKSW juga memiliki Kafetaria (dinamakan Kafetaria UKSW) yang letaknya juga strategis karena dekat parkiran sepeda motor dan mobil, dekat dengan Kantor Rektorat, Kantor Lembaga Kemahasiswaan UKSW, UNIStore dan Plaza Satya Wacana. Sudah sejak lama saya mendengar Kafetaria UKSW ini akan dibangun menjadi dua lantai dimana lantai dua khusus untuk area merokok sedangkan lantai satu adalah area dilarang merokok, namun nampaknya rencana itu belum terwujud. Saya tidak terlalu peduli dengan rancangan dua lantai (atau tetap satu lantai), point saya adalah Cafetaria UKSW ini perlu di tata ulang dengan konsep co-working space sebagai tempat tumbuhnya ide-ide cemerlang.

Sebagai co-working space, mahasiswa dan dosen akan nyaman bekerja, karena bekerja di ruang terbuka atau ruang bersama (public space) tanpa ada sekat “saya dosen dan anda mahasiswa” sebagaimana terjadi di ruang kelas, akan lebih leluasa karena merasa tidak diawasi, dan tidak menutup kemungkinan akan bertemu dengan orang-orang baru dari luar kampus UKSW yang berkunjung untuk sekadar ngobrol dan ngopi sambil mendengar alunan musik tentunya, selain itu perlu disediakan space yang cukup untuk nongkrong cerdas seperti ngopi sambil bedah film, ngopi sambil bedah buku, atau ngopi sambil diskusi draft tulisan. Tentu perlu dukungan fasilitas yang memadai dan nyaman, seperti free WiFi, meja yang dilengkapi saklar listrik dan kursi yang nyaman dengan sandaran yang empuk, LCD projector, sajian makanan dan minuman yang higienis, style karyawan kafe yang nyentrik, serta desain interior yang humanis.

Penataan ulang Cafetaria UKSW dengan konsep co-working space sangat cocok dengan kultur akademis UKSW sebagai kampus Indonesia Mini. Di mana co-working space merupakan konsep ruang terbuka/ruang bersama (public space) yang mengandung nilai-nilai komunitas akademik, nilai-nilai kolaborasi akademik antara mahasiswa dan dosen, nilai-nilai pembelajaran dan nilai-nilai berkelanjutan (sustainable). Dari segi itulah, Kafetaria UKSW dapat dipandang sebagai bagian dari Collective Action (Aksi Bersama) civitas akademika UKSW untuk mencerminkan branding UKSW sebagai Kampus Indonesia Mini.

Kopi dan Nongkrong Milenial

Cafe dan mahasiswa (juga dosen) tidak terlepas dari kegiatan ngopi dan nongkrong (serta alunan musik) tentu dalam arti yang luas. Karena itu apalah artinya kafe tanpa coffee! Saya sendiri percaya bahwa ide dan gagasan cemerlang serta pemikiran kritis tidak hanya lahir dari diskusi di ruang kuliah, tetapi juga lahir dari “diskusi di warung kopi”. Karena itu sajian kopi dan alunan musik menjadi “catatan penting” dalam pengelolaan cafe, baik di Cafe Rindang maupun Cafetaria UKSW dalam konsep yang baru sebagai Digital Library Cafe dan Co-working Space. Catatan lain yang juga tidak kalah penting selain sajian kopi adalah adalah menanamkan prinsip sociopreneurship agar harga makanan dan minuman yang disajikan relatif terjangkau oleh mahasiswa.

Jika tak berani melakukan inovasi, maka Cafetaria UKSW saat ini tidak ada bedanya dengan Warung Tenda!

oleh : Wilson M.A. Therik, Dosen Pascasarjana Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin UKSW

Sumber illustrasi : Idntimes

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas