Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

SWADITA: STOP ANIMAL ABUSE

Rubrik Media Partner oleh

Penganiyaan binatang atau yang biasa di dengar dengan istilah animal abuse semakin marak dan sering dipertontonkan di media sosial. Kegiatan Senat Mahasiswa Universitas (SMU), SWADITA (Satya Wacana Discussion For True Action) bertemakan Stop Animal Abuse bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap perlakuan terhadap binatang .

Diskusi ini diawali oleh Dr. Krishna Djaya Darumurti S.H. M.H mengatakan bahwa kesadaran merupakan hal utama, perlakuan terhadap binatang juga dapat mencerminkan perlakuan manusia terhadap sesama. “manusia, orang dan binatang merupakan hal yang berbeda dan kuncinya adalah manusia sendiri”, perlakuan terhadap binatang harus memiliki kesamaan dengan moralitas manusia terhadap sesama, seperti yang dikemukan pada awalnya manusia dan orang merupakan bentuk yang berbeda, ‘orang’ merupakan wujud fisik sedangkan ‘manusia’ merupakan sifat yang ada didalam diri orang itu sendiri yang menjadi moralitas terhadap memperlakukan lingkungan sekitar.

Perlakuan terhadap binatang saat ini menjadi pembahasan utama, dimana binatang-binatang tertentu yang dijadikan bahan makanan ini pun melalui proses yang tidak sewajarnya, Khrisna mengatakan perlakuan binatang menurut pemanfaatannya sendiri pun ternilai sadis, “sirip hiu, sirip diambil sisanya dibuang,” lanjut Khrisna yang mengumpamakan perilaku manusia terhadap binatang.

Pada pertengahan acara, Scientiarum mewawancarai ketua panitia Mila. K. Mardiantari dan kepala bidang Humanistik SMU terkait kegiatan diskusi ini, kepala bidang Humanistik SMU Julianto Pattawaran mengatakan bahwa tema pada diskusi ini muncul karena melihat trending yang ada di media sosial terutama di Instagram, dengan harapan diskusi ini mampu menambah wawasan mahasiswa terhadap animal abuse sendiri, dengan melihat komentar-komentar di media sosial yang mengatakan anjing bukan makanan, pemikiran mainstream seperti itu perlu dirubah, yang menjadi masalah ialah perlakuan terhadap binatang bukan pandangan terhadap binatang yang menjadi bahan untuk dikonsumsi.

Pada sesi diskusi panitia menyediakan paper serta pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab oleh masing-masing kelompok yang kemudian hasil diskusi tersebut akan diubah menjadi artikel dan akan dipublkasikan di Kompasiana dan web SWADITA. Untuk penambahannya juga diharapakan akan menambah wawasan terhadap perilaku sewajarnya terhadap binatang, “kembali ke individu masing-masing sih, yang memiliki sikap yang manusiawi yang pasti akan mempengaruhi lingkungan sekitar” ujar Julianto.

Tindakan yang diinginkan pastinya sama, yaitu mencegah terjadinya animal abuse, namun perlu dilihat kembali tentang kebudayaan di masyarakat Indonesia, “tergantung cara pandang, contoh idul fitri penyembelihan saja bisa dibilang sadis” dilanjut Mila, kemudian Julianto menambahkan di Toraja sendiri dulu pemotongan kerbau pada pesta adat tergolong sadis dan dipertontonkan, kerbau yang dibariskan dan sembelih secara bersamaan, namun untuk sekarang sudah agak di minimalisir seperti kerbau yang akan dipotong akan ditentukan menurut usia untuk layak di sembelih.

Setelah itu, Khrisna sendiri mengatakan bahwa melalui diskusi ini sebagai alternatif pembelajaran sebagai mahasiswa dan sebagai manusia, “kalo kita memperhatikan yangf bukan manusia itu kan bagus, berarti kita aja sama yang bukan manusia memperhatikan apalagi sama manusia.” Ujar Khrisna. Menurut beliau topik diskusi ini adalah topik alternative bagaimana menyadarkan mahasiswa mulai memperhatian perlakuan dan hal-hal buruk.

Media Partner-

 

Tulisan oleh :

Gilbert Inoca Mallin, Jurnalis Scientiarum

Mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2015

Vinka Agusta, Kepala Divisi Litbang Scientiarum

Mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2017

Penyunting :

Delaneira

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas