Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Jokowi-Amin: Pilihan Terbaik Alumni UKSW

Rubrik Salatiga oleh

“Demokrasi bukan pilihan ideal, karena adanya kelemahan seperti massa liar, spekulasi penentuan kekuasaan, orang menjadi narsis akan dirinya sendiri,” ucap Mahfud MD selaku guru besar hukum tata negara yang dulunya mantan ketua MK periode 2008-2013.

Minggu (17/02) forum Alumni UKSW mengadakan acara Merajut Kebhinekaan Untuk Indonesia Maju bersama masyarakat Salatiga Pro-Jokowi, Lembaga Masyarakat serta mahasiswa komunitas etnis yang ada di UKSW. Acara ini berlangsung sejak pukul 08.00 pagi tadi di Gedung Pertemuan Daerah, Salatiga. Secara garis besar membahas alasan kenapa harus memilih pasangan calon nomor 01 sebagai presiden Indonesia. Selain itu, dalam acara ini Mahfud MD menjelaskan tentang sejarah pemilu Indonesia dan juga demokrasi.

Masyarakat Salatiga Pro-Jokowi/ foto leh: Chonchita Djasman

Ditengah penyampaiannya, Almakira perwakilan alumni UKSW mengatakan bahwa kepribadian yang sederhana serta rendah hati merupakan salah satu alasan harus dipilihnya paslon 01, Joko Widodo. “Lahir dari kehidupan nyata, kemiskinan, kebapakan, dan merasakan pahitnya kehidupan, akan tetapi Jokowi tidak pernah berhenti dengan cara bekerja keras,” selain itu Almakira juga menambahkan bahwa ketegasan dalam menegakkan ideologi negara merupakan kelebihan yang dimiliki paslon nomor 01.

Menyangkut hal ini, dalam sesi sebelumnya Mahfud MD menjelaskan mengapa Indonesia memilih Ideologi Demokrasi. Pada 11 Juli 1945 Indonesia memilih demokrasi melalui voting, mengalahkan Monarki dan Suara Abstain. Demokrasi yang dianut Indonesia adalah demokrasi deliberatif, dimana musyawarah dilakukan secara publik. Namun menurut Mahfud sendiri, demokrasi tidak ideal diberlakukan karena kelemahan-kelemahan yang dimunculkan, seperti massa yang liar, spekulasi penentuan kekuasaan sampai-sampai orang menjadi narsis akan dirinya sendiri. “Demokrasi tanpa hukum bisa liar, hukum tanpa demokrasi bisa melahirkan hukum elitis dan otoriter,” tambahnya. Ia juga sempat berpesan kepada kaum milenial untuk mengunakan hak pilihnya ketika hari pemilihan presiden (pilpres), jangan sampai golongan putih (golput).

Perhatian yang sangat besar bagi masyarakat kecil seperti petani membuat Jokowi lebih dipilih oleh mereka, seperti yang diungkapkan Bahrudin selaku perwakilan Serikat Paguyuban Petani Qoriah. Para petani mulai memilihnya sebagai pemimpin ketika Jokowi mengeluarkan gagasan pembuatan embung dan bendung sebagai tempat penampungan air di desa-desa mayoritas petani. “Terbangunnya 2000 embung merupakan prestasi besar di Indonesia, serta 5000 bendungan hasil pengawasan kementerian PUPR langsung dari Jokowi merupakan sejarah baru yang ada di pemerintahan ini,” dukungnya.

Mahfud MD seusai kegiatan berlangsung./ foto oleh: Chonchita Djasman

Di Salatiga sendiri perubahan signifikan kepemimpinan Jokowi terlihat  saat sumber mata air Senjoyo yang dalam 10 tahun terakhir mengalami penurunan debit air 500 liter/detik, sekarang mendapatkan konservasi sumber mata air di desa Proborejo sampai Getasan. Diakhir, Mahfud memberikan pernyataan bahwa ia yakin masyarakat Salatiga tidak menginginkan radikalisme terjadi lagi di Indonesia, untuk itu ia menyarankan agar masyarakat tetap memilih Jokowi sebagai pemimpin.

Di sela-sela sesi, mahasiswa komunitas etnis Papua menampilkan tarian-tarian daerahnya. Scientiarum sempat mendengarkan pernyataan langsung dari Mahfud MD mengenai debat yang akan berlangsung nanti malam, dapat dilihat siapa yang realistis dan juga bermimpi melalui apa yang akan dilakukan serta hambatan apa saja yang akan terjadi “Saya yakin sebentar malam akan lebih bagus dan mudah-mudahan masyarakat dapat mengambil pelajaran dari situ,” ia juga berpesan agar kedua kandidat bisa menyajikan program-programnya dengan baik. Di akhir pernyataan Mahfud juga mengatakan pemilihan demokratis lebih mungkin terwujud karena instrumen-instrumen konstitusi dan yuridiksi sudah lengkap dimana ada yang menyelengarakan, mengawasi dan memantau, sehingga semua tergantung pada masyarakat dalam mewujudkan pesta demokrasi yang baik.

Di penghujung acara, ketua etnis Papua, Rio, menyampaikan harapannya kepada Jokowi, dimana kedepannya nanti pembangunan Papua bukan saja infrastrukturnya diperhatikan tetapi sumber daya manusia (SDM) juga perlu dikembangkan, karena menurutnya SDM-lah yang kurang diperhatikan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Dance selaku perwakilan dari alumni UKSW yang mengatakan bahwa UKSW harus menjadi representatif dari ke-Indonesia-an, karena dari sabang sampai marauke memiliki keterwakilan disini (UKSW). Intinya menurut Muntaha selaku komandan Laskar Bambu Runcing Salatiga, masyarakat harus bersatu padu menyatukan suara memenangkan paslon 01 saat pilpres nanti.

Uniknya menurut salah satu alumni, UKSW tidak ada sangkut paut dengan diselengarakannya acara ini. Ia menyayangkan hal ini karena sebenarnya acara ini bermanfaat bagi mahasiswa UKSW sendiri. “Almuni sangat menyayangkan kenapa rektor tidak hadir serta anak-anak Satya Wacana yang juga tidak hadir,” ia menganjurkan agar alumni UKSW bekerja sama dengan Universitas bukan berdiri sendiri. Di penutupan Mahfud MD berpesan pilihan boleh berbeda tetapi setelah ada yang terpilih harus diterima secara  bersama.

Foto dan Tulisan oleh :

Choncitha Corneliani (staff Divisi Bisnis) & Christiani Merentek (Pemimpin Redaksi)

Mahasiswi Fakultas Psikologi, angkatan 2016

Penyunting :

Delaneira Timothea (PU Scientiarum 18/19) 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas