Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Serangan Fajar Jelang Pemilu

Rubrik Salatiga oleh

Indonesia adalah negara demokrasi, seperti yang dikatakan oleh Mahfud MD dalam berita Jokowi-Amin: Pilihan Terbaik Alumni UKSW. Demokrasi telah berkembang sampai saat ini, begitu juga dengan pemilihan umum sebagai instrumen demokrasi dan juga partai politik yang tampil di dalamnya, pemilihan umum seharusnya menjadi pesta demokrasi bagi rakyat untuk menentukan pilihan terbaiknya bagi nasib bangsa Indonesia selama lima tahun kedepan, tetapi terkadang demokrasi hanya menjadi panggung pertunjukan para calon legislatif dan eksekutif itu sendiri.

Minggu kemarin (03/03), Scientiarum mewawancarai Yesaya Tiluata dari Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU) Salatiga. Ia bercerita bahwa secara historis pada Orde Lama dan Orde Baru Indonesia awalnya hanya memiliki 3 partai politik besar yang saling mendominasi. Pasca reformasi lahir berbagai macam partai politik baru, hal ini juga diikuti oleh era liberalisasi partai politik yang pada akhirnya memunculkan kompetisi antar partai untuk berebut kursi di parlemen. Kompetisi antar partai ini terkadang melahirkan politik yang tidak sehat karena setiap caleg (calon legislatif- Red) akan berjuang mati-matian untuk dapat terpilih dan terkadang menghalalkan segala cara.

Pemilihan umum (Pemilu-Red) diharuskan untuk dilakukan dengan asas LUBER-JURDIL (langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil) dan bermartabat. Dengan ini masyarakat diharapkan untuk menjadi pemilih partisipatif yang mana ia memilih sesuai dengan hati nurani tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Asas Luber-Jurdil dan bermartabat ini seringkali dikumandangkan menjelang pemilu, tetapi kegiatan pemilu yang tidak sehat melunturkan asas ini dan demokrasi itu sendiri. Dalam beberapa peristiwa, suara dapat dibeli oleh orang-orang yang mampu membeli. Kasus-kasus terdahulu yang pernah diterima oleh Bawaslu menyatakan bahwa satu surat suara bisa terbeli dengan harga paling mahal Rp 300.000. Maka dari itu Bawaslu sangat menganjurkan pemilih untuk tetap menggunakan hak pilihnya, agar surat suara tidak disalahgunakan.

Selain jual-beli surat suara ada juga yang disebut dengan Serangan Fajar. apasih serangan fajar itu? Menurut Yesaya dari Bawaslu Salatiga, serangan fajar adalah istilah yang biasa digunakan oleh masyarakat yang setara dengan money politic atau politik uang. Politik uang memberikan sejumlah uang, jasa atau janji kepada pemilih dan menghimbau pemilih untuk memilih calon yang sudah mereka tentukan.

Kasus Serangan fajar ini kerap diterima oleh Bawaslu pada pemilu sebelumnya, biasanya berupa uang tunai berkisar lima puluh sampai dua ratus ribu rupiah, sembako, sampai-sampai janji para calon legislatif untuk melakukan pembangunan bagi daerah tertentu, seperti janji membangun masjid dan sebagainya, menjadi dalih agar terpilih.

Beberapa waktu lalu, tim kreatif Scientiarum melakukan polling singkat di Instagram. Polling kali ini mengenai Serangan Fajar. Banyak yang mengaku pernah menerima serangan fajar sebanyak lima puluh sampai lima ratus ribu rupiah. Ada pula yang mengaku mendapatkan serangan fajar disertai himbauan untuk memperlihatkan KTP agar dapat dicatat Nomor Induk Kependudukannya. Scientiarum sayangnya tidak menggali informasi ini lebih lanjut lagi, mengenai kapan dan siapa yang memberikan. Padahal, Politik uang melanggar undang-undang pemilu.

Dalam UU tersebut menyatakan bahwa tidak boleh ada pemberian apapun dalam bentuk materi atau nonmateri kecuali pemberian aksesoris kampanye seperti kaos, lembar visi-misi dan sebagainya. “Kalaupun ada aksesoris kampanye, akumulasi harganya tidak boleh lebih dari enam puluh ribu rupiah” tukas Yesaya. Politik uang dilarang selama masa kampanye, masa tenang dan masa pemungutan suara. Undang-undang nomor 7 tahun 2017 pasal 515 mengatur mengenai politik uang, hukuman yang akan diberikan bagi pelaku politik uang selama masa pemungutan suara adalah pidana selama maksimal 3 tahun dan denda sebanyak 36 juta rupiah.

Yesaya mengaku selama ini Salatiga masih dalam keadaan “bersih”, belum ada caleg yang didapati melakukan politik uang, tetapi  hal ini juga bisa berarti masyarakat enggan untuk melaporkan. Ia mengungkapkan menjadi pelapor meskipun tidak akan dikenai hukuman pindana, namun agak berat dikarenakan pelapor biasanya akan terancam secara sosial-psikologis, pelapor bisa dijauhi oleh caleg dan pendukungnya, dan masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai masyarakat yang pemaaf, sifat pemaaf ini akan membuat ia mengurungkan untuk melaporkan kasus politik uang tersebut.

Terkadang masyarakat Indonesia malah bersikap apatis terhadap pelanggaran-pelanggaran ini dan membudayakannya. Bawaslu juga pernah mendapati kasus dimana masyarakat malah datang ke TPS jika hanya untuk duduk-duduk dan memilih, mereka meminta ada isentif yang diberikan untuk tindakan mereka, hal ini mendukung politik uang untuk berkembang di Indonesia

Bawaslu memiliki tugas untuk mengawasi jalannya pemilu dan memastikan tidak ada kampanye yang melanggar peraturan. Dalam masa pemilu 2019 ini ada beberapa calon legislatif yang meminta Bawaslu untuk tidak menurunkan alat kampanye mereka, hal ini juga disertai dengan imin-iming pemberian uang, “bapak butuh apa bilang saja nanti kami sediakan” ucap Yesaya saat menceritakan tawaran dari seorang caleg. Sebagai pengawas netral, Bawaslu menolak tawaran tersebut dan tetap menurunkan alat kampanye mereka.

Wawancara Bersama Yesaya Tiluata

Pada penghujung wawancara, Yesaya menghimbau agar mahasiswa dan juga warga yang ditawarkan sejumlah uang untuk memilih calon tertentu dapat melaporkan hal tersebut ke Bawaslu, penerima tidak akan dikenakan hukuman pidana, hanya akan mengurus beberapa berkas pelaporan mengenai identitas pribadi dan bukti. Bukti yang harus ditunjukkan bisa berupa surat, foto atau video yang jelas agar dapat diselidiki lebih lanjut. Bawaslu kemudian akan bekerjasama dengan kepolisian setempat. Maka dari itu sebaiknya, laporkan segala pelanggaran pemilu, dan pastikan surat suaramu tidak disalahgunakan.

 

Tulisan oleh

Delaneira Timothea / PU SA 2018-2019

Mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2016

 

Redaktur

Christiani Merentek

Pemimpin Redaksi Scientiarum

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas