Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Pidato Presiden RI untuk UKSW

Rubrik Kampus oleh

UKSW tengah mengundang Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk menyampaikan pidato kebangsaan bertajuk “ Menuju Indonesia Maju Terbuka dan Berkeadilan dalam Bingkai Kebhinekaan” pada Senin (1/4) lalu. Acara yang dihadiri oleh pimpinan, karyawan, dan mahasiswa UKSW, serta beberapa tamu undangan ini berjalan dengan tertib dan khidmat sesekali diselingi oleh penampilan dari Voice of Satya Wacana di Balairung Universitas.

“UKSW perlu mengundang Jokowi untuk datang berpidato membagi pengalaman dan kepemimpinannya kepada kami agar kami semua dapat berbagi optimisme untuk bisa membangun Indonesia lebih maju lagi ke depan. Sekalipun beliau sebagai Presiden, pak Jokowi tampaknya bolehlah kita sebut ‘bocahe dewe’ karena kami warga UKSW hampir semua yang hadir disini demikian juga pak Jokowi adalah sesama warga Jawa Tengah”, tutur Neil Samuel Rupidara dalam menyampaikan sambutannya.

Pidato kebangsaan ini dilangsungkan sebagai bentuk solidaritas kewargaan dengan Jokowi. Contoh-contoh pembangunan dan hasil tindakan yang baik ada dalam konteks kepemimpinannya yang menjadi sumber inspirasi bagi warga kampus dan juga warga masyarakat untuk berani bermimpi dan mewujudkannya. Itulah alasan Rektor UKSW mengundang Jokowi untuk menyampaikan pidatonya. Namun sayang, jadwal beliau yang padat membuat Jokowi tidak benar-benar hadir untuk berpidato , melainkan dibacakan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Mohamad Nasir.

Dalam sambutanya rektor menjelaskan bahwa para pimpinan UKSW merasa bangga memiliki pemimpin seperti Jokowi bukan karena adanya rasa etnosesentrisme, namun karena Jokowi menunjukkan bahwa ia adalah extraordinary leader. Dalam hal intelektual Jokowi memiliki practical intelligence serta dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang pemimpin lain tidak dapat selesaikan dengan baik, begitu juga dengan pembangunan infrastruktur yang dilakukan.

Kompleksnya negara Indonesia ini membutuhkan pemimpin yang mampu merasakan, menilai, bertindak dalam realitas pergumulan rakyatnya dan mampu melampaui basis-basis elemen primodialistik yang dimiliki bangsa. Para pimpinan UKSW memandang bahwa Jokowi berupaya menjadi pemimpin bagi semua warga bangsa terlepas dari realitas sosial politik Indonesia yang rentan terhadap politisasi identitas primodial. Di dalam pidato kebangsaan ini akan terjawab bagimana Jokowi sebagai pemimpin men-set up strategic direction dan programmatic action
untuk membuat Indonesia semakin maju.

Indonesia dibangun atas dasar komitmen bersama dalam kebangsaan dengan Pancasila sebagai ideologi negara dan dirumuskan dalam UUD 1945. “Maka dalam bingkai kebhinekaan yang telah dikembangkan oleh Indonesia ini adalah suatu pilihan bagi bangsa Indonesia”, tambah Menristekdikti.

Tidak ada perbedaan antara perguruan tinggi (PT) negeri dan swasta, ini semua berbicara tentang mutu dan kualitas PT itu sendiri. PT adalah untuk pengembangan akademik, maka masalah kebangsaan haruslah dijaga dengan baik. Radikalisme harus dibersihkan dari negeri Indonesia ini. Lagi, Pak Menteri menceritakan, pemimpin besar sekelas CEO pun adalah alumni PT swasta.

Kepemimpinan Jokowi dalam kebangsaan yang berdemokrasi menuju Indonesia maju ini selalu mengedepankan anti diskriminasi serta rasa persaudaraan. Hal ini ditunjukannya dalam kue pembangunan ekonomi yang tak lagi Java-sentris melainkan Indo-sentris, pendidikan yang merata dari Sabang sampai Merauke dengan peningkatan beasiswa bidik misi dan Kartu Indonesia Pintar miliknya, terciptanya keadilan dengan pandangan yang sama terhadap hukum terlihat dari menurunnya indeks persepsi korupsi terhadap Indonesia secara luar biasa,  serta menghadapi revolusi 4.0 berbasis teknologi informasi dengan 4 start-up yang menjadikannya unicorn bangsa, semua ada dibawah pemerintahan Jokowi.

“Model kepemimpinan seperti ini harus berlanjut agar Indonesia benar-benar dapat menjadi Indonesia sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri bangsa, dimana kesejahteraan dan keadilan sosial benar-benar dirasakan oleh seluruh tumpah darah Indonesia tanpa terkecuali”, ujar Pak Rektor.

Tulisan oleh :

Vinka Agusta, Kadiv Litbang Scientiarum

mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW angkatan 2017

Redaktur :

Delaneira, Pemimpin Umum Scientiarum

Foto :

Agung Sulistyo, Anggota Div. Redaksi Scientiarum

mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW angkatan 2016

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas