Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Pemilih Tambahan Salatiga, 80% Mahasiswa UKSW

Rubrik Kampus/Salatiga oleh

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat ada sebanyak 569.451 pemilih yang telah mendaftarkan diri untuk berpindah tempat pemilihan, 2.503 diantaranya adalah pemilih tambahan di Kota Salatiga. Pemilih dari luar Kota Salaiga ini telah terdaftar dalam daftar pemilih tambahan (DPTb) dengan pelayanan formulir A5 yang dibuka sampai pada tanggal 13 Maret 2019 lalu. Ketua KPU Kota Salatiga, Syaemuri Albab dilansir dari situs Tribun Jateng menyatakan bahwa 80 persen dari 2.503 Kota Salatiga merupakan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)

UKSW memang dikenal dengan pluralitasnya, mahasiswanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam rangka pemilihan umum 2019 ini, tidak semua mahasiswa dapat pulang ketempat asalnya, dan memilih untuk mengikuti pesta demokrasi di Kota Salatiga. KPU sempat bekerjasama dengan pihak universitas dan lembaga kemahasiswaan untuk memfasilitasi pembuatan form A5, beberapa stand pembuatan A5 sempat berdiri di beberapa sudut kampus, salah satunya yakni di samping gedung Lembaga Kemahasiswaan UKSW.

Kini mahasiswa perantau yang sudah mendapatkan formulir A5 dapat menggunakan haknya di beberapa TPS yang telah ditentukan, bertambahnya DPTb ini juga menyebabkan adanya pertambahan TPS di Salatiga. Namun yang perlu diketahui bagi para DPTb, tidak semua pemilih akan mendapatkan 5 jenis surat suara saat mencoblos. Pemilih dari provinsi yang berbeda dengan tempat pencoblosan hanya akan mendapat surat suara warna abu-abu yakni untuk pemilihan presiden.

Pemilih yang masih satu wilayah, satu kabupaten misalnya akan mendapatkan 3 surat suara yakni presiden, DPD, dan DPR. Pemilih yang berpindah TPS berbeda kecamatan tetapi beda dapil (daerah pemilihan) akan mendapatkan 4 surat suara, dan tidak mendapatkan surat suara untuk DPRD.

Beberapa mahasiswa diketahui masih ada yang belum mengurus kepindahan pemilihan atau form A5, disayangkan bahwa pengurusan form A5 telah berakhir pada Maret lalu. Perpindahan pemilih diputuskan oleh MK paling lambat 7 hari sebelum pemilihan tetapi hal ini hanya berlaku pada orang dengan syarat-syarat tertentu saja seperti mereka yang memiliki kebutuhan khusus, seperti sakit hingga menjalankan tugas.

Mahkamah Konstitusi (MK) pada 28 Maret lalu telah menentukan bahwa E-KTP menjadi syarat yang sah untuk mencoblos pada pemilu. Selain membawa form A5 atau C6, pemilih juga wajib membawa KTP mereka dan dapat mulai menggunakan hak suaranya pada pukul 07.00 – 13.00 di TPS yang telah ditentukan. Dilansir dari Tirto.id, bagi pemilih yang belum terdaftar pada daftar pemilih tetap (DPT) atau daftar pemilih tambahan (DPTb) bisa menggunakan hak suaranya hanya dengan menunjukan E-KTP pada jam 12.00 – 13.00 yang nantinya pemilih akan masuk ke dalam DPK atau daftar pemilih khusus, namun perlu diperhatikan bahwa DPK hanya berlaku bagi pemilih yang belum terdaftar dan hanya bisa memilih di TPS sesuai dengan alamat E-KTPnya, tidak bisa di TPS lain. Jadi untuk yang ingin mencoblos di luar daerah E-KTPnya tetap harus menggunakan form A5.

Selain menyumbang banyak DPTb di Kota Salatiga, mahasiswa juga kemungkinan menyumbang sejumlah surat suara kosong, mahasiswa tidak bisa mencoblos surat suara tertentu karena TPS yang berbeda dengan domisili KTP pemilih, dan sebagian mahasiswa terpaksa tidak menggunakan hak pilihnya karena belum mengurus administrasi kepindahan pemilih atau form A5.

 

Tulisan oleh :

Delaneira, Pemimpin Umum Scientiarum

Redaktur :

Christiani Merentek, Pemimpin Redaksi Scientiarum

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas