Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Pemilu Salatiga, Golput Kalangan Mahasiswa

Rubrik Salatiga oleh

17 April menjadi pesta demokrasi bagi masyarakat Indonesia, pesta demokrasi ini dirayakan dengan pelaksanaan pemilihan umum bagi Presiden RI, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kab/Kota, dan DPD. Pesta demokrasi yang diselenggarakan lima tahun sekali ini ternyata tidak selalu diikuti oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia, beberapa dari mereka memilih untuk tidak memilih atau berada pada golongan putih atau golput.

Scientiarum melakukan sebuah polling kecil melalui instagram, 31% dari 206 responden menyatakan bahwa dirinya memilih untuk golput pada pemilu kali ini. Salah satu pengikut akun Scientiarum  juga turut menyumbangkan pendapatnya mengenai pemilu, baginya menjadi golput atau tidak, tidak akan merubah apapun “ekspansi kapital bakal terus berjalan, perampasan lingkungan hidup bakal terus ada, fasisme juga tetap menjamur seperti yang sudah-sudah. Demokrasi ga hanya berhenti di kotak suara,  organisir lingkungan sekitar, ciptakan lingkungan berpolitik yang sehat dimana setiap orang bebas menghidupi dirinya, itu yang terpenting”   tukasnya.

Beberapa waktu lalu, Scientiarum menjadi salah satu inisiator penayangan film dokumenter Sexy Killers, film yang membongkar lingkaran pertambangan di antara kedua capres diduga menggiring publik untuk tidak menyumbangkan suaranya pada pemilihan umum 2019. Namun, diskusi kami pada hari itu sama sekali tidak mengarah kepada ajakan untuk tidak memilih melainkan bagaimana kami sebagai mahasiswa dan rakyat Indonesia dalam menyikapinya dan apa tindakan selanjutnya yang dapat dilakukan.

Mahasiswa yang mengaku golput juga tidak ada yang menjadikan film dokumenter tersebut menjadi alasan mereka untuk tidak memilih, melainkan calon yang dianggap tidak sesuai dan para caleg yang nampak asing bagi mereka menjadi alasan terbesar. Tidak hanya itu, nyatanya golput di kalangan mahasiswa juga banyak disebabkan oleh permasalahan administrasi.

Mahasiswa UKSW menyumbang 80% daftar pemilih tambahan atau DPTb Kota Salatiga, tidak sedikit dari mereka yang mengeluhkan proses pemilu kali ini, KPPS  (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) dinilai masih kurang persiapan karena tidak mengetahui bahwa DPTb dapat melaksanakan pencoblosan dari pukul 07.00. Sudah menunjukkan A5 kepada KPPS TPS setempat, namun dikatakan tidak bisa melakukan pencoblosan sebelum pukul 12.00. Padahal KPU Salatiga telah memberitahukan bahwa DPT dan DPTb dapat memilih sejak pukul 07.00 sedangkan jam 12.00-13.00 diperuntukan untuk DPK (Daftar Pemilih Khusus). KPU juga sudah menyediakan buku panduan bagi KPPS tiap TPS.

Sumber instagram @kpusalatiga

Permasalahan lain dimana mahasiswa tidak bisa mengurus surat A5 dikarenakan E-KTP yang belum jadi, dan rumitnya birokrasi untuk mengurus surat A5. Seperti dalam pemberitaan SA lalu “Pemilih Tambahan Salatiga, 80% Mahasiswa UKSW” Komisi Pemilihan Umum sesungguhnya sudah bekerjasama dengan UKSW untuk membuka stand pembuatan surat A5, ,tetapi mahasiswa mengaku bahwa mereka tidak tahu menahu soal itu. Adapula mahasiswa yang tidak mendapatkan surat A5 padahal sudah mengurus kelengkapan administrasi. apakah himbauan untuk tak golput tidak se-massive penyebaran film dokumenter Sexy Killers?

Tulisan oleh :

Delaneira, Pemimpin Umum Scientiarum

Redaktur :

Christiani Merentek, Pemimpin Redaksi Scientiarum

Foto diambil dari https://1.bp.blogspot.com/-fSK_LVHKMM4/WzM4YecCw7I/AAAAAAAAYnA/pjCYz1-dcYweHhyCNK3P0Kzr8V60MQmLACLcBGAs/s1600/jari%2Btinta.jpg

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas