Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Alasan Seorang Mahasiswa Bermental Lemah Untuk Bangun Sore Ketika Pemilu

Rubrik Kampus oleh

“Jangan pertanyakan apa yang negara berikan kepadamu, karena hasil pemilu akan menentukan pasar yang investor serbu, sehingga kerakyatan yang dipimpin oleh permusyawaratan para CEO akan membuka lahan serupa Roma yang dibakar oleh ribuan Nero.”

Bars of Death – Tak Ada Garuda di Dadaku.

Mungkin terlambat bagi saya untuk menulis tentang topik ini, mengingat pesta coblos menyoblos dan euforia pamer jari kelingking di media sosial telah usai. Tapi sepertinya tidak terlambat untuk hanya sekedar menanggapi cibiran yang ditujukan pada golongan penghuni kerak neraka satu ini. Golongan yang selalu bersih jari nya ketika pemilu, golongan yang bisa mempersatukan bayi katak dan kelelawar karena dianggap sebagai musuh bersama. Golongan yang dianggap berdosa karena sikap politiknya yang dicap haram, Juga golongan yang disebut psycho-freak, benalu, dan bermental tidak stabil bahkan lemah oleh Romo Franz Magnis-Suseno. Golongan Putih atau yang biasa disebut Golput. Istilah yang muncul pada 1971, yang diciptakan oleh Imam Waluyo. Merujuk pada orang yang mencoblos bagian putih surat suara di luar gambar parpol yang merupakan ungkapan protes atas keadan politik saat itu.  Banyak alasan mengapa orang memilih Golput, bisa karena tidak ada calon yang cocok bagi mereka, atau memang anti terhadap sistem elektoral.

Golput bukan hanya soal apatisme atau pesimisme, melainkan juga kesadaran akan mungkinnya praktek politik alternatif yang lebih sehat ketimbang omong kosong elektoral. Tak ada yang lebih menggelikan ketimbang ilusi demokrasi kotak suara. Pun argumen basi soal “mencegah yang paling buruk berkuasa” yang merupakan bentuk kepasrahan akut adalah gambaran ketidak berdayaan masyarakat atas dirinya sendiri. Logika lesser evil pada akhirnya akan membuat masyarkat tak punya jalan lain ditengah sempitnya pilihan, selain memilih pemimpin yang buruknya tidak seburuk lawannya. Juga argumen soal tidak ada pemimpin yang sempurna, dimana ketidaksempurnaannya membuat ia tidak bisa menyelesaikan kasus pelanggaran HAM dan perampasan ruang hidup yang masif terjadi saat ini. Lama kelamaan, bila argumen ini selalu dipertahankan bisa jadi masyarakat menjadi sangat kompromis terhadap berbagai isu yang krusial macam yang saya sebutkan di atas, karena kan “tidak ada pemimpin yang sempurna” kata mereka.

Layaknya yang terjadi beberapa saat yang lalu menjelang pemilu, dimana masyarkat pro pemilu yang merasa insecure karena junjungan mereka dibahas dalam film dokumenter Sexy Killer karya Dandy Dwi Laksono ramai-ramai mengecam film itu. Dari yang menuduhnya sebagai upaya ajakan golput, hingga argumen pembelaan basi mereka yang menganggap perusakan lingkungan adalah bagian dari pembangungan yang juga bermanfaat bagi semua masyarakat, yang sejatinya hanyalah untuk mempertahankan zona nyaman mereka sebagai kelas menengah serta legitimasi bagi hasrat konsumtif mereka.

Para calon pemimpin hadir seperti tanpa celah, kalau ada itu pun akan dimaklumi karena semuanya sudah tersumpal dengan citra, membentuk gambaran sang penguasa bak messias. Layaknya para remaja kelas menengah penderita fetisisme komoditas yang merasa hampa tanpa sepatu bermerek di kaki mereka, para pemuja penguasa itu akan terlihat seperti anak kecil yang hilang di tengah kerumunan, kebingungan, dan takut apabila tak ada sosok penguasa yang menuntun mereka. Pun kepercayaan kepada Partai Politik yang dianggap progresif adalah sebuah kekonyolan yang patut ditertawakan, karena kenyataanya, tidak ada yang namanya oposisi, semua partai ini mempunyai kesamaan: perlindungan komunitas masyarakat perdagangan saat ini. Mereka hanya berdebat soal hal-hal basi untuk memastikan status quo tetap terjaga.

Siapapun Pemimpinnya, Rakyat Tetap Kalah.

Diluar pembahasan di atas soal track record masing-masing calon, marilah kita pertanyakan kembali term pesta demokrasi yang selalu dielu-elukan. Demokrasi berasal dari bahasa Yunani (demokratia), yang terbentuk dari kata demos dan kratos yang berarti kekuasaan rakyat. Lawan kata dari demokratia adalah aristocratie atau kekuasaan elit. Pada kenyataannya, apakah pemilihan umum kita ini benar-benar sebuah interpretasi dari demokrasi? Saya rasa tidak. Setiap calon yang terpilih selalu berasal dari kelas ekonomi dominan. Demokrasi yang benar didefinisikan dengan partisipasi seluruh rakyat atas pemerintahan dan urusan masyarakat yang bersifat langsung dan partisipatif, ini merupakan ekspresi demokrasi yang paling otentik.

Kita bisa melihat praktek demokrasi pada masyarakat Yunani kuno, setiap kota (polis) mempunyai hak penuh atas keputusan yang dimusyawarahkan, Inilah yang dinamakan demokrasi penuh, setiap daerah punya kebebasan untuk menentukan nasib dan mengelola diri mereka sendiri. Atau tidak usah menarik contoh jauh-jauh, kita bisa melihat Rojava yang menerapkan bentuk pemerintahan konfederalisme yang otonom dan menolak pemerintahan yang bersifat sentralis. Otonomi demokratis yang menerapkan struktur lembaga swakelola, yang berasal dari rakyat dan pengorganisasiannya diupayakan dari bawah ke atas. Berbeda dengan apa yang ada sekarang di sini, partisipasi masyarakat dibatasi hanya dengan pemilihan suara sederhana, yang tak berarti apapun. Ditambah dengan imaji atas berhasilnya perlhelatan pemilu kali ini juga merupakan keberhasilan dan menangnya kekuatan rakyat yang nyatanya tetap kalah.

Akhir kata, entah memilih atau tidak, tidak akan berarti apapun. Ekspansi kapital tetap berlangsung, perampasan lingkungan hidup tetap ada seperti yang sudah-sudah, yang terpenting adalah bagaimana kegiatan berpolitik dalam menciptakan ruang berdemokrasi yang sehat tetap berlangsung setelahnya, bukan berhenti di kotak suara. Ini yang saya lihat kurang dipahami beberapa orang. Mereka pikir dengan memilih atau tidak, masalah akan selesai. Nasib masyarakat kedepannya akan baik ketika kita memilih pemimpin yang baik. Tidak, kalau boleh mengutip dari Elysee Reclus, ”Memilih berarti melepaskan tanggung jawab.” Kalimat ini benar bila menggunakan logika macam nasib bangsa ditentukan dengan pemilihan. Melepas tanggung jawab atas nasib diri sendiri, dan melimpahkannya pada orang lain (baca: pemimpin).

Pun dengan para golongan putih, hanya dengan tidak memilih atau pamer stiker golput di media sosial tidak akan merubah apapun tanpa usaha menciptakan tatanan sosial politik masyarakat yang sehat dengan tetap mengorganisir lingkungan sekitar. Karena perubahan hadir karena aksi kongkrit dan bukan karena opini-opini, pun tulisan ini. Sekian dan terimaksih dari saya yang berdosa, bodoh, dan bermental tidak stabil karena memilih bangun sore guna menikmati hari libur di pesta oligarki lima tahun sekali.

 

Oleh : Christian Adi Candra, anggota Scientiarum 17/18

Illustrasi diambil dari : Kabar Kampus

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas