Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Drama Kerusuhan Pasca Pilpres 2019

Rubrik Berita/Fitur oleh

Aparat kepolisian sudah berjaga di depan gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemuli (Bawaslu) sejak Senin (20/05) lalu. Kapolda Metro Jaya pun ikut memastikan keamanan di sekitar lokasi. Tampak akses jalan dari arah Hotel Indonesia dan Jalam Imam Bonjol menuju gedung KPU ditutup dengan kawat berduri. Sejumplah personel kepolisian dan baracuda ikut disiagakan di lokasi. Tak hanya aparat kepolisian yang berdiri untuk penjagaan, namun anjing K9 pun ikut dilibatkan.

Kabar mengenai kedatangan massa yang berjumlah sekitar 20 ribu orang muncul dari Arif Wahyudi, pengurus Forum Bersama Tangsel (Forbest). Ia juga menyatakan bahwa titik kumpul massa adalah di gedung KPU. Jumlah tersebut akan bertambah dua kali lipat jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengeluarkan instruksi.

Berlawanan dengan yang disampaikan oleh Arif, Siti Chodijah selaku pengurus Koordinator Wilayah (Korwil) PKS. Siti mengaku bahwa tidak ada instruksi untuk para kader maupun simpatisan PKS untuk mengikuti aksi 22 Mei.

Selasa (21/05) siang sudah ada lebih kurang 20 orang berjalan dari arah Menteng ke Gedung KPU. Mereka membawa spanduk yang meyatakan dukungan untuk KPU dan Bawaslu. Massa ini meneriakkan dukungan mereka dan tidak menimbulkan kericuhan.

Menjelang pengumuman hasil rekapitulasi pemilu, KPU makin krisis kepercayaan. Terlebih dari kubu pasangan calon (paslon) 02 yakni Prabowo-Sandiaga Uno. Pasalnya, pihak paslon 02 tidak terima dengan hasil yang mengatakan bahwa suara terbanyak didapat oleh paslon 01, Jokowi-Ma’aruf Amin.

Seperti dilansir di Idntimes, Sufmi Dasco Ahmad, selaku Direktur Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) menyatakan bahwa BPN memutuskan untuk mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait pengumuman KPU pada dini hari.

Sebelumnya, para elite pendukung paslon no. 2 berkumpul di kediaman Prabowo yang berada di Jalan Kertanegara, Jakarta. Pendukung ini antara lain Sandiaga Uno, Priyo Budi Santoso, dan Ahmad Muzani. Berdasarkan keterangan yang diberikan Priyo ketika ditanyai wartawan, tujuan pertemuan ini ialah untuk membahas sikap politik yang akan diambil oleh paslon no. 2 maupun sikap pendukung mengenai kecurangan yang menurut mereka terjadi selama jalannya Pemilu.

Penjagaan gedung Bawaslu di Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat tidak seketat gedung KPU. Sekitar pukul 14.00 WIB rombongan massa berbondong-bondong menggeruduk, mereka menuntut kecurangan pemilu 2019. Massa aksi ini terpecah menjadi dua setelah berhadapan dengan barikade polisi bertameng. Massa pertama berlokasi di perempatan lampu lalu lintas kantor Bawaslu, sedangkan yang lainnya berada di Jalan Sunda, tepatnya di depan Kedutaan Perancis.

Demonstran yang berada di Jalan Sunda akhirnya tetap berorasi dengan pengeras suara seadanya dan tanpa mobil komando. Sedangkan massa aksi di depan Bawaslu sempat ricuh sebentar dikarenakan seorang pria yang meminta mereka untuk tidak emosi. Kericuhan dapat diredam kembali oleh peserta massa aksi yang lain.

Selasa malam, pengunjuk rasa melakukan salat tarawih di Jl. M. H. Thamrin. Seusai menjalankan salat tarawih massa aksi berangsur-angsur meninggalkan lokasi dan suasana pun kembali kondusif. Blokade di Jalan M. H. Thamrin dari arah Patung Arjuna Wijaya, dari Bundaran Hotel Indonesia, dan Jalan Wahid Hasyim kembali di buka oleh aparat kepolisian setelah ditutup sejak siang.

Sekitar pukul 21.00 muncul kembali demonstran mendatangi kantor Bawaslu dan memprovokasi aparat kepolisian yang ketika itu tengah melakukan apel pembubaran personel. Massa yang datang berjumlah sekitar 100 – 200 orang. Mereka menghujani aparat dengan kata-kata kasar dan yel-yel provokasi namun tidak mendapatkan tanggapan. Menurut mereka polisi bertindak tidak netral selama jalannya Pemilu 2019.

“Polisi tugasmu mengayomi, jangan ikut kompetisi,” teriak massa aksi,

Salah seorang massa aksi mengaku bahwa rombongan ini berbeda dengan yang sebelumnya sudah membubarkan diri. “Bukan, kita baru datang ini. Jilid ke 2 gantian sama yang tadi siang,” tandas salah seorang massa aksi.

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Harry Kurniawan, sebenarnya massa sudah damai dan tenang. Namun, kehadiran sejumlah massa secara tiba-tiba dengan merusak barrier berhasil memancing keributan kembali. Akhirnya polisi membubarkan massa secara paksa. Suasana sempat menegang ketika sejumlah orang yang diduga provokator diamankan. Seorang demonstran luka akibat kericuhan ini dan segera dilarikan ke rumah sakit.

Rabu (22/05) dini hari, aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa aksi. Negosiasi antara pihak kepolisian dan perwakilan massa aksi berlangsung alot. Pengunjuk rasa semakin tak terkendali dan mulai melempari aparat dengan batu dan petasan.

Pengamanan gedung Bawaslu dipimpin langsung oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono. Eddy sempat tampak ingin mendatangi massa aksi dengan tujuan untuk bernegosiasi agar mereka mau membubarkan diri. Niat tersebut urung dilakukan karena baru beberapa langkah Eddy sudah disambut dengan lemparan petasan.

Pasukan polisi dengan sepeda motor pun diturunkan untuk mendesak demonstran ke arah pemukiman sekitaran Wahid Hasyim dan Tanah Abang. Satuan Brimop dengan mengendarai sepeda motor dan membawa senapan laras panjang yang berisi peluru karet untuk mengejar demonstran yang tak terkendali. Bahkan mobil pengurai massa (Raisa) pun memberikan imbauan keras kepada demonstran untuk segera membubarkan diri.

Sekitar pukul 05.00 pagi, Asrama Brimop yang berada di Jl. K. S. Tubun, Petamburan, Jakarta Barat diduga dibakar oleh massa. Kendaraan yang terparkir di Kawasan tersebut juga tak luput dari aksi pembakaran. beberapa orang yang diduga melakukan aksi pembakaran dibawa ke asrama Brimob untuk interogasi. Tidak terima anggotanya ditangkap, mereka pun merusak pos polisi di Jl, K. S. Tubun.

Terdapat pemandangan menarik kala kerusuhan terjadi. 53 orang pasukan Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dikerahkan untuk membersihkan sisa-sisa kerusuhan. Mereka mengenakan pasta gigi di bawah mata agar tidak sakit ketika terkena gas air mata.

Siangnya, massa dengan sorban putih mengendarai motor menuju KPU. Mereka melaju dengan tertib meski sempat menyebabkan macet. Sekitar pukul 12.30, massa kembali menyambangi Bawaslu. Namun kali ini massa yang datang masih berusia remaja, sekitar 15-25 tahun.

Bentrok antara demonstran dan aparat berlangsung hingga Kamis (23/05) dini hari. Bahkan TNI-AD pun diperbantukan untuk mem-backup. Gas air mata dan water cannon terus ditembakkan untuk membubarkan demonstran. Dua mobil dan satu helikopter pemadam kebakaran ikut diturunkan untuk membantu menyemprotkan water canon. Dilansir dari Tirto, helikopter tersebut mengambil air dari sungai Ciliwung dengan menggunakan wadah semacam kuali besar.

Soerang Jurnalis IDN Times mengaku bahwa birinya sempat mendekat ke tengah-tengah kerusuhan. Setelah berhasil mengambil beberapa gambar jurnalis tersebut dihadang oleh beberapa peserta aksi demonstrasi. Ia di tarik ke depan ruko dan diminta untuk menghapus rekaman yang sudah diambil tadi. Tidak mudah bagi jurnalis tersebut untuk lepas dari para demonstran sebab dirinya menolak untuk menyerahkan rekamannya. Karena kericuhan yang kembali pecah akhirnya perhatian para demonstran yang menghadang tadi menjadi terbagi. Kesempatan tersebut tida disia-siakan si jurnalis. Ia segera berlari menjauhi kerumunan demonstran dan menyelamatkan hasil rekannya.

Banyak kerugian yang ditimbulkan dari kerusuhan ini. Mulai dari lumpuhnya pasar Tanah Abang dan Sarinah yang menjadi lokasi bentrok, perusakan fasilitas umum, hingga korban luka dan meninggal dunia dari kedua belah pihak.

Serupa drama ‘98

Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan Mei 1998, Hermawan Sulistyo menilai skenario 21-22 Mei lalu serupa dengan kerusuhan tahun 1998. Mulai dari latar belakang politik sampai adanya ‘penumpang gelap’ ketika kerusuhan. Keberadaan ‘penumpang gelap’ ini memperpanas kerusuhan dengan melontarkan provokasi di tengah-tengah demonstran.

Beberapa nama dari kalangan elite ikut disebut-sebut sebagai dalang dari kerusuhan 21-22 Mei ini. Dilansir dari Tribun News, Sejumlah orang yang mengatasnamakan diri sebagai Rembug Nasional 98 berunjuk rasa di depan Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (29/5).

Dalam orasinya, mereka berniat untuk melaporkan Prabowo Subianto dan sejumlah orang lainnya karena dituding sebagai dalang kerusuhan 22 Mei lalu. Nama lain yang muncul dalam orasi tersebut adalah Titiek Soeharto, Neno Warisman, Amien Rais, Kivlan Zen dan Fadli Zon.

Kivlan Zen yang merupakan mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) sempat ditahan selama 20 hari di kepolisian terhitung sejak 30 Mei lalu. Menurut Suta Widhya, pengacara Kivlan, penahanan ini dikarenakan penyidik menilai bahwa bukti yang ada sudah cukup untuk menahan kliennya atas kepemilikan senjata api illegal. Untuk saat ini Kivlan ditahan di Rumah Tahanan Guntur.

Sebelumnya, polisi sudah menetapkan enam orang sebagai tersangka. Enam orang tersebut berinisial HK, AZ, IR, TJ, AD, dan AF. Dari keenam orang tersebut polisi menemukan empat senjata api yang kepemilikannya tidak sah, bahkan dua diantaranya adalah senpi rakitan.

Menariknya, Kivlan tahu empat dari enam orang tersangka tersebut. Djuju Purwanto, Kuasa Hukum Kivlan juga mengatakan bahwa salah satu tersangka merupakan mantan dari sopir pribadi Kivlan selama tiga bulan.

Kerusuhan Terencana

Ketika membersihkan sisa kerusuhan, polisi menemukan busur dan bensin yang mengindikasikan kerusuhan ini sudah terencana. Seusai diperiksa Badan Laboratorium Forensik Mabes Polri, pada anak panah ditemukan beberapa zat berbahaya seperti senyawa kimia zink posfit dan zat karat.

Pihak kepolisian juga menemukan bukti bahwa provokasi dilakukan melalui grup Whatsapp (WA). Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengungkapkan, provokator demonstrasi membuat WhatsApp (WA) Group untuk mengkoordinir massa.

“WA grup ini berisi ajakan dan informasi juga provokasi contohnya ini ; ‘Persiapan Perang’ , ‘Yang Lain Dimana’, ‘Tanah Abang sudah Dibakar’, ‘Ayo Kita Serang Jokowi’,” ujar Argo saat menggelar jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (22/5).

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal mengaku bahwa pihaknya telah mengamankan sebuah mobil ambulans dengan logo partai yang berisi batu dan sejumlah amplop saat mengamankan aksi pada Rabu dini hari.

“Kami temukan mobil ambulans berlogo partai penuh batu, selain itu saat kami geledah, massa-massa tersebut membawa sejumlah amplop berisi uang. Saat ini, Polda Metro Jaya masih mendalami temuan tersebut,” jelas Iqbal saat konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam.

Pembatasan Sosial Media

Mulai tanggal 22 Mei hingga beberapa hari kemudian masyarakat dibuat kelimpungan. Pasalnya, beberapa sosial media mengalami gangguan, yaitu Whatsapp, Instagram, juga Facebook. Ternyata down-nya beberapa sosial media ini berkaitan dengan pengumuman hasil rekapitulasi penghitungan suara 22 Mei lalu.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menyatakan pemerintah membatasi akses media sosial sesuai dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pembatasan ini sekaligus mencegah beredarnya konten ujaran kebencian, dan hoaks. Pada beberapa media sosial diterapkan sistem pembatasan ini, khususnya yang berkaitan dengan proses unggah-unduh konten yang bisa memicu suasana menjadi keruh.

 

Oleh : Ella Surya, Anggota Redaksi SA, Mahasiswa F.Psi 2017

 

Redaktur : Delaneira, PU SA, Mahasiswa F.Psi 2016

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas