Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Dilarang Merokok di Cafetaria UKSW!

Rubrik Berita/Kampus oleh

Jumat ini (2/8), pengunjung Cafetaria UKSW nampak dibingungkan dengan beberapa poster larangan merokok yang ditempelkan pada tembok-tembok Cafetaria. Padahal sudah sejak dahulu, Cafetaria menjadi tempat beristirahat yang akrab dengan asap rokok, bukan hanya mahasiswa yang berkumpul dengan sebulan asap rokoknya, melainkan beberapa dosen dan birokrat kampus juga menjadikan Cafetaria UKSW sebagai tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu istirahat.

Beberapa mahasiswa dan salah satu anggota Scientiarum, mendapati seorang pegawai Cafetaria tengah menempelkan poster-poster larangan merokok tersebut. Awalnya poster bertuliskan “Kawasan Bebas Merokok” lengkap dengan illustrasi larangan merokok. Tak lama kemudian, poster tersebut dicabut dan diganti dengan larangan baru bertuliskan “you are entering a no smkoking area (anda memasuki area bebas asap rokok)”.

Penempatan poster ini nampak sedikit kontras, melihat adanya lambang salah satu merek rokok ternama terpampang jelas pada charging station di bawah poster tersebut.

Salah satu mahasiswa menanyakan Yanto, pegawai cafetaria (tergabung dalam Satya Mitra Sejahtera) terkait alasannya menempelkan poster tersebut, “Saya Cuma disuruh nempel sama yang jaga souvenir di depan” tandasnya singkat.

Terkait hal ini, pemasangan poster tidak pernah disosialisasikan se belumnya kepada mahasiswa, namun pada 11 April lalu, Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) kerap mencetak poster yang berisikan himbauan untuk tidak merokok di dalam area kampus, poster ini kemudian ditempelkan di sekitar area kampus dan juga di publikasikan pada akun instagram @komisiadvokasibpmu.

Salah satu anggota komisi advokasi BPMU, Putra Anggara menyatakan bahwa poster tersebut merupakan program kerja komisi advokasi saat diwawancarai SA kala itu. Putra menambahkan bahwa program ini menunjang kebijakan pemerintah mengenai Kawasan Tanpa Rokok (KTR), juga mengenai Perda Kota Salatiga Nomor 6 Tahun 2016.

Pada dasarnya KTR memang program pemerintah yang bertujuan untuk menciptakan kawasan-kawasan bebas asap rokok begitu pula dalam lingkungan pendidikan. Namun, dalam pelaksanaannya, penentuan KTR dilakukan melalui beberapa langkah yakni ; persiapan awal, konsolidasi lintas program, konsolidasi lintas sektor, sosialisasi rencana penetapan kawasan tanpa rokok, pertemuan tim perumus sampai pada akhirnya evaluasi.

Evaluasi yang akan diberikan meliputi bagaimana KTR diterima bagi seluruh civitas universitas, pematuhan terhadap larangan, serta tidak adanya penjual rokok di sekitar tempat proses belajar mengajar.

Kawasan KTR yakni zonasi atau tempat-tempat tertentu yang diajukan dan telah dipertimbangkan sebelumnya. Penentuan ini bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Ketentuan selengkapnya di atur dalam Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Salah satu universitas yang telah menerapkan KTR yakni Universitas Kristen Petra Surabaya. Penetapan KTR ini melalui sosialisasi secara bertahap selama lebih dari satu tahun dimulai dari tahun 2003.

Terkait dengan poster di Cafetaria, masih belum diketahui apakah benar merupakan perwujudan dari pengajuan KTR atau bukan, jika iya tentu pastinya akan ada sosialisasi yang telah dilakukan sebelumnya.

 

Oleh :

Delaneira, Kalitbang Scientiarum

Gilbert Mallin, Anggota Redaksi Scientiarum

 

Redaktur :

Vinka Agusta, PU Scientiarum 19/20

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas