Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

  • 10.jpg
  • 8.jpg
  • 7.jpg
  • 6.jpg
  • 5.jpg
  • 4.jpg
  • 2.jpg
  • 1.jpg
  • 9.jpg

Swaraning Sanggar : Menyuarakan Kembali Sanggar Tradisional

Rubrik Foto/Lensa oleh

Taranggana Project pada Senin 5 Agustus lalu berhasil mengumpulkan sanggar-sanggar di Salatiga untuk tampil secara apik pada expo sanggar “Swaraning Sanggar” yang didakan di GPD Salatiga. Acara ini dibuka dengan tari-tarian daerah, tidak hanya tarian daerah Taranggana project juga mengundang sanggar tari anak, sanggar topeng ireng, sanggar pantomim, dan sanggar karawitan. Dalam pelaksanaannya sanggar berbeda dengan kursus, kursus akan berakhir pada waktu yang sudah ditentukan sebelumnya, berbeda dengan sanggar, dalam sanggar kita bisa terus mengembangkan keterampilan kita tanpa waktu yang telah ditentukan. Sanggar lebih mengutamakan kekeluargaan dan juga etika dalam kehidupan sehari-hari. Namun seiring berjalannya waktu, peminat atas sanggar-sanggar ini kian redup. Swaraning Sanggar bertujuan untuk membantu sanggar-sanggar untuk menyuarakan keluh kesahnya dan kelak dapat memancarkan cahayanya kembali. Acara ini kemudian ditutup oleh “pertunjukan dalam pertunjukan” dimana merupakan penampilan kolaborasi sanggar yang menceritakan tentang realitas kehidupan sanggar saat ini. Selain bekerjasama dengan sanggar-sanggar di Salatiga, Swaraning Sanggar juga bekerjasama dengan Dewan Kesenian Salatiga. Swaraning Sanggar yang juga merupakan tugas akhir dari mata kuliah Manajemen Pertunjukan (Fiskom) mengharapkan dengan terselenggaranya acara ini masyarakat terutama Salatiga bisa melestarikan kesenian tradisional Jawa melalui sanggar, karena makna dan pemahaman nilai-nilai seni lebih diperdalam di sanggar.

 

Foto oleh : Kornelius Dicky, mantan anggota divisi kreatif SA, Fiskom 2016

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas