Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Abhipraya Bumi Sari; Ucapan Syukur Atas Hasil Bumi Dusun Gunung Sari

Rubrik Media Partner/Salatiga oleh

“Upacara merti desa merupakan tradisi tahunan warga dusun Gunung Sari sejak nenek moyang, namun sempat terlupakan dan baru saja diadakan lagi 5 tahun terakhir. Merti desa sendiri merupakan tradisi ucapan syukur pada Tuhan atas hasil bumi, yang beda dari upacara merti desa kali ini dibantu oleh adik-adik mahasiswa dari DNA Project UKSW benar-benar menambah kemeriahan acara” Ucap Pujiono (ketua RT 06), Sabtu (03/08/2019).

 

-bekerjasama dengan DNA Project-

Gunung Sari –  Tradisi merti desa bertajuk Abhipraya Bumi Sari yang diadakan bersamaan dengan perayaan hari kemerdekaan indonesia tahun ini dirancang oleh panitia dusun bekerjasama dengan DNA Project UKSW mengangkat tema back to nature. “Sedekah bumi ini adalah salah satu tradisi ucapan syukur atas hasil bumi karena itulah kita sudah mendapatkan hasil bumi dan melakukan ucapan syukur, lewat tradisi ini kita berharap bumi dan alamnya ada dalam kondisi yang baik.” ucap Medeliene Rebecca Megawati (Medeliene), selaku ketua DNA Project, Sabtu (03/08/2019).

Acara merti desa ini, sebenarnya merupakan sebuah rangkaian panjang. Dimulai dengan acara bersih desa (27/07) serta bersih makam, kali, dan sumber air (28/07), kemudian, tanggal 3 Agustus diadakan rangkaian acara pertunjukan mulai dari kesenian reog, tarian daerah yang dipersembahkan oleh Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Maluku (HIPMMA), serta tari api pada malamnya. Tidak sampai disitu, acara merti desa dilanjutkan dengan Kirab Budaya pada Minggu (04/08). Dalam kirab terdapat beberapa barisan, mulai dari prajurit yang terdiri dari anak-anak, sesepuh desa, gunungan yang berisikan hasil bumi dari beberapa RT serta gunungan utama RW, dan drumblek. Di akhir kirab, warga akan memperebutkan isi gunungan utama.

Rangkaian acara ini diadakan bukan hanya untuk memperingati merti desa saja, namun juga dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Berbagai perlombaan juga diadakan pada Minggu (11/08).

Terlaksananya kegiatan ini mendapat sambutan positif dari Camat, Lurah, dan tentunya warga setempat. Alex, warga dari RT 2 mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan merti desa tahun kemarin, antusiasme warga meningkat karena acaranya lebih meriah. Kami juga berkesempatan untuk mewawancarai Hartini, Camat Tingkir. Dirinya mengaku sangat mengapresiasi kegiatan ini.

“Saya menyambut dengan gembira, acara ini juga dalam rangka menyambut HUT RI serta perwujudan rasa kesatuan dan persatuan masyarakat di sini, mereka swasembada hingga akhirnya terwujud acara semacam ini, acara ini semakin tahun semakin meningkat…” tegas Hartini.

Hartini juga menambahkan, kegiatan semacam ini harus dilestarikan, bahkan mungkin akan digali lagi. Baginya, kegiatan ini tidak semata-mata untuk menunjukkan karakter dari masing-masing wilayah, namun juga sebagai sarana promosi pariwisata.

“…tentunya tidak menutup kemungkinan next time ini menjadi salah satu destinasi wisata.” tambah beliau.

Selaras dengan yang disampaikan Camat Tingkir, Pujiyono selaku ketua RW juga mengatakan bahwa nantinya Dusun Gunug sari akan membuat sebuah destinasi wisata berupa spot foto di tanah yang telah dihibahkan oleh pemerintah kepada warga untuk dikelola.

Desa yang masih kental dengan aliran Kejawen

Melihat dari rangkaian acara merti desa, Dusun Gunung Sari ini masih kental dengan kejawen. Untuk memastikannya kami menanyai Pujiyono terkait aliran Kejawen di Dusun Gunug sari. Beliau menyampaikan bahwa Dusun Gunug sari masih sangat kental kejawennya. Dirinya memberikan contoh dalam pertunjukan reog pasti terdapat sesaji.

Untuk mengetahui lebih lanjut kami bertemu dengan Rasimin, pelatih reog. Beliau menyampaikan bahwa sebelum pertunjukan reog pasti dilakukan pembacaan doa. Hal ini bertujuan untuk menghindari hal-hal buruk serta mencegah roh-roh yang merasuki pemain agar tidak mengganggu lagi selepas pertunjukan. Dirinya juga menambahkan untuk ritual sesaji dilakukan bukan dengan tujuan musyrik.

“…ritual reog berupa sesaji bukan dalam artian musyrik, tapi ada filosofinya. Misal ngobong menyan kan harum, nah keharuman itu akan datang dari Tuhan YME untuk mengayomi manusia yang hidup di dunia ini.” tegasnya.

Sama halnya dengan pertunjukan reog, dalam wayangan juga terdapat sesaji. Menurut Rasimin, pemberian sesaji di sini untuk memohon agar pekerja dari Dusun Gunug sari selalu lancar dalam bekerja sesuai porsinya masing-masing, serta dijauhkan dari hal-hal negatif dan hasil usahanya halal. Sesaji untuk wayangan berupa tumpeng, tukon pasar, ingkung, dan masih banyak lagi. Setiap sesaji menyimpan filosofi di dalamnya. Misalnya ingkung, kita sebagai manusia pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan dan ketika meninggal akan diikat seperti ingkung (Red– dipocong).

Puncak acara merti desa adalah sedekah bumi yang diadakan 16 Agustus nanti. Sedekah bumi ini diisi dengan pertunjukan wayang semalam suntuk oleh dalang Joko Toleh.

 

Tulisan oleh :

Sisilia Fitria D, Anggota Redaksi, Mahsiswi Fiskom 2017

Ella Surya, Pemred SA 19/20, Mahasiswi F.Psi 2017

Redaktur : Delaneira, Kalitbang SA, Mahasiswi F.Psi 2016

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas