Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Arutala Project : Paes dan Filosofinya

Rubrik Media Partner/Salatiga oleh

“Nuwun, nuwun, kula nuwun…” ucap pambiwara dalam pertunjukan “Pramesthi”

Rabu (07/08) sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) yang tergabung dalam Arutala project mengadakan sebuah pertunjukan berjudul “Pramesthi” dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Manajemen Pertunjukan. Acara ini diadakan di Hotel Laras Asri Salatiga pada 7 Agustus lalu.

Arutala sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang berarti rembulan, harapannya acara ini mampu menjadi penerang bagi kearifan lokal yang sudah mulai menyusut. Menurut Gregorius Godfried Junus (Gerry) selaku Ketua Panitia Arutala project, saat ini kearifan lokal memang belum padam, namun dikhawatirkan akan padam seiring berkembangnya jaman.

Dari sekian banyak kearifan lokal, Arutala project memilih paes untuk diangkat menjadi pertunjukan. Meski paes masih banyak peminatnya, namun pakem yang digunakan sudah berbeda. Pada dasarnya, riasan paes berasal dari Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Di Salatiga sendiri perias paes sudah cukup banyak. Perias paes Salatiga mengadaptasi riasan Keraton Surakarta, namun pakem rias yang digunakan sudah berbeda. Untuk tetap mempertahankan pakem sesungguhnya dari Keraton Surakarta, maka dibuatlah pertunjukkan “Pramesthi”.

Sebelum acara dimulai, karawitan dari Asmara Budaya menghibur tamu dengan musik yang khas. Acara ini dibuka dengan sambutan dari Gerry dan disambung oleh Sampoerna, selaku dosen pengampu mata kuliah.  Acara dilanjutkan dengan masuknya pengantin yang mengenakan busana basahan solo dan diiringi oleh dua orang penari. Di sini, panitia ingin menunjukkan sedikit dari prosesi pernikahan adat Jawa. Setelah pengantin naik ke pelaminan, para penari mulai menari dan menghibur penonton. Tak lama, dimulailah pertunjukkan “Pramesthi”.

Pemain drama “Pramesthi” berasal dari Teater Solidaritas Partai Subuh, yang anggotanya merupakan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Di akhir acara, tamu kembali disuguhi iringan keroncong klasik dari Keroncong Setia Kawan, Kalitaman.

Pramesthi, Pancaraning Suci Jeroning Ati

Drama dalam pertunjukan ini ingin menyampaikan bahwa perias paes membantu pengantin memancarkan kesucian pada wajah dan hatinya. Pertunjukan ini menyuguhkan kisah seorang gadis bernama Pramesthi (Esthi) yang hendak menikah. Dibuka dengan perdebatan Esthi dan Ayahnya mengenai rias dan busana yang akan ia kenakan ketika pernikahan nanti. Esthi merasa bahwa riasan paes sudah tidak zaman dan dirasa tidak nyaman ketika digunakan, sedangkan Ayahnya menuntut Esthi untuk menggunakan paes dikarenakan permintaan Ibu nya sebelum meninggal dunia. Dengan hati berat, akhirnya Esthi menuruti kemauan dari sang Ayah. Ketika Esthi hendak dirias, mulailah pembahasan mengenai paes.

Filosofi Rias dan Busana

Perias paes dalam pertunjukan ini adalah KRAT. Hartoto Budoyonagoro (Hartoto), perias paes di keraton Solo. Dalam pertunjukkan ini Hartoto memperagakan cara merias paes secara sederhana. Sembari merias Esthi, Pak Har juga menjelaskan filosofi dari rias paes¸ dimulai dari hiasan kepala (cunduk mentul) yang jumlahnya memiliki filosofi.  “Jumlah 7 dari cunduk mentul artinya itu bahwa manusia hidup harus memiliki tujuan, sedangkan jumlah 9 mengartikan bahwa kita sebagai manusia yang memiliki 9 lubang harus menggunakannya dengan baik.” jelas Hartoto.

Hartoto juga menjelaskan bahwa paes seringkali dikaitkan dengan hal-hal mistis, namun hal tersebut tidak benar. Dirinya sendiri mengaku bahwa tidak pernah bersangkutan dengan jin untuk merias pengantin. Sebelum merias pengantin dirinya selalu berpuasa, namun bukan untuk hal-hal mistis.

Baginya puasa dilakukan bukan untuk bersekutu dengan jin, tetapi untuk menghilangkan segala rasa lelah, ingin marah, dan hal-hal buruk lainnya. Tidak hanya perias, Hartoto seringkali meminta keluarga beserta pengantin juga ikut berpuasa sebelum menjalankan prosesi pernikahan, agar mampu menahan marah dan menguatkan batin.

Selain paes, Hartoto juga menjelaskan bahwa riasan dalam pernikahan adat jawa memiliki filosofi dari rambut hingga ujung kaki. Untuk pakaian sendiri, terbagi menjadi ‘Basahan’ dan Solo Putri. Busana Solo Putri hanya meniru Garwo Prameswari, dimana wanita yang menggunakan busana ini diharapkan akan tampak seperti permaisuri yang selalu disegani dan serba kecukupan. Untuk busana ‘Basahan’ dari kepala hingga ujung kaki juga memiliki filosofi.

Untuk pakaian laki-laki disebut dodot konco, dimana memiliki filosofi bahwa ketika sudah menikah diharapkan tidak bergonta ganti pasangan. Busana ‘Basahan’ tidak boleh digunakan oleh kaum non-keraton dan memiliki prosesi khasnya sendiri. Basahan mulai digunakan di luar Keraton ketika Hartoto membawanya ke luar.

Untuk mengetahui lebih lanjut, kami juga mewawancarai Mamuk Rohmadona (Mamuk) perias paes Jogja. Dirinya mengatakan bahwa paes Solo dan Jogja berbeda, mulai dari bentuk sampai filosofi yang terkandung di dalamnya. Paes Solo di bagian kening cenderung memiliki bentuk bulat (tumpul), sedangkan paes Jogja cenderung berbentuk runcing (tajam) seperti daun sirih.

Bentuk paes yang meruncing ini memiliki makna bahwa pernikahan tetap runcing (tajam). Sama halnya dengan rias, busana Jogja dan Solo juga berbeda. Untuk busana, adat Jogja menggunakan jarik berwarna hitam atau putih, sedangkan Solo berwarna coklat. Motif jarik pun berbeda, untuk adat Jogja biasanya saat midodareni menggunakan kain wahyu tumurun dimana memiliki filosofi ‘wahyu’ akan datang pada saat malam midodareni. Sedangkan saat resepsi mempelai akan menggunakan motif sidomukti, diharapkan pengantin menjadi jaya dalam pernikahannya.

Untuk Himpunan Ahli Rias Pengantin (HARPRI) Solo dan Salatiga sendiri masih menggunakan prosesi dengan busana basahan. Di akhir wawancara, Hartoto memberikan pesan kepada perias paes maupun Make Up Artist yang hendak mempelajari paes, “Kamu harus tau, walau sedikit atau sekecil apapun filosofi Jawa, jangan melepas akar tradisi paes manten”.

 

Tulisan oleh : Tri Sasanti, Anggota Redaksi, Mahasiswi F.Psi 2017

Redaktur : Ella Surya, Pemred SA 19/20, Mahasiswa F.psi 2017

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas