Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Kami bukan Monyet!

Rubrik Humaniora oleh

Dari semalam (18/08), memantau sosial media Instagram, banyak kaum milenial menyuarakan aksi online mereka dengan membuat instastory ilustrasi “Kami bukan Monyet” salah satu karya anak bangsa yang sempat menghebohkan. Bukan hanya itu, seruan “Monyet cari ilmu di rumah manusia, manusia cari makan di rumah monyet” sukses ikut meramaikan. Setelah mencari, membaca dan menelaah beberapa berita barulah saya mengetahui titik merah permasalahan ini.

Masalah ini memuncak sejak (17/08) lalu, dimana hari itu aparat keamanan mendobrak asrama Papua Barat di Surabaya dan meringkus 42 mahasiswa yang tinggal disana. Dua hari sebelum kejadian tersebut, para mahasiswa tidak bisa keluar dari asrama mereka, mengutip dari Vice Indonesia.

“Hei, anjing, babi, monyet, keluar lo! Kalau berani, hadapi kami didepan,” maki TNI pada mereka saat melakukan pendobrakan pintu asrama.

Kejadian ini dipicu oleh adanya salah satu bendera merah putih yang patah dan masuk kedalam parit, diduga mahasiswa Papua menjadi pelaku insiden tersebut.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Polres Surabaya hal itu tidak terbukti dilakukan oleh mereka (42 mahasiswa Papua). Terbukti tak bersalah, 42 mahasiswa tersebut dilepas. “Dari hasil pemeriksaan, mereka mengaku tidak mengetahui, maka kami sementara pulangkan mereka ke asrama yang bersangkutan,” ujar Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Sandri Nugroho, diambil dari CNN Indonesia.

Namun, hal ini berkontradiksi dengan pernyataan yang dikeluarkan tadi  oleh Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dimana menurutnya mahasiswa-mahasiswa itu dievakuasi untuk menghindari adanya bentrok antar mereka dengan masyarakat sekitar, yang memang awalnya masyarakat mengepung asrama mahasiswa Papua karena terprovokasi akan perusakan bendera merah putih, mengutip Detik.

Merespon aksi aparat yang mendobrak asrama, walaupun tidak ada mahasiswa yang ditangkap,  demonstrasi tak bisa dielakkan. Beberapa kota di Papua dan Papua Barat misalnya, warga mulai merusak beberapa fasilitas umum, seperti bandara Edward Osok di Sorong, gedung DPRD di Manokwari, dan juga turunnya masa dibeberapa titik jalan kota-kota tersebut. Bukan saja gedung-gedung yang rusak, pohon-pohon pun jadi korban. Adanya ban yang dibakar, spanduk, bahkan poster yang menuliskan “kalau kami monyet, jangan paksa monyet kibarkan merah putih,” menghiasi aksi demo ini. Masih mengutip tirto.id, aksi demonstrasi ini merupakan bentuk kekecewaan maupun penyesalan masyarakat Papua terhadap negara, ucap Mikael Kudiai.

Bahkan, sebelum masalah ini memuncak, ternyata kekerasan yang dilakukan oleh pihak berwajib telah terjadi dibeberapa kota, seperti di Malang, Semarang, Ambon dan juga Ternate. Padahal kegiatan yang dilakukan merupakan aksi damai untuk memperingati adanya perjanjian New York, mengutip dari vice.id.

Dari aksi ini, tentu saja ada korban berjatuhan, totalnya mencapai 12 orang luka berat dan lainnya luka ringan. dari aksi-aksi ini mereka mengeluarkan aspirasi yang ujungnya mengarah pada kemerdekaan Papua. Namun izin tersebut tidak diberikan, seru Kapolres Kota Malang,  AKBP Asfuri kepada Detik.

Menurut Tito Karnavian, selaku Kapolri kejadian yang terjadi di Surabaya dan Malang ini merupakan peristiwa kecil, namun ada saja oknum yang memicu kerusuhan besar terjadi lagi. Oknum inilah yang menyebarkan hoax di media sosial, ditujukan pada mahasiswa Papua dengan isi yang menyebutkan adanya satu mahasiswa Papua yang tewas di Surabaya, padahal nyatanya tidak, dikutip dari CNN Indonesia.

Muncul hoaks mengenai ada kata yang kurang etis dari oknum tertentu. Ada juga gambar seolah adik-adik kita dari Papua meninggal. Ini berkembang di Manokwari kemudian terjadi mobilisasi massa,” pungkas Tito.

Masalah pernyataan tentang monyet ini pun, ternyata sudah ada sejak jaman Soeharto dulu. Soeharto terang-terangan dipanggil monyet oleh Jenderal Gatot Subroto, tak bisa marah, Soeharto hanya bisa terdiam dan tidak sakit hati. Soalnya, Soeharto dan Gatot sendiri sama-sama bertugas di Jateng. Bukan hanya Soeharto, Gatot juga sering memanggil bawahannya dengan panggilan monyet, sebagai bentuk keakrabannya dengan mereka. Namun, tak semua suka dipanggil begitu. Sebut saja Roeslan Abdulgani, sebagai PLT Presiden Indonesia setelah Soekarno.

“Nanti kamu akan diminta Bung Karno menggantikan Yamin. Monyet, jangan sampai nolak, ya,” kata Gatot kepada Ruslan.Namun untuk menengahi kejadian tersebut, A. Yani bilang pada Roeslan bahwa panggilan itu tandanya Gatot suka padamu, jadi janganlah kamu marah. Malah, kalau tidak senang ia akan bilang paduka yang mulia pada orang tersebut.

Kata monyet sendiri memang sudah lekat di Indonesia sejak dulu, lantaran hewan monyet dekat dengan tentara. Bukan saja dekat dengan manusia, monyet juga merupakan julukan bagi para taruna di Akmil Magelang. Bahkan ada julukan pos monyet, dimana salah satu pos jaga Belanda disebut jaga monyet. Bukan tanpa sebab, jaga monyet merupakan sebutan untuk para tentara yang tidak mempunyai kesibukan lain selain menjaga monyet yang kebetulan ada di pohon-pohon besar sekitar pos mereka.

Dari kejadian ini, @moppapua ingin mendengar perasaan yang dirasakan oleh orang-orang, bukan saja masyarakat Papua tapi masyarakat di seluruh penjurur nusantara ini. dalam postingan dengan ilustrasi “Kami bukan Monyet” itu, admin menuliskan, “Mari ceritakan, apa yang kalian pikirkan… jang tanya pace min su rasa k belum, sungguh mati terlalu banyak rasa, sampai su tidak bisa berkomentar apa-apa,” di akhir postingan admin berharap semua cerita, perasaan, kesedihantidak hanya disimpan dalam diri, serta ia mengajak 208 ribu followersnya untuk bisa saling mengerti keluh, kesedihan serta keinginan masing-masing.

“Tak bisa berkata apa-apa lagi. Berantakanlah sudah ibu pertiwi. Ada beberapa makhluk di dunia ini yang begini. Dia yang menghina, tapi merasa dihina. Dia yang menyakiti, tapi merasa paling tersakiti, dia yang menyakiti, merasa paling tersakiti. Dia yang munafik, tapi merasa paling sok suci. Keadaan Indonesia lagi tidak baik, berusahalah untuk saling mendamaikan. Indonesia bukan milik satu golongan, satu suku, satu agama, atau satu budaya. Indonesia itu milik kita. Jadi, jangan menjadi penghancur bangsa yang membesarkan kita!!. Jika dia mengatakan orang Papua monyet, berarti dia sudah menghina kita semau termasuk dirinya, karena Papua saudara sebangsa dan setanah air.” Salah satu komentar yang ditulis @ve_hutajulu dengan likes sebanyak 16. Diakhir komentar, ia menambahkan, mungkin manusia-manusia itu terlalu banyak minum kaporit.

Redaktur: Delaneira Timothea. Mantan PU SA 2018/2019

Penulis: Christiani Karisma M. Habis masa jabatan pemred kemarin

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas