Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Aksi Damai Mahasiswa Papua Salatiga: Lawan Rasisme!

Rubrik Berita/Humaniora/Kampus/Nasional oleh

“Sa tidak akan berhenti berbicara untuk sa punya mama-mama.”

Kamis siang (22/8) sekitar 50 mahasiswa UKSW asal Papua terlihat melakukan long march berkeliling mengitari kampus UKSW Diponegoro. Sembari long march, massa melantangkan nyanyian bertema pembebasan Papua. Usai long march mereka berkumpul di depan pagar kampus dan menggelar aksi mimbar bebas, sebagai respon kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua di Malang, Surabaya, dan Semarang.

Pada aksi hari itu, mahasiswa Papua berdialog dan membagikan lembaran aksi kepada mahasiswa maupun orang yang lewat di depan pagar masuk UKSW.

Lembaran Aksi

“Kam (kamu –red) sudah bilang minta maaf. Sayang, kam sudah bilang minta maaf berapa kali, di Jogja kam bilang kita monyet, tahun kemarin Persipura lagi monyet,” ujar salah satu mahasiswa Papua dalam orasi tersebut.

Tindakan rasis terhadap orang Papua sudah dilontarkan beberapa kali. Puncaknya, pada saat kejadian yang terjadi di Surabaya, 16 Agustus 2019, pengepungan asrama Kamasan Papua oleh TNI, Polri, Organisasi Masyarakat (ormas) dan Satpol PP yang melontarkan istilah “monyet” kepada penghuni asrama. Pengepungan dilakukan dengan dugaan perusakan bendera merah putih, namun hal ini tidak terbukti secara konkret. Mengutip dari tirto.id, setelah drama pengepungan tersebut, Polisi tidak bisa membuktikan perusakan tiang bendera. (Polisi Gagal Mengatasi Rasisme di Asrama Mahasiswa Papua)

Mereka juga menyampaikan penyesalan mereka terhadap beberapa media massa Indonesia yang memberitakan keadaan yang tidak sesungguhnya terjadi di Papua. “Jangan percaya TV online (media daring), TV One ada kasi keluar ini (berita –red). Papua tenang-tenang, tidak ada. Itu permainan media. Kita masyarakat kecil tertindas, itu kita juga, artinya kita korban,” ucap seorang mahasiswa Papua berjas almamater UKSW. Setelah itu juga mereka menolak permintaan maaf yang sudah dilontarkan oleh pejabat-pejabat melalui media massa. Selain itu, massa aksi juga menuntut untuk menarik kembali pasukan TNI yang diturunkan di Manokwari dan Sorong.

Di dalam orasi juga meminta untuk mencari dan mengadili para pelaku penyerangan aksi mahasiswa yang ada di Malang dan Surabaya sesuai dengan hukum yang berlaku. Dalam kerumunan mahasiswa aksi juga membawa poster yang bertuliskan kebebasan jurnalis dalam memberitakan kejadian-kejadian yang terjadi di Papua, serta menyampaikan tentang pelanggaran-pelanggaran HAM yang tidak diketahui publik.

Dalam orasi mereka juga menyatakan sikap yang disampaikan dan ditulis di dalam selembaran yang disebarkan, total tuntutan berjumlah delapan poin sikap, yang salah satunya menyatakan “Hentikan rasisme! Manusia Papua bukan Monyet”. Pada akhir kegiatan, mahasiswa Papua juga mengucapkan terima kasih kepada UKSW karena memperbolehkan dilakukannya mimbar bebas dan memberikan wadah untuk menyalurkan aspirasi mereka kepada publik di Salatiga.

Michael Koba: UKSW Berikan Rasa Aman kepada Mahasiswa Papua

Pada 20 Agustus 2019, ada pertemuan antara Andeka Rocky Tanamaah, Pembantu Rektor 3 (PR3), dengan Himpunan Mahasiswa Papua Barat (Himpar) Salatiga di BU UKSW, yang membahas tindakan represif aparat dan ormas di Surabaya, Malang, Semarang, Makassar, Ternate dan Ambon sepanjang 15-19 Agustus 2019.

Dalam pertemuan itu, Michael Koba, Ketua Himpar Salatiga, mengatakan bahwa aksi yang akan dilakukan adalah untuk menanggapi rasisme yang dialami oleh mahasiswa Papua dan menyampaikan pesan kepada publik bahwa rasisme tidak diperbolehkan di dunia mana pun. Menurutnya, efek dari rasis itu sangat berdampak buruk sehingga dapat mereka rasakan sampai saat ini.

Michael juga mengharapkan adanya tindak lanjut terhadap oknum-oknum ataupun pelaku yang mengujarkan rasisme, agar segera diselesaikan dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. “Dan itu membuat kami puas”, ujarnya.

Michael juga berpendapat bahwa UKSW sudah memberikan rasa aman kepada mahasiswa Papua, serta mau membuka ruang diskusi bersama. Menurutnya, perasaan aman dan ruang diskusi seperti di UKSW ini tidak ditemuinya di kampus-kampus lain.

 

Tulisan oleh :

Gilbert Inoca Mallin, Anggota Redaksi SA, Mahasiswa Fakultas Hukum

Alexsander Herdiyan, Wartawan Senior SA

Redaktur : Arya Adikristya, Redaktur Senior SA

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas