Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Mahasiswa UKSW dalam Aksi Semarang

Rubrik Kampus oleh

Selasa (24/9) sejumlah mahasiswa yang ada di Semarang melakukan aksi mosi tidak percaya terhadap rancangan undang-undang yang dianggap bermasalah. Mahasiswa turun dan mengepung kantor DPRD Semarang menyuarakan tuntutan-tuntutan. Dalam aksi itu mahasiswa UKSW tidak kalah eksis untuk menyuarakan suara mereka.

Pergerakan mahasiswa Semarang ini merupakan undangan dari Lembaga Bantuan Hukum Semarang yang mengajak mahasiswa untuk turun ke jalan dalam menyuarakan aksi terhadap rancangan undang-undang yang bermasalah. SA mendapatkan keterangan dari HAP yang merupakan salah satu peserta aksi, ia mengatakan bahwa pergerakan ini memang merupakan inisiatif  beberapa mahasiswa dan mendapatkan ajakan dari salah satu universitas di Semarang dikoordinatori oleh LBH Semarang.

KAMI PAKAI ALMAMATER KARENA KAMI MAHASISWA

HAP menceritakan awalnya hanya ada lima orang yang berkeinginan untuk mengikuti aksi tersebut “Malam itu kami langsung cari anggota, bikin grup banyak yang gabung” malam sebelum keberangkatan mereka berkumpul dan membahas masalah teknis, salah satunya adalah penggunaan almamater, pertimbangan awalnya tidak usah menggunakan almamater “tidak usah pakai almamater, bawa diri pribadi saja, toh dari kampus tidak memperbolehkan juga nantinya pakai almamater terus ketahuan, kita kenapa-kenapa di sana, kampus kemudian tidak bisa back up, terus kenapa-kenapa di kampus juga kena sanksi gara-gara penggunaan almamater” ucap HAP, namun semua setuju untuk menggunakan almamater dan siap menerima konsekuensi dari pihak rektorat, “biar kelihatan mahasiswanya” respon dari peserta aksi lainnya.

Rombongan peserta aksi dari UKSW yang berjumlah lebih dari 100 mahasiswa berkumpul di Korpri pada pukul 07.00 WIB kemudian berangkat bersama, sesampai disana rombongan tersebut disambut hangat oleh peserta mahasiswa aksi lain. Kegiatan aksi berlangsung hingga pada pukul 13.00 WIB dengan agenda menyampaikan mosi penolakan terhadap rancangan undang-undang yang dibuat oleh pemerintah pusat.

Atribut berupa tulisan-tulisan juga dipertunjukan dalam aksi. “Dewan Pemerkosa Rakyat” merupakan salah satu banner yang mereka bawa dari Salatiga dan beberapa tulisan tentang penolakan RUU yang ditulis pada kertas karton.

Terkait esensi, HAP juga mengatakan bahwa semua mahasiswa tahu alasan-alasan kenapa mereka turun kejalan, “dasarnya kami datang kesana semua orang sudah tahu lah mahasiswa juga tahu lah, esensi kami datang kesana bukan cuma mau rusuh, jiwa kita rame-rame disana tanpa tahu atas dasar apa menyuarakan, semua orang tahu lah dan kau juga tahu kan? Apa yang terjadi di pemerintahan pusat mengeluarkan undang-undang yah gimana” ucap HAP kepada wartawan SA.

Kemudian HAP mengatakan  bahwa pemahaman mahasiswa terhadap demo itu salah, “kebanyakan mahasiswa sekarang jarang demo, beda dengan pada masa tahun 90an, dan tidak mengetahui agenda dalam demo seperti apa, yang mereka tahu mahasiswa demo, rusuh atau tidak merusak fasilitas negara, padahal kita demo bawa tulisan loh, kita demo ke kantor DPRD dan kantor Gubernur itu bawa tulisan, tulisanya merupakan tuntutan kami yang itu nanti akan dibawakan ke pemerintah pusat terhadap rancangan undang-undang ini, jadi kami tidak Cuma teriak-teriak kayak orang gila disana, ada yang kami bela” ungkap HAP.

Aksi di hari itu juga disertai dengan pendobrakan gerbang kantor DPRD Semarang, para mahasiswa aksi pada waktu itu memang berencana untuk  bertemu langsung dengan ketua DPRD serta Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang kebetulan berada di gedung kantor DPRD. Puncaknya adalah sekitar jam 12 siang, jaringan sempat hilang ungkap HAP. Kemudian orator meminta peserta aksi untuk memeriksa handphone masing-masing jikalau ada jaringan.

Karena menuggu lama, massa aksi meminta untuk mengaktifkan kembali jaringan serta dipertemukan langsung dengan Ketua DPRD Semarang dan Ganjar Pranowo. Perobohan gerbang hanya memang keinginan massa aksi untuk medobrak, tidak untuk bertindak anarkis dan masuk ke dalam gedung DPRD. Di belakang gerbang DPRD telah disiapkan dua water cannon serta personel polisi. Orator aksi mengkoordinir rekan massa aksi untuk tidak sampai masuk ke dalam. Jadi setelah perobohan, massa aksi berhenti pada gerbang depan yang sudah dirobohkan dan menunggu reaksi dari dalam gedung.

Selang setelah itu, Ganjar Pranowo langsung bertemu dengan massa aksi kemudian mengambil tempat pada mimbar orator dan menyampaikan sepatah kata kepada mahasiswa. Ganjar juga sudah menyiapkan tempat untuk perwakilan mahasiswa berdiskusi di dalam gedung, namun massa menolak dan membacakan mosi tuntutan. Di akhir, mosi diterima oleh Ganjar dan akan dibawa ke Jakarta, kemudian ditandatangani olehnya selaku Gubernur Jawa Tengah bersama dengan Wakil DPRD Semarang, Sukirman dan Kapolda Jateng, HAP juga mengatakan bahwa Ganjar masih mempertimbangkan beberapa mosi tuntutan.

Penandatanganan Berkas Tuntutan oleh Ganjar Pranowo

Terkait beberapa tulisan saat aksi yang nampak dibawa oleh mahasiswa dari UKSW dimana berisikan kata-kata yang menghina pemerintah, HAP mengklarifikasi bahwa tulisan tersebut bukan tulisan yang mereka bawa dari salatiga, melainkan tulisan tersebut dibawa oleh universitas lain. HAP juga mengatakan bahwa sebenarnya banyak dari mahasiswa UKSW ingin ikut dalam aksi namun tidak mendapatkan izin sehingga mengurungkan niat.

HAP juga mempunyai harapan bahwa organisasi kampus (Lembaga Kemahasiswaan) ikut menyuarakan aksi terhadap isu yang sedang terjadi saat ini, dia juga mengatakan bangga jika organisasi kampus ini seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang ada di universitas lain seperti UI, Trisakti dan UGM yang mampu menyuarakan suaranya sampai masuk kedalam pemerintahan dan stasiun-stasiun televisi, kemudian juga dia mengatakan bahwa UKSW merupakan Indonesia mini, tapi tentang masalah Indonesia tidak ada respon sama sekali.

 

Tulisan oleh : Gilbert Inoca Mallin, Anggota redaksi SA

Redaktur : Delaneira, KaLitbang SA

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas