Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Salatiga Menolak Diam!

Rubrik Berita/Humaniora oleh

 

“… Ketika melihat masalah-masalah kemudian disuarakan, jiwa-jiwa itu terpanggil … Menurut kami, aksi ini jadi salah satu wadah untuk menyampaikan aspirasi bagi jiwa-jiwa yang resah.” ungkap Ade Sonia Chintia Lobo (Sonia), selaku Sekretaris Cabang GMKI Salatiga, Jumat (27/09/2019). 

 

Salatiga – Aksi Salatiga Bergerak berlangsung pada Jumat (27/9), pukul 15.00 WIB. Massa aksi berkumpul di depan kampus utama Universitas Kristen Satya Wacana lalu berjalan menuju Bundaran Kota Salatiga. Berbagai elemen masyarakat ikut tergabung dalam aliansi Salatiga Bergerak yang digawangi oleh Gerakan Mahasiswa Kristen (GMKI) Salatiga. 

Munculnya aksi ini berangkat dari keresahan masyarakat, khususnya mahasiswa, mengenai beberapa hal, yakni kemanusiaan di Papua, kebakaran hutan dan lahan, RUU – KUHP, dan tindakan represif aparat keamanan.

“… Sudah banyak sekali para demonstran yang berjatuhan. Kenapa masalah itu tidak mau diselesaikan secepat mungkin? Kenapa harus menunggu banyak demonstran yang jatuh begitu, baru mengambil sikap? Itu yang disayangkan…” ucap Ade Sonia. Dirinya juga menambahkan bahwa GMKI cabang Salatiga ingin agar keresahan-keresahan masyarakat terus disuarakan agar suara tersebut tidak tenggelam. 

Komunitas yang juga ikut bergabung dalam aksi ini, antara lain Gerakan Nasional Mahasiswa Indonesia (GNMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Komunitas Anak Bulan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Komunitas Punk, Pers Mahasiswa IAIN, PMII, dan masih banyak lagi.

Sebelum aksi ini, ternyata GMI sudah melakukan konferensi pers untuk menyatakan sikap atas kasus pelanggaran HAM di Papua pada Kamis (26/9) lalu. GMKI juga melakukan aksi melalu orasi dan juga pembacaan puisi. 

Sepanjang jalan dari UKSW menuju bundaran, massa aksi menyanyikan lagu-lagu nasional diselingi dengan orasi sembari terus meneriakkan “Hidup Mahasiswa! Hidup!”. 

Ketua Cabang GMKI Salatiga, Roberto Duma Buladja, dalam orasinya menyampaikan keresahan-keresahan mengenai tindakan yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat Papua, beberapa wilayah di Indonesia yang terbakar dan kegagalan pemerintah dalam menindak tegas pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, serta RUU KUHP dan RUU PKS yang menurutnya sudah membungkam kemerdekaan. Selain itu, ia juga menyinggung tindakan represif dari aparat terhadap demonstran di wilayah lain.

Dalam wawancara, dirinya mengharapkan agar momentum ini dapat dimanfaatkan untuk membangunkan kembali mahasiswa salatiga yang sudah lama bungkam supaya kembali angkat suara.

GMKI menginisiasi sehingga diharapkan momentum yang besar ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membangunkan ‘singa’ mahasiswa salatiga yang sudah lama tertidur,” tandas Roberto Duma. Menyambung kembali, menurutnya, ini menjadi awal untuk menggali kembali keresahan yang sudah terkubur dalam.

seolah orasi tak cukup didengarkan, mahasiswa membawakan beberapa puisi untuk meneriakkan suara mereka akan gentingnya kondisi Indonesia saat ini.

Dalam puisinya, Koordinator Lapangan, Triwiningsi Anamaka,  ingin menyampaikan rasa kemanusiaan kepada saudara-saudara di Papua.

Lebih kepada rasa kemanusiaan dengan saudara-saudara di Papua. Kemanusiaan di sana cukup memprihatinkan sehingga harapannya kemanusiaan di sana bisa ditegakkan,” jawab Triwiningsi ketika ditanyai mengenai puisi yang dibawakannya.

“Mahasiswa, kita jangan bungkam! Kita sudah terlalu lama bungkam. Sudah terlalu lama diam. Sudah terlalu lama di zona nyaman…” ucap salah seorang peserta aksi, Rismanto sebelum membacakan puisi “Waktu” karya Anwari W. M. K. Ia juga menyampaikan bahwa tidak ada yang lebih penting daripada kemanusiaan. 

Seusai pembacaan orasi dan puisi di Bundaran Kota Salatiga, massa aksi kembali ke titik kumpul sembari menyanyikan lagu nasional dan membawa lilin yang sudah dinyalakan.

Untuk tindak lanjutnya, Sonia mengatakan bahwa nanti pihak GMKI akan mencari cara untuk dapat terus mengawal, agar Salatiga Bergerak tidak hanya sebagai aksi namun juga memberikan dampak.

Penulis: Ella Surya, Pemimpin Redaksi SA 2019/2020. Mahasiswi FPsi

Redaktur: Christiani Karisma M.

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas