Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Cafetaria Pasca Zonasi

Rubrik Berita/Kampus oleh

Kebijakan zonasi rokok tak terasa sudah empat bulan berjalan, para mahasiswa dan pemilik warung mulai terbiasa dengan situasi cafetaria yang baru. Cafetaria pasca zonasi memiliki perbedaan yang terlihat mencolok, yaitu sepinya pengunjung yang berakibat pada menurunnya pendapatan para pemilik warung. Tak tanggung-tanggung, angka penurunan tersebut mencapai 50% lebih.

Mahasiswa yang terbiasa nongkrong baik pagi, siang, maupun sore kini berkurang drastis bak hilang ditelan bumi. Mereka tak betah untuk berlama-lama di cafetaria, sebatas datang, membeli makanan, dan merokok di selasar cafetaria untuk waktu singkat. Nongkrong untuk ngobrol lama, bercengkrama dan bergurau dengan pemilik warung, bahkan mengerjakan tugas tak lagi dilakukan di cafetaria, semuanya karena satu alasan yakni ditempelnya poster larangan merokok pada 2 Agustus lalu.

Senin (25/10) siang hari, ketika ditanya bagaimana kerugian yang ditanggung seusai zonasi diterapkan, seluruh pemilik warung berargumen sama, diakui pendapatan kian menurun. Ini jelas menjadi beban, karena pendapatan berkurang namun biaya sewa warung yang harus dibayar adalah tetap.

“Saya sebagai penjual, pendapatan saya menurun drastis. Mahasiswa yang biasanya merokok sudah gak beli rokok di sini lagi. Dulu anak-anak yang merokok itu beli nya di sini, lalu beli kopi sama jajan buat nongkrong lama, tapi sekarang mereka jarang nongkrong dan jajan apalagi makan di dalam, kan kafe jadi sepi.” Tutur Harni salah satu pemilik warung di cafetaria.

Namun, ketika ditanya bagaimana keberpihakan para pemilik warung terhadap kebijakan zonasi, mayoritas dari mereka mengaku setuju dengan kebijakan tersebut meski tidak ada sosialisasi maupun pemberitahuan sebelumnya terkait zonasi yang akan diterapkan di cafetaria tersebut.

Keberpihakan itu beralaskan pada kesehatan yang bisa diperoleh akibat tidak adanya lagi asap rokok yang mengebul di dalam cafetaria, mereka mengaku lebih baik dan rela pendapatan berkurang yang penting kesehatan terjaga. 

Salah satu pemilik warung juga menyebutkan, pimpinan atas akan menyiasati penurunan omset penjual dengan membangun lantai dua cafetaria untuk nantinya akan difokuskan mana bagian yang legal asap dan illegal asap. Namun, tak semua pemilik warung mengetahui isu ini. 

Perbedaan lainnya adalah pengunjung cafetaria yang kini mayoritas adalah mahasiswi. Mereka yang menghiasi situasi di dalam cafetaria pasca zonasi, yang menggantikan para mahasiswa yang dulunya terbiasa nongkrong dan merokok.

Tulisan Oleh : Mulia Budi, Wartawan Scientiarum. Mahasiswi Fiskom angkatan 2017

Redaktur : Delaneira, Kalitbang Scientiarum. Mahasiswa F.Psi 2016

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas