Impotensi Mahasiswa dan Mistifikasi Agen Perubahan

Rubrik Opini oleh

Mahasiswa adalah budak-budak yang sabar: di mana semakin banyak rantai otoritas mengikat mereka, semakin mereka merasa bebas.

–  Situasionist International, Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa

 

Situasi nasional yang sempat memanas beberapa saat lalu akibat penolakan terhadap rancangan KUHP berimbas juga di Salatiga khususnya mahasiswa UKSW. UKSW boleh dibilang punya sejarah pergerakan yang cukup progresif. Namun dari masa ke masa, kultur gerakan mahasiswa UKSW mulai redup. Imbasnya adalah bagaimana generasi mahasiswa UKSW sekarang menjadi terputus dengan kultur dan sejarah gerakan mahasiswa di kampus ini, ya walaupun tak semua mahasiswanya menjelma menjadi sosok apolitis bin apatis.

Pecahnya demonstrasi di berbagai kota pada Oktober 2019 lalu, menjadi semacam pemantik bagi gerakan mahasiswa di Salatiga. Tapi di tengah isu yang kian memanas, dekadensi dalam gerakan masih saja melekat pada lembaga mahasiswa di kampus ini layaknya nikotin yang menghitam di paru-paru. Terlihat dari unggahan di sosial media tentang bagaimana sikap mereka terkait isu RKUHP. Kolom komentar pun ramai dengan cibiran. Bagaimana tidak? di saat banyak mahasiswa menentukan sikap turun ke jalan, para wakil mahasiswa ini masih sibuk perihal esensi dan tak mau keluar dalam kubangan alienasi mereka. Tetap nyaman berenang dalam comberan elitisme dengan terus menopengi omong kosong soal demokrasi perwakilan dengan ilusi-ilusi yang glamor dan elegan. Memilih jalan aman yang tetap mempertahankan zona nyaman mereka, khas aktivis online yang berkhayal soal perubahan sosial lewat petisi, tanpa keterlibatan masyarakat secara nyata dan langsung. Hal ini juga disebabkan oleh lembaga mahasiswa dan juga banyak mahasiswa lain yang gagal menyadari bagaimana sistem pendidikan di era kapitalisme modern telah mereduksi daya revolusioner para mahasiswa, yang pada akhirnya menjadikan mereka hanya sekedar kader-kader yang patuh tanpa ideologi yang jelas, lalu sebagai kompensasi atas ketidakjelasannya, para mahasiswa dengan aktif menghiasnya dengan berbagai ilusi yang disajikan sistem dengan segala imajinya, mengubah segala yang nyata menjadi sekedar citra.

Selain itu, lembaga mahasiswa kita ini juga gagal memahami potensi apa yang ditimbulkan dalam aksi turun ke jalan dan miskin dalam sudut pandang revolusioner tanpa bisa memberikan tekanan yang berarti pada kebijakan. Pun alternatif yang mereka ajukan hanya akan melanggengkan keterpisahan mahasiswa dengan masyarakat di tengah jurang alienasi yang kian lebar dan hanya menjadikan gerakan mahasiswa semakin ekslusif.

Sejatinya, aksi turun ke jalan bukan hanya soal huru-hara demonstrasi atau ajang selfie disertai adu jargon paling unik yang nantinya diunggah di sosial media. Tidak, aksi turun ke jalan adalah momen dimana  mahasiswa bisa membaur bersama masyarakat dari kelas sosial yang berbeda, menghancurkan batasan kelas dan bersatu dalam satu barikade yang setara.

Kegagalan dalam melihat potensi aksi massa sekali lagi adalah imbas dari kultur pendidikan yang terdegradasi dalam roda produksi kapital dan universitas yang secara umum hanya menjadi semacam pabrik yang memproduksi mahasiswa secara masal, yang sejalan dengan kebutuhan pasar layaknya minuman bersoda di pojokan mini market. Akhirnya menjadikan mahasiswa sebagai anak yang patuh, yang tak sadar akan belenggu otoritas yang mengikat mereka.

Glorifikasi Tiada Henti

Di tengah kondisi lembaga mahasiswa yang impoten, untunglah masih ada beberapa mahasiswa yang mau turun ke jalan dan ikut menginisiasi gerakan menolak RKUHP. Namun mistififikasi dan glorifikasi berlebihan soal mahasiswa sebagai agen perubahan sepertinya sudah jadi penyakit  kronis dalam gerakan. Contohnya pada aksi yang diselenggarakan oleh aliansi Salatiga Bergerak di depan DPRD Salatiga, yang kurang bisa merepresentasikan kelas sosial yang berbeda dan terlalu mengglorifikasi mahasiswa. Misal seruan sumpah mahasiswa yang melulu diteriakan hingga saya sendiri bosan, atau berbagai orasi dari mahasiswa yang lagi-lagi mengglorifikasi mahasiswa sebagai kaum intelek yang harusnya melawan dengan cara intelek pula, yang nyatanya malah menciptakan strata antara mahasiswa dan yang bukan mahasiswa dengan cap intelek macam itu.

Karena kenyataanya, gerakan ini bukan hanya milik mahasiswa, dan partisipan nya pun bukan hanya mahasiswa. Benar memang, inisiator gerakan ini didominasi oleh mahasiswa dari lintas universitas, namun glorifikasi macam ini hanya akan memperlebar sekat antar kelas, antara mahasiswa dan masyarakat, antara yang katanya kaum intelek dan tidak intelek. Sejarah membuktikan bagaimana gerakan yang hanya didominasi mahasiswa tanpa ada keterlibatan langsung dari tiap elemen masyarkat pada akhirnya akan kalah dengan sendirinya. Gerakan rompi kuning di Perancis atau aksi massa di Hongkong bisa menjadi contoh kongkrit bagaimana sebuah gerakan bisa konsisten karena keterlibatan banyak pihak, terutama kelas pekerja.

Karena sejatinya, pada era kapitalisme modern saat ini yang penuh dengan imaji, pemberontakan dan aksi massa hanya akan direduksi sebagai tontonan semata, seperti yang ditulis oleh Mustapha Khayati dan para mahasiswa di Strasbourg : “Setelah para ilmuwan sosial, muncul para jurnalis beserta inflasi verbalnya. Pemberontakan ini diekspos secara berlebihan: kita disuguhi, hingga kita hanya duduk merenunginya dan pada akhirnya kita lupa untuk turut berpartisipasi di dalamnya”. Mahasiswa sebagai inisiator seharusnya bisa melihat permasalahan ini dan berupaya menggaet tiap elemen masyarkat untuk ikut serta secara langsung, karena dampak dari RKUHP akan dirasakan bukan hanya mahasiswa, melainkan seluruh masyarakat. Karena itu, tak perlu susah payah menjadi sosok pembebas, karena setiap orang haruslah bisa membebaskan diri mereka sendiri. Tinggal bagaimana kita dapat memberi alasan dan dorongan agar kebebasan tiap orang terpenuhi oleh diri mereka sendiri.

Terlepas dari kritik saya, ada sisi baik tentang gerakan mahasiswa di Salatiga, adalah bagaimana kultur pergerakan seperti ini mulai muncul kembali, tapi yang paling penting adalah bagaimana menjaga kultur gerakan dalam lingkup mahasiswa tetap berjalan, tidak hanya sebagai trend layaknya konten viral media sosial yang seketika ramai lalu hilang dan terlupakan.

Akhir kata, untuk kalian yang tanpa lelah melemparkan badan ke barisan perlawanan, tegaklah seperti di awal, jangan terpaku dengan gerakan yang lalu, teruslah berproses, karena tidak cukup bagi teori untuk mencari realisasinya dalam praktik sebab praktik harus mencari teorinya sendiri. Sebelum segalanya menjadi kesia-siaan, dan perlawanan menjadi tak berarti, teruslah melaju dalam tatanan yang kian keruh dan berlarilah lebih cepat karena dunia tua membuntutimu dari belakang!

 

Tulisan oleh: Christian Adi Candra, Mahasiswa FISKOM Angkatan 2015

Redaktur      : Vinka Agusta, PU Scientiarum

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*