Pasca Renovasi Alun-Alun Pancasila Salatiga: Nasib PKL Menggantung

Rubrik Berita/Salatiga oleh

Setelah beberapa waktu ditutup, Alun-Alun Pancasila Salatiga pasca renovasi kembali dibuka untuk umum pada Rabu (22/01) lalu. Pembenahan di bawah pengawasan Dinas Lingkungan Hidup ini bertujuan untuk ‘membersihkan’ area alun-alun dari pedagang kaki lima (PKL). Alun-alun yang akrab dipanggil Pansi itu memang sudah lama menjadi lapak pencari nafkah para PKL.

Kini alun-alun sudah terbebas dari PKL dan digantikan dengan fitness center serta fasilitas penunjang lain. Sebagai gantinya, pemerintah memberi tampungan sementara berupa pinggiran trotoar sekitar Pansi. Meski begitu, muncul permasalahan baru yang mengundang keluhan terkait pemindahan ini.

Sepinya pembeli membuat beberapa pedagang memilih untuk menutup lapaknya. Hal ini dialami oleh Gambreng, pemilik angkringan. Dirinya mengaku merugi karena tidak lagi mendapat penghasilan usai renovasi tersebut.

Relokasi sementara lapak PKL di pinggir trotoar sekitar Pansi/ Foto oleh: Putu Saras

Ditambah, Win yang juga merupakan pemilik angkringan sekitar mengungkapkan, lokasi penampungan saat ini lebih terbatas. Pembeli tidak dapat leluasa untuk makan. Tidak ada lagi tempat untuk menggelar tikar dan menikmati makan dengan lesehan. Padahal, lesehan alun-alun sudah cukup lama menjadi pilihan destinasi makan yang khas di Salatiga. Pemindahan lokasi juga berdampak pada menurunnya pendapatan beberapa PKL. Siti, pedagang minuman mengatakan hasil penjualannya menurun. Seringkali ia hanya mendapatkan 50.000 rupiah dalam sehari. Menurutnya penurunan ini disebabkan oleh lokasi penampungan sementara yang kurang strategis.

“Saya mau aja dipindah… tapi mbok ya yang strategis. Tempat buat parkir aja nggak ada gini, mana ada yang mau berhenti buat beli…”, jelas Siti.

Sebelum renovasi, lahan parkir pengunjung berlokasi di dalam area Pansi. Sekarang pengunjung tidak lagi diperbolehkan parkir di lokasi tersebut, sehingga mereka memarkirkan kendaraannya di trotoar seberang. Sedang, area tersebut telah menjadi penampungan sementara bagi PKL. Kurangnya lahan parkir membuat pengunjung enggan untuk mampir di lapak mereka. Kini hanya tersisa beberapa PKL saja yang masih bertahan di penampungan sementara.

Janji Pemerintah Soal Relokasi

Meski pendapatan menurun, beberapa pedagang seperti Siti dan Win memilih menetap di lapak relokasi sementara. Janji pemerintah memberi lokasi pengganti menjadi pegangan untuk bertahan. Ada beberapa tempat yang dijanjikan pemerintah sebagai relokasi. Win meyebutkan, Pasar Ngandong dan Kridanggo kemungkinan akan dijadikan tempat pemindahan, namun belum ada kepastian lagi dari pemerintah terkait pelaksanaan relokasi.

“Katanya mau dipindah ke Pasar Ngandong sama Kridanggo… tapi ya masih wacana… ndak tau kapan itu”, ucap Win.

Hanya bergantung pada pengunjung alun-alun agaknya bukan menjadi solusi untuk kesejahteraan para pedagang. Mereka hanya bisa menunggu tanpa mendapat kepastian dari pemerintah.

 

Tulisan Oleh : Ella Surya

Redaktur       : Vinka Agusta

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*