Gedung UKSW Diduduki Tunawisma

Rubrik Berita oleh

Sejak (7/2) lalu, salah satu gedung milik UKSW yang sempat difungsikan sebagai asrama mahasiswa di jalan Osamaliki Salatiga tampak ditempati lagi. Pasalnya, penggunaan kembali gedung ini diinisiasi oleh Pusat Sosial dan Tunawisma Otonom (PSTO) Bethlehem, yang merupakan jaringan anti-otoritarian bersama para relawan dari Salatiga dan sekitarnya. Saat ini, sejumlah lima tunawisma diketahui telah menghuni gedung tersebut.

“Kami tidak akan lagi membiarkan gedung-gedung layak huni terlantar sementara orang-orang tidur di jalanan,” ujar Aji, salah satu relawan PSTO. Aji menjelaskan bahwa pendudukan ini juga dilakukan di tengah wabah virus Corona dan musim hujan. Beberapa dari para penghuni gedung sebelumnya tinggal di Pasar Andong dan pondok di sebelah RSUD Salatiga. “Pemerintah Kota Salatiga beserta instansi lainnya malah merubuhkan pondok tersebut, membuat para tunawisma menyebar dan menjadi semakin sulit untuk dibantu dan dipantau,” ujarnya.

Relawan PSTO sedang membersihkan dan berkebun di halaman gedung milik UKSW.

Pur Anoyo (53), salah satu pengamen penghuni gedung tersebut menjelaskan, bahwa ia bergabung dalam gerakan pendudukan karena ia menghadapi kesulitan finansial. Dalam sehari Pur harus memberikan setoran sebanyak Rp 95 ribu untuk menyewa peralatan karaoke portable. Belum lagi, Pur tinggal dalam kos yang menetapkan peraturan baru untuk mendenda penghuni kos sebanyak Rp 10 ribu dalam sehari tenggat waktu pembayaran.

“Dalam situasi seperti ini [wabah Corona –red], ya kan jadinya pemasukan saya sepi. Saya langsung mendatangi Bethlehem, bertanya apakah ada kamar kosong di belakang, dan malam itu juga saya langsung tidur di sini,” ujar Pur. Pur bercerita bahwa ia sangat nyaman tinggal di Bethlehem karena ia merasa terbantu. PSTO juga memberikan bantuan dengan membayar lunas seluruh tunggakan yang ditanggung Pur.

Pur mengaku kebingungan harus tinggal dimana dalam kesulitannya saat ini. “Kalau saya, seandainya UKSW menggusur, ya bagaimana, saya tinggal patuh saja,” ujar Pur.  Pur berharap ia bisa tetap bertahan di gedung tersebut meskipun ada penggususuran. “Walaupun digusur, saya tetap mau bertahan”, tambah Pur.

 

Tulisan oleh : Vinka Agusta

Redaktur       : Ella Surya


                    

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*